Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, menyimpan banyak hikmah dan penjelasan mendalam mengenai kedudukan manusia di hadapan Allah SWT. Di antara ayat-ayat yang sering menjadi perbincangan para mufasir adalah ayat 85 dan 86. Kedua ayat ini secara spesifik membahas dua topik fundamental yang seringkali sulit dipahami oleh akal manusia: hakikat ruh (ar-Ruh) dan proses turunnya wahyu. Kedua hal ini, menurut ayat, berada di luar lingkup pengetahuan manusia yang diberikan secara kasat mata.
Ayat-ayat ini menegaskan batasan ilmu pengetahuan manusia. Meskipun manusia telah mencapai kemajuan luar biasa dalam sains dan teknologi, ada domain-domain tertentu yang sepenuhnya menjadi ranah kuasa dan pengetahuan Allah semata. Fokus pada ruh dan wahyu berfungsi sebagai pengingat kerendahan hati intelektual kita.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
(Wa yas'alūnaka 'ani ar-rūḥi qulir-rūḥu min amri rabbī wamā ūtītum minal-'ilmi illā qalīlā)Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit sekali." (QS. Al-Isra: 85)
Pertanyaan mengenai ruh adalah salah satu pertanyaan eksistensial tertua dalam sejarah peradaban manusia. Ketika kaum Quraisy menanyakan hal ini kepada Nabi Muhammad SAW, mereka mungkin berharap mendapatkan jawaban yang bersifat fisik atau mekanistik. Namun, jawaban Allah melalui Rasul-Nya sangat tegas: Ruh adalah bagian dari Amr (perintah/urusan) Tuhan.
Frasa "min amri rabbī" menunjukkan bahwa ruh bukanlah sekadar materi yang dapat dipecah, diukur, atau diklasifikasikan dalam kerangka ilmu pengetahuan manusia yang terbatas. Ruh adalah inti kehidupan, energi yang menghidupkan jasad, dan aspek ilahi yang terhubung langsung dengan kehendak Pencipta. Ayat ini secara implisit mengajarkan bahwa upaya untuk membedah substansi ruh secara totalitas dengan metode empiris modern akan selalu menemui jalan buntu, karena ia berada di luar kategori alam yang dapat dijangkau akal secara menyeluruh. Pengetahuan yang diberikan kepada manusia hanyalah setetes air di lautan ilmu Allah yang luas.
وَلَئِن شِئْنَا لَنَذْهَبَنَّ بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهِ عَلَيْنَا وَكِيلًا
(Walā'in shi'nā lanaḏhabanna billaḏhī awḥaynā ilayka minal-Qur'āni ṯumma lā tajidu laka bihi 'alaynā wakīlā)Dan sungguh jika Kami menghendaki, niscaya Kami akan menghapus apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, Al-Qur'an, kemudian kamu tidak akan mendapatkan seorang pun yang dapat kamu jadikan pelindung bagimu terhadap Kami. (QS. Al-Isra: 86)
Ayat 86 memberikan penekanan kuat pada keaslian dan sumber ilahi Al-Qur'an. Allah SWT memberikan jaminan sekaligus peringatan yang keras. Jaminan ini terletak pada fakta bahwa Al-Qur'an adalah wahyu langsung dari-Nya. Peringatannya adalah: seandainya Allah menghendaki, kitab suci ini bisa saja dihilangkan dari ingatan Nabi Muhammad SAW atau dari lembaran-lembaran tulis.
Jika ini terjadi—sebuah skenario yang mustahil karena janji pemeliharaan Allah—maka Nabi sendiri tidak akan memiliki siapa pun yang bisa dimintai pertanggungjawaban atau perlindungan dari Allah terkait hilangnya wahyu tersebut. Ayat ini berfungsi ganda:
Dua ayat ini, Al-Isra 85 dan 86, bekerja selaras. Ayat 85 menetapkan batas pengetahuan empiris manusia (tentang ruh), sementara ayat 86 menggarisbawahi bahwa sumber pengetahuan tertinggi (wahyu) hanya dapat diakses melalui izin dan pemeliharaan ilahi.
Dalam konteks modern, ayat-ayat ini relevan saat kita berhadapan dengan kemajuan neurosains yang mencoba memetakan kesadaran atau debat filosofis mengenai asal-usul kesadaran. Setiap kali ilmu pengetahuan modern mendekati fenomena 'ruh', mereka pada dasarnya hanya mendeskripsikan efeknya pada materi, bukan substansi esensinya.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap Al-Isra ayat 85 dan 86 mengajarkan sikap tawadhu' (rendah hati) dalam berilmu. Ia mendorong mukmin untuk bersemangat mencari ilmu pengetahuan yang bermanfaat di dunia, namun pada saat yang sama, ia menegaskan bahwa ada kebenaran hakiki (seperti hakikat ruh) yang harus diterima melalui iman dan keyakinan terhadap otoritas wahyu, karena akal manusia hanya diberi bekal "sedikit sekali" untuk memahami misteri kosmik tersebut.