Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali ajaran penting mengenai hukum, etika, dan hubungan sosial umat Islam. Di antara ayat-ayatnya yang paling sering dibahas dan paling fundamental dalam tata kelola kehidupan bermasyarakat adalah ayat ke-51. Ayat ini mengandung perintah tegas yang menjadi pijakan utama dalam menentukan loyalitas seorang Muslim.
Ayat ini turun sebagai respons terhadap berbagai situasi yang menguji keimanan umat Islam pada masa itu, khususnya dalam interaksi dengan kelompok non-Muslim yang terkadang memiliki niat yang tidak sejalan dengan prinsip Islam. Pemahaman yang benar terhadap surat al maidah ayat 51 dan artinya sangat krusial untuk menjaga kemurnian akidah dan integritas komunitas Muslim di manapun mereka berada.
(QS. Al-Maidah: 51)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya’ (pemimpin atau pelindung); sebahagian mereka adalah auliya’ bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya’, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
Inti dari perdebatan mengenai ayat ini terletak pada pemahaman kata kunci "Auliya'" (أَوْلِيَاءَ). Dalam bahasa Arab, kata ini memiliki spektrum makna yang luas, meliputi teman dekat, pelindung, sekutu politik, pemimpin, atau pembela. Para ulama tafsir sepakat bahwa konteks ayat ini merujuk pada makna yang paling substansial, yaitu mengambil mereka sebagai **pemimpin politik, penentu kebijakan strategis, atau sekutu yang loyalitas utamanya melebihi loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya.**
Ayat ini secara tegas melarang kaum beriman untuk menyerahkan urusan kekuasaan atau pertahanan diri (yang berkaitan dengan masa depan kolektif umat) kepada mereka yang secara terang-terangan memusuhi ajaran Islam. Larangan ini bukan sekadar larangan memilih teman akrab, melainkan peringatan terhadap delegasi kekuasaan yang berpotensi membahayakan eksistensi dan integritas ajaran Islam itu sendiri.
Frasa "sebahagian mereka adalah auliya’ bagi sebahagian yang lain" berfungsi sebagai justifikasi logis; bahwa kelompok yang memiliki pandangan berbeda secara fundamental tentang hakikat kebenaran (akidah) tidak mungkin memiliki tujuan akhir yang sama dalam konteks kepemimpinan.
Pernyataan "Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya’, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka" adalah sebuah peringatan keras. Ini bukan berarti bahwa orang tersebut otomatis menjadi kafir jika ia melakukan kesalahan fatal dalam konteks muamalah (interaksi sosial) yang tidak terkait kepemimpinan. Namun, dalam konteks loyalitas tertinggi (seperti dalam politik dan pertahanan), tindakan menjadikan mereka pelindung utama menunjukkan adanya pergeseran fundamental dalam orientasi loyalitasnya, dari Allah kepada selain-Nya.
Ini menggarisbawahi bahwa kesetiaan (loyalty) adalah variabel terpenting dalam keimanan. Ketika loyalitas dasar bergeser, maka identitas kolektif dan tujuan akhir dari individu tersebut pun ikut bergeser. Allah menutup ayat ini dengan menegaskan bahwa Dia tidak akan memberikan hidayah (petunjuk) kepada kaum yang memilih berbuat zalim—zalim dalam konteks ini adalah menempatkan sesuatu (loyalitas) tidak pada tempatnya yang semestinya.
Dalam konteks kehidupan modern, ayat ini sering menjadi pembahasan mengenai hubungan antarnegara, hubungan dalam masyarakat multikultural, dan politik domestik. Penting untuk membedakan antara:
Ayat 51 Al-Maidah berfungsi sebagai filter utama dalam menentukan siapa yang dapat dipercaya memegang kendali atas nasib kolektif umat, memastikan bahwa kompas moral dan tujuan akhir umat tetap berpusat pada keridhaan Allah SWT. Ayat ini adalah benteng akidah yang mengingatkan bahwa iman sejati membutuhkan pemisahan yang jelas antara kawan sejati (yang sejalan dalam tujuan ilahi) dan pihak yang secara struktural berlawanan dengan prinsip dasar agama.