Peringatan Keras dalam Surat Al-Maidah Ayat 72: Penolakan Akidah Tiga Tuhan

(Tiga Tuhan) (Satu Tuhan) Penegasan Allah

Ilustrasi konsep penolakan terhadap trinitas dan penegasan tauhid.

Dalam lembaran Al-Qur'an, terdapat ayat-ayat yang memiliki bobot penegasan aqidah yang sangat kuat. Salah satu di antaranya adalah Surat Al-Maidah ayat 72. Ayat ini merupakan peringatan keras dari Allah SWT, khususnya ditujukan kepada sebagian umat Kristiani (Nasrani) pada masa Rasulullah SAW, mengenai kekeliruan fatal dalam memahami hakikat keesaan Tuhan (Tauhid).

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (72)

Laqad kafarallażīna qālū innallāha huwal-masīḥubnu maryam(a), qul famay yamliku minallāhi syai'an in arāda an yuhlikal-masīḥabna maryama wa ummahu wa man fil-arḍi jamī‘ā(n), wallāhi mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, wa ilallāhil-maṣīr(u).

"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryam'. Katakanlah: 'Maka siapakah yang dapat menolak kemauan Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putera Maryam dan ibunya dan semua orang yang ada di bumi?' Hanya milik Allah jualah kekuasaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Konteks Historis dan Penegasan Tauhid

Ayat ini turun sebagai respons langsung terhadap klaim beberapa kelompok bahwa Nabi Isa Al-Masih bin Maryam adalah Tuhan itu sendiri. Islam mengakui kebesaran Isa Al-Masih sebagai salah satu Nabi dan Rasul yang mulia, dilahirkan secara mukjizat dari Maryam. Namun, Islam sangat tegas dalam memisahkan antara status kemanusiaan (walaupun luar biasa) dengan status ketuhanan yang hanya layak disematkan kepada Allah SWT semata.

Penggunaan kata "Laqad kafarallażīna qālū" (Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata) menunjukkan betapa seriusnya masalah ini dalam pandangan Allah. Menganggap makhluk, betapapun mulianya, sebagai Ilah adalah puncak kesyirikan yang tidak terampuni kecuali dengan taubat. Ayat Surat Al-Maidah ayat 72 ini menegaskan prinsip dasar Islam: Tauhid Rububiyah (pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta) dan Tauhid Uluhiyah (pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah).

Argumen Logis dalam Ayat

Setelah menetapkan status kekafiran bagi mereka yang menyekutukan, Al-Maidah 72 melanjutkan dengan sebuah tantangan logis yang sangat kuat. Allah berfirman: "Katakanlah: 'Maka siapakah yang dapat menolak kemauan Allah jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putera Maryam...?'"

Ini adalah ujian logika yang paripurna. Jika Isa Al-Masih adalah Tuhan, maka Ia seharusnya memiliki kekuasaan mutlak, termasuk kekebalan dari kematian atau pemusnahan atas kehendak pihak lain. Namun, sejarah membuktikan bahwa Isa Al-Masih adalah manusia yang hidup, makan, dan akhirnya diangkat oleh Allah, namun eksistensinya (seperti seluruh alam semesta) berada di bawah kekuasaan dan kehendak Allah. Argumentasi ini secara efektif membuktikan bahwa Isa Al-Masih adalah makhluk, bukan Sang Pencipta.

Kekuasaan Mutlak Hanya Milik Allah

Puncak penegasan dalam Surat Al-Maidah ayat 72 terletak pada penutupnya: "Hanya milik Allah jualah kekuasaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Ayat ini mengingatkan seluruh umat manusia tentang siapa Pemilik Tunggal alam semesta. Kekuasaan untuk menciptakan, mengatur, menghidupkan, dan mematikan sepenuhnya berada di tangan Allah. Tidak ada kekuatan lain yang bisa menandingi atau setara dengan-Nya. Konsekuensi dari pemahaman ini adalah bahwa segala bentuk penyembahan, permohonan, dan ketaatan harus diarahkan hanya kepada Dzat yang memiliki kekuasaan absolut tersebut.

Bagi umat Islam, ayat ini menjadi landasan penting untuk menjaga kemurnian aqidah dari segala bentuk bid'ah atau penyelewengan akidah yang mengarah pada syirik. Pesan Al-Maidah 72 adalah pesan kejelasan yang abadi, membedakan secara tegas antara Pencipta dan ciptaan, serta memanggil manusia untuk kembali tunduk sepenuhnya kepada Yang Maha Esa, Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

🏠 Homepage