Ketetapan ilahi dan sunnah kauniyah (hukum alam) yang berlaku bagi umat manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak dahulu kala. Salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang menegaskan pola perilaku yang telah berlaku bagi umat sebelum Nabi Muhammad SAW, dan tetap relevan bagi umat setelahnya, adalah Surat Al-Isra ayat 77. Ayat ini berbicara tentang kepastian hukum Allah terkait dengan praktik iman dan penolakan terhadap risalah para rasul.
سُنَّةَ مَن قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِن رُّسُلِنَا ۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا
Artinya: "Sebagai suatu ketetapan yang berlaku bagi rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan Kami." (QS. Al-Isra: 77)
Ayat ini merupakan penegasan fundamental dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad mengenai pola interaksi antara pembawa risalah dan kaum yang didakwahi. Ketika ayat ini turun, Nabi Muhammad mungkin menghadapi penolakan keras atau bahkan ancaman dari kaum Quraisy Mekkah yang merasa terganggu dengan ajaran tauhid yang dibawa. Ayat 77 ini memberikan ketenangan dan kepastian bahwa apa yang beliau alami bukanlah hal baru.
"Sunnah man qad arsalna qablaka min rusulina" (Ketetapan bagi rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu) menegaskan bahwa pola dakwah, perlawanan, dan akhirnya kemenangan atau keteguhan iman selalu mengikuti alur yang sama. Semua rasul menghadapi penolakan dari masyarakat yang tenggelam dalam kesyirikan atau kemaksiatan. Ini menunjukkan bahwa ujian, kesabaran, dan konsistensi dalam menyampaikan kebenaran adalah paket standar dalam kerasulan.
Bagian kedua dari ayat ini, "wa lā tajidu li sunnatinā taḥwīlā" (dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan Kami), adalah inti penekanan yang sangat kuat. Ketetapan (sunnah) Allah dalam memberi ganjaran bagi yang taat dan konsekuensi bagi yang ingkar bersifat abadi dan tidak dapat diubah oleh siapapun, termasuk oleh Nabi Muhammad SAW sendiri.
Ini memiliki implikasi besar bagi umat Islam. Jika Allah menetapkan bahwa keteguhan dalam tauhid akan membuahkan pertolongan dan kemenangan di akhir, maka hal tersebut pasti terjadi. Sebaliknya, jika penolakan terhadap kebenaran terus menerus dilakukan, maka azab atau kehancuran yang menimpa umat terdahulu akan menjadi pelajaran yang relevan bagi mereka yang menolak risalah Nabi Muhammad.
Meskipun konteks historisnya terkait dengan para nabi, ayat 77 Surat Al-Isra ini memiliki resonansi kuat dalam kehidupan umat Islam kontemporer. Ketika seorang muslim berpegang teguh pada prinsip-prinsip kebenaran (Al-Haqq) di tengah arus pemikiran yang menyimpang, ia akan menemukan dirinya berada dalam posisi yang serupa dengan para rasul terdahulu—diuji dan seringkali ditentang.
Memahami ayat ini mendorong seorang mukmin untuk tidak berkecil hati saat menghadapi kesulitan dalam menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Kita diingatkan bahwa sejarah telah mencatat pola ini berulang. Kunci suksesnya bukanlah perubahan pada hukum Allah, melainkan penyesuaian diri kita agar sejalan dengan sunnah tersebut: yaitu konsisten dalam iman, sabar dalam menghadapi kesulitan, dan tawakal penuh kepada janji-Nya. Ketetapan Allah adalah jaminan stabilitas moral dan spiritual di tengah perubahan zaman yang sangat cepat. Kita harus yakin bahwa usaha untuk berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah tidak akan pernah sia-sia, karena janji Allah bersifat pasti dan kekal.