Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah terpanjang dalam Al-Qur'an, memuat banyak sekali kaidah hukum, sejarah, dan peringatan penting bagi umat manusia. Di antara ayat-ayatnya yang sarat makna, terdapat sepasang ayat, yaitu ayat 116 dan 117, yang secara khusus menyoroti dialog monumental antara Allah SWT dengan Nabi Isa bin Maryam AS pada Hari Pembalasan kelak.
Ayat-ayat ini memberikan perspektif yang jelas mengenai posisi kenabian Isa AS dan penolakan tegas terhadap klaim ketuhanan yang disematkan kepadanya oleh sebagian pengikutnya. Memahami konteks dan isi ayat ini sangat krusial untuk memperkokoh akidah tauhid dalam Islam.
Ayat 116 membuka sebuah skenario yang sangat dramatis: Hari Kiamat, saat semua rahasia terungkap dan pertanggungjawaban mutlak diminta. Allah SWT akan bertanya langsung kepada Nabi Isa AS mengenai tuduhan bahwa beliau pernah menyuruh umatnya menyembahnya bersama ibunya, Maryam, sebagai tuhan selain Allah. Pertanyaan ini bukan karena Allah tidak mengetahui kebenarannya—sebab Allah Maha Mengetahui segalanya—melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap derajat kenabian Isa dan sebagai penetapan hukum yang jelas di hadapan seluruh makhluk.
Respon Nabi Isa AS penuh dengan ketundukan dan pemuliaan murni (tasbih) terhadap Allah. Jawaban beliau sangat tegas: "Maha Suci Engkau! Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku." Ini menegaskan bahwa seorang nabi, sekalipun memiliki kedudukan tinggi, terikat ketat pada wahyu dan tidak memiliki otoritas untuk menetapkan syariat baru yang menyimpang dari tauhid. Beliau mengakui keterbatasan ilmunya dibandingkan dengan ilmu Allah yang mencakup segala rahasia batin.
Ayat 117 memperkuat pembelaan diri Nabi Isa AS. Beliau menyatakan bahwa seluruh risalah yang dibawanya hanyalah perintah Allah semata: sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Ini adalah inti dari seluruh ajaran para nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad SAW.
Selama masa hidupnya di dunia, Nabi Isa AS adalah saksi atas kepatuhan (atau pembangkangan) umatnya. Namun, setelah wafatnya—diangkat oleh Allah—tanggung jawab pengawasan sepenuhnya beralih kepada Allah SWT. Hanya Allah yang memiliki pandangan menyeluruh dan tidak ada satu pun yang tersembunyi dari-Nya. Ayat ini sekaligus menepis keyakinan bahwa Isa AS tetap terlibat secara aktif dalam mengawasi urusan dunia setelah beliau diangkat. Setelah beliau kembali kepada Allah, pengawasan akhir dan pertanggungjawaban mutlak berada di tangan Sang Pencipta.
Kisah dalam Al-Maidah 116-117 memberikan beberapa pelajaran vital:
Dengan demikian, dua ayat singkat ini merangkum fondasi akidah Islam, memperjelas batas antara penyembah dan yang disembah, serta menegaskan bahwa kedudukan tertinggi hanya layak disandangkan kepada Allah Azza wa Jalla, Yang Maha Esa dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi.