Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang kaya akan pelajaran hidup, hukum, dan kisah-kisah penting. Khususnya, rentang ayat 60 hingga 70 memuat peringatan keras dari Allah SWT mengenai perilaku umat terdahulu, konsekuensi dari pengkhianatan janji, serta ketegasan dalam memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Mempelajari ayat-ayat ini memberikan perspektif kritis terhadap tanggung jawab moral dan spiritual kita sebagai umat Islam.
Ayat-ayat ini sering kali menyoroti kritik terhadap kelompok tertentu yang menyimpang dari ajaran lurus, baik karena ketidakpercayaan, pengkhianatan perjanjian, maupun penyembahan terhadap selain Allah. Pemahaman mendalam terhadap konteks dan makna ayat-ayat ini sangat esensial agar kita dapat mengambil pelajaran berharga untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ilustrasi simbolis mengenai pilihan antara jalan kebenaran dan kesesatan.
Ayat-ayat awal dalam rentang ini (terutama 60 dan 61) berisi peringatan keras dari Allah SWT. Allah mengecam mereka yang berpaling dari kebenaran, menyebut mereka sebagai orang-orang yang dikutuk dan dilaknat, serta telah mempersiapkan bagi mereka azab yang pedih. Ayat 60 secara spesifik merujuk kepada kaum Yahudi yang ingkar terhadap janji Allah dan sebagian besar dari mereka menunjukkan kemunafikan atau penolakan terang-terangan terhadap risalah Nabi Muhammad SAW.
Katakanlah (Muhammad): "Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang mendapat balasan yang lebih buruk dari itu di sisi Allah? Ialah orang yang dikutuk dan dimurkai Allah, yang di antara mereka dijadikan kera dan babi, dan (yang) menyembah Tagut (berhala)." Mereka itulah yang lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang benar. (QS. Al-Maidah: 60)
Ayat 62 dan 63 melanjutkan tema ini dengan menyoroti perilaku orang-orang munafik dan pengkhianatan mereka. Mereka terlihat sering kali mencoba mencari perlindungan atau dalih saat bahaya datang, namun ketika diserukan untuk berjihad atau menegakkan kebenaran, mereka berpaling. Allah menegaskan bahwa hati mereka telah dikunci karena perbuatan buruk mereka sendiri.
Ayat 64 membahas mengapa mereka tetap dalam kesesatan: mereka tidak yakin bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, serta tidak menyadari bahwa setiap tindakan mereka dicatat. Ayat-ayat ini mengajarkan pentingnya konsistensi antara iman dalam hati dan amal perbuatan yang terlihat.
Setelah memberikan kecaman keras kepada kelompok yang menyimpang, Allah SWT kemudian mengalihkan fokus pada balasan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Ayat 65 secara langsung menjanjikan surga yang dialiri sungai bagi mereka yang beriman dan bertakwa. Ini adalah penegasan bahwa amal saleh yang didasari keimanan yang kokoh akan mendapatkan balasan tertinggi di sisi Allah.
Sekiranya Ahli Kitab itu beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami azab mereka sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat. (QS. Al-Maidah: 65)
Ayat 65 ini sangat signifikan karena menunjukkan bahwa pintu rahmat Allah selalu terbuka, bahkan untuk Ahli Kitab, asalkan mereka memenuhi syarat utama: iman dan takwa. Jika syarat ini terpenuhi, keberkahan dunia dan akhirat akan dilimpahkan. Namun, penolakan mereka berujung pada konsekuensi yang mereka petik sendiri.
Ayat 66 hingga 70 memperkuat seruan kepada Ahli Kitab untuk mengikuti Taurat, Injil, dan Al-Qur'an yang diturunkan kepada mereka. Allah menegaskan bahwa jika mereka benar-benar mengikuti kitab suci mereka, niscaya mereka akan menikmati rezeki yang luas. Sayangnya, banyak dari mereka yang memilih menyimpang. Ayat 69 menegaskan bahwa tidak ada kekhawatiran bagi orang yang beriman dan beramal saleh, sementara ayat 70 mengingatkan bahwa pembangkangan hanya akan menjerumuskan mereka ke dalam azab yang berat, meskipun mereka telah menerima banyak mukjizat dan petunjuk.
Rentang ayat ini memberikan tiga pelajaran utama yang harus menjadi renungan kita: Pertama, **konsistensi iman**. Iman yang sejati tidak hanya diucapkan tetapi harus dibuktikan dengan amal saleh dan keteguhan prinsip, terutama di masa sulit. Kedua, **bahaya pengkhianatan dan kemunafikan**. Allah SWT sangat keras dalam menilai orang yang mengingkari janji atau menyembunyikan kebenaran demi kepentingan duniawi.
Ketiga, **terbukanya rahmat bagi yang bertakwa**. Selalu ada harapan bagi siapa pun—termasuk Ahli Kitab—untuk mendapatkan rahmat Allah selama mereka memenuhi syarat keimanan dan ketakwaan. Kisah dalam ayat ini adalah cerminan abadi bahwa jalan menuju ketenangan dan kebahagiaan sejati hanya ditemukan dalam kepatuhan total kepada ajaran Ilahi, bukan dalam mengikuti hawa nafsu atau tradisi buta yang bertentangan dengan wahyu. Dengan merenungkan ayat 60-70, umat Islam diingatkan untuk selalu menimbang amal perbuatan mereka agar tidak termasuk golongan yang dikutuk atau dilaknat karena kesesatan mereka.