Surat Al-Maidah, surat kelima dalam susunan Mushaf Al-Qur'an, adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan pembahasan hukum-hukum syariat, kisah-kisah nabi terdahulu, serta penegasan keimanan. Di antara ayat-ayat penting dalam surat ini, terdapat ayat 111 yang memuat inti dari sebuah perjanjian ilahi kepada para rasul dan mukminin. Ayat ini menjadi penutup rangkaian kisah yang panjang mengenai Bani Israil dan pengingat akan peran penting para pengikut Nabi Muhammad SAW.
Ayat ini membahas tentang wahyu yang diturunkan kepada Nabi Isa al-Masih dan janji Allah kepada para pengikut yang beriman.
Ayat 111 Surat Al-Maidah ini menjadi penutup narasi panjang mengenai dialog dan perselisihan antara Allah melalui para rasul-Nya dengan Bani Israil. Puncak dari narasi ini adalah penetapan status keimanan sekelompok orang yang disebut sebagai Al-Hawariyyun (kaum Hawari). Kata "Hawari" secara etimologis memiliki makna yang sangat mendalam, sering diartikan sebagai "pembersih" atau "pendukung yang setia."
Pengilhaman (wahyu) dalam konteks ini tidak berarti wahyu kenabian yang diturunkan kepada para nabi. Sebagaimana dijelaskan oleh banyak mufasir, ini adalah inspirasi ilahi, petunjuk langsung dari Allah yang ditanamkan dalam hati para sahabat setia Nabi Isa AS. Inspirasi ini menegaskan dua poin fundamental: keharusan beriman kepada Allah (Tauhid) dan keharusan beriman kepada Rasul-Nya (Nabi Isa AS).
Respon kaum Hawari sangat lugas dan tanpa keraguan: "Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Muhammad) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslim)." Pengakuan ini memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, mereka menerima Tauhid sejati. Kedua, mereka secara eksplisit menyatakan diri sebagai muslim—yaitu mereka yang tunduk dan berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Ini menunjukkan bahwa konsep Islam (penyerahan diri) sudah menjadi esensi dari agama-agama samawi terdahulu.
Mengapa Allah SWT mengulang kisah ini dan menyampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW? Ayat ini berfungsi sebagai validasi historis dan teologis. Allah menegaskan bahwa komitmen total terhadap keesaan-Nya bukanlah ajaran baru yang dibawa oleh Islam. Sejak zaman Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad, inti pesannya selalu sama: iman kepada Allah dan rasul-Nya, serta penyerahan diri.
Bagi umat Nabi Muhammad SAW, ayat ini mengandung pelajaran bahwa kesetiaan dan ketulusan dalam mengikuti ajaran rasul adalah kunci keberhasilan. Kaum Hawari diangkat derajatnya karena keberanian mereka untuk membela kebenaran dan menyatakan keimanan mereka secara terbuka di hadapan kaum mereka sendiri yang menentang. Mereka memilih jalan iman meskipun itu berarti memisahkan diri dari tradisi mayoritas yang telah menyimpang.
Salah satu poin utama yang dapat kita ambil adalah pentingnya menjadi saksi kebenaran. Setelah menyatakan keimanan, mereka meminta Nabi Muhammad SAW untuk menjadi saksi atas penyerahan diri mereka. Ini menunjukkan bahwa iman yang sejati harus diiringi dengan kesaksian dan keteguhan di hadapan manusia lain.
Dalam konteks kontemporer, ayat ini mengingatkan umat Islam untuk tidak ragu menyatakan identitas keislaman mereka dan untuk selalu setia pada prinsip dasar ajaran Allah, yaitu Tauhid. Tantangan zaman boleh berbeda, tetapi tuntutan untuk beriman dan berserah diri tetap sama seperti yang diucapkan oleh kaum Hawari lebih dari seribu tahun yang lalu. Kesempurnaan iman terletak pada pengakuan lisan yang dibuktikan dengan ketulusan hati dan tindakan nyata penyerahan diri.
Keseluruhan makna Al-Maidah ayat 111 adalah sebuah jaminan ilahi bahwa jalan para pengikut setia, yang berserah diri tanpa syarat kepada Allah dan rasul-Nya, akan selalu mendapatkan pengakuan dan keberkahan. Mereka adalah tolok ukur keimanan yang tulus.