Surat Al-Maidah (Hidangan) merupakan surat Madaniyah yang kaya akan hukum, kisah para nabi, dan penegasan keesaan Allah. Ayat 113, yang menjadi penutup dari rangkaian pembahasan panjang mengenai perdebatan antar umat (terutama terkait kisah Nabi Isa 'alaihissalam dan kaum Nasrani dalam ayat-ayat sebelumnya), berfungsi sebagai penutup yang mengembalikan segala fokus kepada pemilik mutlak alam semesta. Ayat ini datang di saat umat Islam membutuhkan penguatan keyakinan bahwa tidak ada yang perlu ditakuti atau diandalkan selain Allah SWT.
Ayat ini mengingatkan bahwa segala bentuk kesepakatan, perbedaan pendapat, kesulitan, dan kemenangan, pada hakikatnya berada di bawah kendali penuh Sang Pencipta. Tidak ada satu pun entitas, baik di langit (malaikat, bintang, rahasia gaib) maupun di bumi (manusia, alam, takdir), yang lepas dari kekuasaan-Nya. Kesimpulan mendasar yang ditarik adalah: Ilallahi turja’ul umur (kepada Allah dikembalikan segala urusan). Ini adalah penegasan tauhid yang kokoh, menolak segala bentuk ketergantungan parsial kepada selain Allah.
Fokus utama dari Surat Al-Maidah ayat 113 adalah konsep kedaulatan (uluhiyyah dan rububiyyah) Allah SWT. Frasa "Wa lillahi ma fis-samawati wa ma fil-ardh" (Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi) mencakup segala sesuatu secara total. Kepemilikan ini bukan sekadar kepemilikan administratif, melainkan kepemilikan eksistensial dan legislatif. Allah adalah Pencipta, Pemelihara, dan Pemilik Hukum.
Dalam konteks kekhawatiran atau keraguan, ayat ini menjadi penyejuk. Ketika manusia merasa terombang-ambing oleh politik duniawi, tekanan sosial, atau ketidakpastian masa depan, ayat ini mengarahkan pandangan ke atas. Pemilik segala urusan adalah Yang Maha Kuasa. Ini mendorong seorang Muslim untuk bersikap tawakal sejati, bukan hanya pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada mekanisme sempurna yang telah ditetapkan oleh-Nya.
Pengamalan ayat ini berdampak besar pada cara seorang Muslim mengambil keputusan dan menyikapi musibah. Pertama, ia mengajarkan sikap kerendahan hati. Jika semua milik-Nya, maka kesombongan akan sirna. Kekayaan, kekuasaan, dan ilmu yang kita miliki hanyalah titipan sesaat.
Kedua, ia menumbuhkan optimisme yang berakar kuat. Ketika kita tahu bahwa 'semua urusan dikembalikan kepada Allah', maka kita yakin bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar bagi-Nya untuk diselesaikan. Urusan yang tampak buntu di mata manusia, mungkin sedang diproses oleh kebijaksanaan Ilahi menuju solusi terbaik. Dalam keadaan terdesak, seorang mukmin teringat bahwa kunci pemecahan masalah ada pada Sang Pemilik kunci itu sendiri.
Ketiga, ayat ini mendorong objektivitas dalam penilaian. Ketika kita menilai suatu peristiwa atau orang lain, kita diingatkan bahwa penilaian akhir dan perhitungan riil akan dilakukan oleh Allah SWT di akhirat. Oleh karena itu, kebencian yang berlebihan atau pemujaan yang buta terhadap figur duniawi menjadi tidak relevan, karena titik akhir segalanya adalah penghadapan kembali kepada Allah. Ayat ini membersihkan hati dari keterikatan yang tidak semestinya pada ciptaan, dan mengembalikannya sepenuhnya pada Sang Pencipta.
Ayat 113 Al-Maidah adalah kesimpulan logis dari segala pembahasan keimanan. Semua perdebatan teologis, pertentangan filosofis, dan dinamika sosial akhirnya bermuara pada satu realitas tunggal: Allah adalah Pemilik Absolut. Ketika kita memahami bahwa Al-Umur (segala urusan) akan kembali kepada-Nya, maka orientasi hidup kita secara otomatis bergeser. Kita hidup bukan untuk memuaskan nafsu dunia atau pujian manusia, melainkan untuk memenuhi amanah kepemilikan Allah, dengan kesadaran penuh bahwa pertanggungjawaban akhir tidak dapat dihindari.