Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran moral, kisah kenabian, dan penetapan prinsip-prinsip kehidupan. Di antara ayat-ayat yang memberikan landasan teologis yang kuat, **Surat Al-Isra Ayat 68** menonjol sebagai pengingat akan kuasa mutlak Allah atas segala sesuatu, termasuk lautan dan segala isinya. Ayat ini memberikan ketenangan sekaligus peringatan keras bagi umat manusia mengenai ketergantungan sejati mereka kepada Sang Pencipta.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 68
اللَّهُ الَّذِي يُسَيِّرُكُم فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّىٰ إِذَا كُنتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِم بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُواْ بِهَا جَآءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَآءَهُمُ الْمَوْجُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّواْ أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
"Allāhu-lladhī yusayyiru-kum fīl-barri wal-baḥri ḥattā idhā kuntum fīl-fulki wa jarayna bihim birīḥin ṭayyibatin wa fariḥū bihā jā’at-hā rīḥun ‘āṣifun wa jā’ahumul-mawju min kulli makānin wa ẓannū annahum uḥīṭa bihim da’awullāha mukhliṣīna lahud-dīna la’in anjaitanā min hādhihi lanakunanna minash-shākirīn."
"Allahlah yang menjadikan kamu berlayar di daratan dan di lautan, sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan bahtera itu berlayar membawa mereka dengan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, tiba-tiba datanglah badai yang kencang dan gelombang dari setiap penjuru, lalu mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), mereka pun berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya, (seraya berkata), 'Sungguh jika Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.'"
Kekuasaan Allah Meliputi Daratan dan Lautan
Ayat ini dimulai dengan penegasan fundamental: hanya Allah yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan pergerakan manusia, baik di daratan (melalui kendaraan darat atau berjalan) maupun di lautan. Ayat ini secara spesifik menyoroti pengalaman pelayaran, yang pada masa turunnya wahyu merupakan salah satu medium paling menantang dan penuh risiko dalam perjalanan hidup. Penguasaan mutlak Allah ini adalah fondasi tauhid yang harus diimani secara utuh.
Konteks pelayaran sering digunakan dalam Al-Qur'an sebagai metafora untuk perjalanan hidup itu sendiri. Ketika segalanya berjalan lancar—ketika angin bertiup baik dan para pelaut merasa gembira dan aman—manusia cenderung melupakan sumber segala kenikmatan tersebut. Mereka terlena oleh keberhasilan sementara dan kemampuan mereka sendiri dalam mengendalikan kapal. Bagian ini menggambarkan bahaya terbesar yang dihadapi manusia: kesombongan dan kelalaian saat mendapatkan kemudahan.
Pembalikan Keadaan: Badai dan Keputusasaan
Namun, keadaan bisa berubah drastis dalam sekejap. Tiba-tiba, angin baik digantikan oleh badai yang ganas ('rīḥun ‘āṣifun'), dan gelombang datang dari segala penjuru ('al-mawju min kulli makānin'). Situasi ini menciptakan rasa terkepung dan keputusasaan total ('ẓannū annahum uḥīṭa bihim'). Pada titik terendah inilah, di mana semua usaha manusia gagal dan sumber daya duniawi tidak lagi berarti, fitrah keimanan sejati muncul ke permukaan.
Menarik sekali untuk dicatat bahwa dalam kondisi terancam maut, baik mereka yang beriman kuat maupun yang sering lalai, refleks pertama mereka adalah memanggil Allah. Mereka berdoa dengan "mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya" ('mukhliṣīna lahud-dīn'). Kelicinan dan kesombongan duniawi sirna digantikan oleh permohonan tulus memohon keselamatan. Inilah ironi kemanusiaan: seringkali kesadaran akan ketergantungan penuh pada Tuhan hanya terjadi saat kita berada di ambang kehancuran.
Janji Bersyukur dan Pelajaran Moral
Puncak dari ayat ini adalah janji mereka: "Sungguh jika Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur." Janji ini mengandung pelajaran penting. Syukur (syukur) bukanlah sekadar mengucapkan "Alhamdulillah" setelah musibah berlalu, tetapi juga merupakan komitmen untuk mempertahankan keikhlasan yang muncul saat kesulitan. Allah menguji manusia dengan ketenangan (untuk melihat apakah mereka bersyukur) dan dengan kesulitan (untuk melihat apakah mereka kembali kepada-Nya).
Bagi seorang mukmin, Surah Al-Isra ayat 68 menjadi pengingat konstan: bahwa kemudahan yang kita nikmati adalah karunia, dan kesulitan yang kita hadapi adalah ujian yang memaksa kita untuk kembali total kepada Allah. Sikap yang ideal adalah memegang teguh keikhlasan saat senang, sehingga ketika badai datang, kita tidak perlu belajar ulang cara berdoa dari nol, melainkan hanya menegaskan kembali janji yang sudah tertanam dalam hati. Memahami ayat ini membantu kita menjaga keseimbangan spiritual dalam menghadapi pasang surut kehidupan, baik di daratan mapun di lautan kehidupan.