Surat Al-Isra (atau Bani Israil) adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang kaya akan hikmah, peringatan, dan janji ilahi. Di antara ayat-ayatnya yang padat makna, terdapat ayat 82 dan 84 yang memberikan panduan esensial mengenai penyembuhan spiritual dan penerimaan wahyu Ilahi dalam konteks kehidupan manusia yang penuh tantangan.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidak menambah kerugian kepada orang-orang yang zalim melainkan pertambahan kerugian." (QS. Al-Isra: 82)
Ayat 82 ini adalah penegasan tegas mengenai hakikat Al-Qur'an. Allah SWT secara eksplisit menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah *syifa'un* (penyembuh) dan *rahmah* (rahmat). Kata 'penyembuh' di sini memiliki cakupan makna yang sangat luas. Ini bukan sekadar penyembuh bagi penyakit fisik semata, meskipun banyak umat Islam merasakan kesembuhan jasmani melalui pembacaan dan pengamalan isinya. Jauh lebih mendalam, Al-Qur'an adalah obat penawar bagi penyakit hati: keraguan, kesesatan, kebingungan, dan kegelisahan jiwa.
Bagi orang-orang yang beriman (*al-mu'minīn*), Al-Qur'an menjadi sumber petunjuk yang menenangkan jiwa dan mengarahkan mereka pada jalan yang benar. Rahmat yang dibawanya adalah ketenangan batin dan kepastian akan janji-janji Allah. Namun, ayat ini juga memberikan peringatan keras. Bagi mereka yang zalim—yaitu mereka yang menolak kebenaran dan memilih untuk menyimpang—Al-Qur'an justru akan menambah kerugian (*khasāran*). Penolakan terhadap cahaya wahyu akan semakin memperdalam kegelapan batin dan memperbesar jarak mereka dari kebenaran, menjerumuskan mereka pada kehancuran spiritual yang lebih besar.
Melanjutkan konteks kerasulan dan risalah, ayat berikutnya, Al-Isra ayat 84, memberikan landasan mengenai tugas Nabi Muhammad SAW dan tanggung jawab setiap individu dalam menyikapi petunjuk Ilahi.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا
"Katakanlah: 'Setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya'." (QS. Al-Isra: 84)
Ayat 84 ini adalah refleksi tentang kebebasan berkehendak (ikhtiar) dan pertanggungjawaban akhir. Frasa *'ala shakilatih'* (menurut keadaannya/kecenderungannya) menunjukkan bahwa setiap manusia akan beroperasi berdasarkan karakter, keyakinan, dan jalan hidup yang telah ia pilih. Jika seseorang cenderung pada kebaikan, maka tindakannya akan mencerminkan kebaikan tersebut, dan sebaliknya.
Dalam menghadapi perbedaan pandangan dan jalan hidup, Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk menyampaikan bahwa penilaian akhir bukan berada di tangan manusia, melainkan sepenuhnya di tangan Allah SWT. Tuhan Maha Mengetahui siapa yang benar-benar berada di jalan yang lurus (*ahdā sabīlā*). Ayat ini mengajarkan dua hal penting: pertama, fokus pada perbaikan diri sendiri, karena penilaian akhir adalah urusan Ilahi. Kedua, ia memberikan ketenangan bahwa meskipun umat Islam mungkin dicela atau dipandang sebelah mata oleh pihak yang sesat, Allah adalah hakim tertinggi yang mengetahui niat dan kebenaran hakiki dari setiap tindakan.
Kombinasi Al-Isra ayat 82 dan 84 menawarkan kerangka spiritual yang kuat. Di tengah hiruk pikuk informasi dan tekanan sosial, ayat 82 mengingatkan kita bahwa obat sejati untuk kegelisahan modern—kecemasan, depresi, dan krisis makna—tersedia dalam Al-Qur'an. Jika hati terasa sakit atau pikiran kacau, kembali kepada wahyu adalah bentuk penyembuhan primer.
Sementara itu, ayat 84 menjadi pengingat penting bahwa kita tidak perlu terlalu terbebani oleh upaya meyakinkan setiap orang atau terpengaruh oleh kritik yang datang dari mereka yang berada di jalan yang berbeda. Tugas kita adalah beramal sesuai dengan kecenderungan kita yang telah dibentuk oleh keimanan dan bimbingan Al-Qur'an, sementara penentuan siapa yang lebih benar jalannya diserahkan kepada Yang Maha Adil. Kedua ayat ini, secara simultan, memotivasi kita untuk mencari kesembuhan dalam wahyu sekaligus mendorong kita untuk teguh pada jalan kebenaran yang kita yakini, tanpa perlu merasa perlu memenangkan setiap perdebatan di dunia yang fana ini.