Teks dan Makna Surat Al-Isra Ayat 98
Dalam Al-Qur'an, setiap ayat membawa petunjuk dan hikmah yang mendalam. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan adalah Surat Al-Isra ayat 98. Ayat ini secara spesifik membahas tentang balasan bagi mereka yang menyembunyikan kebenaran atau menolak ajaran Allah SWT, terutama yang berkaitan dengan risalah para rasul.
Itulah balasan mereka, karena mereka telah mengingkari ayat-ayat Kami dan berkata, "Apakah apabila kami telah menjadi tulang belulang dan serpihan, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai ciptaan baru?"
Konteks Penolakan Hari Kebangkitan
Ayat ini merupakan penutup dari serangkaian peringatan yang ditujukan kepada kaum yang meragukan kekuasaan Allah, khususnya mengenai hari kebangkitan (Yaumul Ba'ats). Ketika para rasul membawa berita tentang kehidupan setelah kematian, di mana setiap amal perbuatan akan dihisab, banyak yang menolaknya dengan logika materialistik mereka. Mereka berargumen bahwa setelah jasad menjadi tulang belulang dan debu (rūfātā), mustahil bagi Allah untuk menghidupkan mereka kembali.
Argumen ini didasarkan pada keterbatasan pemahaman manusia tentang proses penciptaan dan kuasa Ilahi. Bagi mereka, proses penciptaan yang pertama saja sudah terasa luar biasa, apalagi proses penciptaan ulang dari ketiadaan atau dari sisa-sisa materi yang telah tercerai-berai. Keraguan ini, yang berakar dari kekufuran terhadap ayat-ayat Allah (tanda-tanda kebesaran-Nya), membawa mereka pada konsekuensi akhir yang ditetapkan dalam Surat Al-Isra ayat 98.
Balasan yang Setimpal
Allah SWT menegaskan bahwa balasan yang mereka terima adalah konsekuensi langsung dari pilihan dan keyakinan mereka sendiri. "Itulah balasan mereka, karena mereka telah mengingkari ayat-ayat Kami." Penolakan ini bukan hanya sekadar ketidaksetujuan, melainkan penolakan total terhadap wahyu yang dibawa oleh para nabi. Ayat-ayat Allah (Ayatuna) mencakup semua mukjizat, ajaran, dan peringatan yang disampaikan.
Imam Ibnu Katsir dan ulama tafsir lainnya menjelaskan bahwa penolakan mereka terhadap kebangkitan adalah bentuk kesombongan intelektual dan penutupan hati. Ketika dihadapkan pada bukti empiris (seperti penciptaan awal) dan bukti gaib (wahyu), mereka memilih untuk berpegang pada asumsi bahwa proses pengembalian materi adalah hal yang mustahil bagi Pencipta yang telah melakukan penciptaan pertama.
Penciptaan Kedua: Bukti Kekuasaan Mutlak
Inti pelajaran dari ayat ini adalah penegasan kembali konsep penciptaan kedua. Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Al-Khaliq (Maha Pencipta) dan Al-Ba'its (Maha Membangkitkan). Bagi Zat yang mampu menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, membangkitkan kembali manusia dari debu adalah jauh lebih mudah. Allah berfirman di ayat lain (QS. Ar-Rum: 27), "Dan Dialah yang memulai penciptaan, lalu mengulanginya; dan itu lebih mudah bagi-Nya."
Oleh karena itu, keraguan yang ditunjukkan oleh mereka yang tercermin dalam narasi Surat Al-Isra ayat 98, adalah keraguan yang menafikan kesempurnaan sifat-sifat Allah. Kunci untuk menerima kebangkitan adalah mengakui bahwa Allah tidak terikat oleh hukum fisika atau keterbatasan materi yang berlaku bagi makhluk-Nya. Kekuatan-Nya meliputi segala sesuatu, termasuk mengubah materi yang telah hancur menjadi bentuk kehidupan yang baru.
Ilustrasi Simbolis Kekuatan Penciptaan
Untuk merenungkan betapa mudahnya bagi Allah untuk membangkitkan, kita seringkali merujuk pada keajaiban di alam semesta. Contohnya, sebuah benih kecil yang mati dan terkubur di tanah, kemudian bangkit menjadi pohon yang menjulang tinggi. Atau, padang pasir yang kering kerontang menjadi subur setelah hujan turun.
Visualisasi sederhana ini menunjukkan bahwa dari apa yang dianggap mati dan terurai (tulang belulang dan debu), Allah dapat memunculkan ciptaan yang segar dan baru. Ini adalah jawaban pamungkas terhadap keraguan yang diabadikan dalam Surat Al-Isra ayat 98.
Kesimpulan: Kepercayaan pada Janji Ilahi
Ayat ke-98 dari Surat Al-Isra berfungsi sebagai pengingat tegas bahwa iman yang sejati harus mencakup keyakinan mutlak pada kemampuan Allah untuk melakukan segala hal, termasuk membangkitkan orang mati. Menolak kebangkitan adalah menolak sebagian besar ajaran kenabian. Dengan memahami ayat ini, seorang Muslim diingatkan untuk tidak membatasi kekuasaan Tuhan berdasarkan pemahaman materialistik duniawi, melainkan meyakini bahwa janji Allah tentang penghisaban dan kehidupan akhirat adalah kepastian yang tak terelakkan.