Surat Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Ayat ke-80 dari surat ini mengandung sebuah doa penting yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad ﷺ untuk senantiasa dipanjatkan, khususnya terkait dengan urusan kepemimpinan, kemudahan urusan, dan dukungan dari sisi kebenaran.
Ayat ini seringkali menjadi landasan bagi seorang Muslim ketika menghadapi situasi sulit, membutuhkan keputusan yang tepat, atau ketika memulai sebuah perjalanan (baik fisik maupun spiritual). Memahami teks aslinya serta terjemahan dan tafsirnya sangat krusial untuk mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya.
Ayat 80 Surah Al-Isra ini adalah sebuah doa yang padat makna, mencakup tiga permohonan utama kepada Allah SWT. Permohonan ini bersifat universal, berlaku bagi setiap mukmin dalam setiap tahapan kehidupan mereka.
Dua frasa pertama, "masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar" ($\text{أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ}$) dan "keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar" ($\text{وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ}$), adalah inti dari permintaan ini. Kata 'Shidq' (benar/jujur) dalam konteks ini memiliki cakupan makna yang luas, antara lain:
Permintaan ketiga adalah yang paling spesifik: "dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau pertolongan yang benar (menolong)." ($\text{وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا}$).
Kata 'Sulthanan Nashira' (kekuatan penolong) di sini tidak selalu merujuk pada kekuasaan politik atau otoritas fisik semata, melainkan pada dukungan hakiki dari Allah:
Permohonan ini menegaskan bahwa segala upaya manusia harus didukung oleh kekuatan dan izin dari Allah semata.
Surat Al-Isra ayat 80 mengajarkan kita tentang pentingnya kesadaran akan keterbatasan diri dan ketergantungan penuh kepada Sang Pencipta dalam setiap memulai atau mengakhiri aktivitas. Ayat ini menjadi pengingat bahwa:
Pertama, Niat Harus Lurus. Sebelum melangkah, kita harus memastikan bahwa niat kita—baik itu saat memulai bisnis, belajar, membangun rumah tangga, atau bahkan sekadar bepergian—selaras dengan kebenaran ilahi. Masuk dan keluar yang benar memastikan bahwa prosesnya bersih dari unsur kemaksiatan dan hasilnya membawa manfaat abadi.
Kedua, Jangan Merasa Sendiri. Doa ini selalu ditutup dengan memohon 'Sulthanan Nashira' dari sisi Allah. Ini mengajarkan bahwa keberhasilan sejati tidak datang dari kemampuan pribadi, relasi, atau harta, melainkan dari pertolongan khusus yang Allah berikan. Ketika kita berada di pihak yang benar, Allah menjanjikan dukungan yang tidak akan pernah mengecewakan.
Mengamalkan doa ini secara rutin menanamkan sikap tawadhu (rendah hati) dan menjauhkan diri dari kesombongan, karena kita mengakui bahwa tanpa bimbingan dan pertolongan-Nya, segala usaha kita akan sia-sia. Ayat 80 ini adalah panduan abadi untuk meraih kesuksesan yang berkah, baik di dunia maupun di akhirat.