"Engkau tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, atau kaum kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah tertulis di dalam hati mereka iman, dan telah dikuatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah (golongan Allah) itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Maidah: 85)
Surat Al-Maidah ayat 85 adalah salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang memiliki kedalaman makna luar biasa, khususnya mengenai hakikat dan konsekuensi dari keimanan sejati kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Ayat ini secara tegas menetapkan prinsip fundamental dalam Islam: loyalitas tertinggi harus selalu ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan jika hal itu bertentangan dengan ikatan darah atau hubungan duniawi yang paling erat.
Ayat ini menegaskan bahwa tidak mungkin—secara logis maupun spiritual—seorang hamba yang benar-benar beriman (yu'minu billahi wal yawmil akhir) akan menunjukkan kasih sayang (yuwaddoon) dan kedekatan emosional kepada mereka yang secara aktif memusuhi dan menentang garis ajaran Allah dan Rasul-Nya. Perlu dicatat bahwa istilah "memusuhi" (haadda) di sini merujuk pada permusuhan yang nyata terhadap prinsip-prinsip kebenaran yang dibawa oleh Islam.
Ujian paling berat bagi keimanan seseorang seringkali datang dari lingkaran terdekat. Al-Maidah ayat 85 secara spesifik menyebutkan kerabat terdekat: bapak, anak, saudara, bahkan suku (kaum kerabat). Dalam konteks historis, ayat ini turun ketika beberapa sahabat menghadapi dilema: apakah mereka harus tetap loyal kepada kerabat mereka yang memilih untuk memerangi Islam, ataukah harus memilih jalan Allah.
Ayat ini memberikan jawaban yang sangat jelas. Keimanan yang tulus bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sebuah komitmen hati yang menuntut pemisahan loyalitas jika terjadi konflik prinsip. Ini bukan berarti memutuskan silaturahmi dalam konteks sosial (selama mereka tidak memerangi), tetapi pemisahan dalam ranah loyalitas ideologis dan spiritual.
Setelah menetapkan standar pemisahan loyalitas tersebut, Allah SWT kemudian menjanjikan ganjaran luar biasa bagi mereka yang berhasil melewati ujian ini. Ganjaran ini digambarkan melalui tiga poin utama:
Puncak dari ayat ini adalah penegasan status mereka sebagai Hizbullah (Golongan Allah). Menjadi bagian dari golongan Allah adalah kehormatan tertinggi. Golongan ini didefinisikan bukan berdasarkan garis keturunan, kekayaan, atau kekuasaan duniawi, melainkan berdasarkan kemurnian iman dan kesiapan mereka untuk memprioritaskan ketaatan kepada Sang Pencipta di atas segala ikatan dunia.
Ayat ditutup dengan kesimpulan tegas: "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itulah orang-orang yang beruntung (muflihoon)." Keuntungan sejati diukur bukan dari apa yang didapat di dunia, tetapi dari keberhasilan mencapai keridhaan Allah dan surga-Nya. Surat Al-Maidah ayat 85 berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa loyalitas kepada Allah adalah tolok ukur kesuksesan hakiki seorang mukmin.