Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak sekali ayat-ayat yang mengandung petunjuk penting bagi kehidupan seorang Muslim. Salah satu ayat yang sering dibahas dan memiliki makna mendalam terkait etika konsumsi makanan adalah Surat Al-Maidah ayat 88. Ayat ini merupakan bagian dari Surat Al-Maidah (Hidangan) yang diturunkan di Madinah, dan mengandung perintah tegas dari Allah SWT mengenai cara kita memperoleh rezeki dan apa yang boleh serta tidak boleh kita nikmati.
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk memakan rezeki yang telah diberikan Allah, yaitu yang baik-baik dan halal, serta melarang mengikuti langkah-langkah setan.
"Maka makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya." (QS. Al-Maidah: 88)
Pesan sentral dari Surat Al-Maidah ayat 88 terletak pada dua kriteria makanan yang harus kita konsumsi: halalan (halal) dan thayyiban (baik/bergizi).
Halal merujuk pada aspek syariat, yaitu segala sesuatu yang diperbolehkan oleh hukum Islam. Ini mencakup cara perolehan harta (tidak dari riba, mencuri, atau menipu) dan jenis makanannya itu sendiri (bukan babi, bangkai, atau hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah).
Sementara itu, Tayyib memiliki cakupan yang lebih luas. Meskipun terkadang diterjemahkan sebagai 'baik', makna tayyib mencakup aspek kebersihan, kesehatan, kesegaran, dan nilai gizi. Seorang Muslim diperintahkan untuk tidak hanya mencari yang halal secara formal, tetapi juga yang memberikan manfaat fisik dan tidak merusak tubuh. Ini menunjukkan betapa komprehensifnya Islam dalam mengatur kehidupan, hingga urusan perut sekalipun.
Ayat ini ditutup dengan peringatan keras: "dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya." Konteks sebelum ayat ini (ayat 87) membahas larangan mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah dan perintah untuk bersikap adil. Dengan demikian, ketika kita memilih untuk mengonsumsi yang haram atau buruk, kita secara tidak langsung telah mengikuti langkah-langkah setan (syaitan) yang selalu mengajak pada penyimpangan.
Ketaatan pada perintah ini adalah bukti nyata keimanan seseorang. Keimanan (iman) yang sejati tidak hanya diucap di lisan, tetapi terefleksi dalam tindakan nyata, termasuk dalam memilih makanan sehari-hari. Memilih yang halal dan baik adalah wujud nyata dari ketakwaan (taqwa) kita kepada Allah SWT.
Mengamalkan anjuran dalam Surat Al-Maidah ayat 88 membawa banyak keberkahan. Ketika makanan yang dikonsumsi berasal dari sumber yang bersih dan cara yang diridhai Allah, maka doa-doa seseorang cenderung lebih mudah dikabulkan. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa seseorang yang memakan makanan haram, ibadahnya tidak akan diterima selama 40 hari. Ini menunjukkan hubungan erat antara apa yang masuk ke dalam tubuh kita dengan kualitas spiritual kita.
Selain itu, mengonsumsi makanan tayyib (bergizi dan baik) akan menghasilkan anggota tubuh yang kuat untuk beribadah dan beramal saleh. Ini adalah hikmah ilahiah agar umat Islam memiliki energi positif dan kesehatan prima untuk menjalankan amanah kekhalifahan di muka bumi.
Pada akhirnya, ayat ini mengajak kita untuk selalu reflektif. Apakah makanan yang kita nikmati hari ini sudah memenuhi kriteria halal dan baik? Pertanyaan sederhana ini memiliki implikasi spiritual yang sangat besar. Kehidupan yang berkah dimulai dari rezeki yang berkah. Oleh karena itu, menjaga kejujuran dalam mencari nafkah dan kehati-hatian dalam memilih konsumsi adalah fondasi penting bagi seorang Mukmin.