Ilustrasi visual mengenai peringatan dan pilihan.
Taqūlu allazīna āmanū mā nuzzila hādha illā ittibā'an lifirqatihim, qul anzzilūna bighayrillāhi tuhaddidūna bihi nafsī, walaw kāna min 'indi ghayrillāhi lawajadū fīhi ikhtilāfan kathīrā.
Orang-orang yang beriman akan berkata, "Mengapa surat ini tidak diturunkan kepada kami?" Mereka menanti-nanti (perintah), kemudian apabila ada surat yang jelas (isyaratnya) dan disebutkan di dalamnya peperangan, kamu lihat orang-orang yang hatinya sakit (orang munafik) memandang kepadamu seolah-olah mereka akan mati karena ketakutan, maka kecelakaanlah bagi mereka.
(Catatan: Terjemahan yang umum ditemukan dalam Mushaf adalah: "Orang-orang yang beriman akan berkata, 'Mengapa tidak diturunkan satu surat (tentang orang-orang kafir)?' Apabila diturunkan surat yang jelas (isyaratnya) dan disebutkan di dalamnya peperangan, kamu lihat orang-orang yang hatinya sakit (orang munafik) memandang kepadamu seolah-olah mereka akan mati karena ketakutan, maka kecelakaanlah bagi mereka.")
Surat Al-Maidah ayat 52 adalah bagian penting dari rangkaian ayat yang membahas hubungan antara kaum mukminin (orang-orang yang beriman) dengan kelompok-kelompok lain, khususnya mereka yang hatinya terdapat penyakit (kemunafikan) atau mereka yang cenderung mencari perlindungan dan kepastian dari selain Allah.
Ayat ini menggambarkan reaksi khas orang-orang munafik ketika dihadapkan pada perintah jihad atau peperangan yang tegas dalam Al-Qur'an. Ketika surat-surat awal turun, mereka mungkin bersikap biasa saja atau bahkan mendukung. Namun, ketika Allah SWT menurunkan ayat yang secara eksplisit memerintahkan mereka untuk berjihad (seperti yang ditafsirkan oleh banyak ulama), reaksi mereka berubah drastis. Mereka pura-pura ingin surat lain yang lebih fokus pada urusan lain, atau mereka menunjukkan ketakutan yang luar biasa.
Frasa "orang-orang yang hatinya sakit" (الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ) merujuk pada keraguan, kemunafikan, dan kelemahan iman. Hati mereka tidak teguh; mereka hanya beriman sebatas apa yang menguntungkan mereka tanpa risiko. Ketika risiko (seperti kehilangan nyawa atau harta dalam peperangan) datang, penyakit hati mereka tampak jelas. Ketakutan yang mereka tunjukkan itu bukanlah ketakutan yang wajar, melainkan sebuah ekspresi dari keengganan untuk menaati perintah ilahi yang menuntut pengorbanan total.
Ayat ini berfungsi sebagai ujian keimanan. Ketaatan sejati kepada Allah SWT tidak bersyarat; ia tidak pandang bulu tergantung apakah perintah itu menyenangkan atau menakutkan. Mukmin sejati akan menerima semua ketetapan, baik yang membawa kemudahan maupun tantangan. Bagi mereka yang hanya menerima ayat yang "menyenangkan" (seperti janji surga tanpa perjuangan), mereka adalah kelompok yang ditakutkan dalam ayat ini.
Di akhir ayat terdapat ancaman serius: "maka kecelakaanlah bagi mereka" (فَوَيْلٌ لَّهُمْ). Ini menunjukkan betapa berbahayanya memiliki keraguan dan kemunafikan di saat-saat krusial penegakan syariat Allah. Kecelakaan di sini berarti kerugian besar di dunia dan akhirat, karena mereka gagal memenuhi janji kesetiaan mereka kepada Allah SWT. Ayat ini menegaskan bahwa keimanan harus dibuktikan melalui tindakan, terutama dalam menghadapi kesulitan.
Pemahaman mendalam terhadap Al-Qur'an memerlukan rujukan pada tafsir yang sahih untuk memahami konteks historis dan tujuan diturunkannya ayat.