Surat Al-Zalzalah (Az-Zalzalah) adalah surat ke-99 dalam urutan Mushaf Al-Qur'an. Surat ini termasuk golongan Makkiyah dan terdiri dari 8 ayat. Nama surat ini diambil dari kata Zalzalah yang berarti kegoncangan, merujuk pada peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat, yaitu saat bumi diguncangkan dengan guncangan yang luar biasa.
Membaca dan memahami surat ini memberikan peringatan keras tentang pertanggungjawaban mutlak atas setiap amal perbuatan, sekecil apapun itu.
1. Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,
2. dan bumi telah mengeluarkan isi yang dibawanya,
3. dan manusia bertanya, "Ada apa dengan bumi ini?"
4. Pada hari itu bumi menceritakan berita tentang dirinya,
5. karena sesungguhnya Tuhannya telah memerintahkan demikian kepadanya.
6. Pada hari itu manusia keluar dari kubur dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka balasan atas perbuatan mereka.
7. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat hasilnya.
8. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat hasilnya.
Surat Al-Zalzalah memfokuskan perhatian kita pada satu momen krusial: Hari Kiamat. Ayat pertama menggambarkan bagaimana bumi, yang selama ini menjadi saksi bisu kehidupan manusia, akan mengalami goncangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Goncangan ini bukan sekadar gempa bumi biasa, melainkan guncangan pemutusan total kehidupan duniawi. Bumi yang kita pijak, yang selama ini menopang kita, akan ‘bersuara’ dan mengeluarkan semua yang telah disimpannya.
Para ulama menafsirkan "mengeluarkan isinya" (أَثْقَالَهَا) sebagai keluarnya semua mayat dari kubur mereka, serta keluarnya segala harta terpendam dan rahasia yang tersembunyi di perut bumi. Keterkejutan manusia digambarkan dalam ayat ketiga, saat mereka saling bertanya dengan kebingungan, tidak memahami apa yang sedang terjadi pada planet tempat mereka pernah hidup.
Puncak dari kegoncangan ini adalah ketika bumi ‘berbicara’ atas izin Allah (وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا). Bumi menjadi saksi atas setiap perbuatan, setiap langkah, setiap niat yang pernah dilakukan di atasnya. Hal ini menekankan konsep pengawasan ilahi yang menyeluruh. Tidak ada satu pun perbuatan, baik yang tampak maupun tersembunyi, yang luput dari catatan.
Ayat 6 hingga 8 adalah inti peringatan moral dari surat ini. Pada hari itu, semua manusia akan dikumpulkan (يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا) dalam keadaan terpisah-pisah—ada yang menuju surga, ada pula yang menuju neraka—untuk dimintai pertanggungjawaban amal mereka. Konsep ini diperkuat dengan penekanan luar biasa pada timbangan amal:
Penekanan pada "seberat zarrah" ini mengajarkan kita tentang pentingnya integritas dalam setiap tindakan. Dalam kehidupan dunia, seringkali kita meremehkan dosa kecil atau enggan melakukan kebaikan kecil karena merasa tidak signifikan. Surat Al-Zalzalah menegaskan bahwa di hadapan Allah, tidak ada yang sepele. Setiap usaha dan maksiat dicatat dan akan diperhitungkan secara adil tanpa pengurangan sedikit pun.
Surat Al-Zalzalah berfungsi sebagai pengingat akan akhir dari fase ujian duniawi dan dimulainya fase pertanggungjawaban hakiki. Memahami isinya mendorong seorang Muslim untuk selalu waspada, meningkatkan amal kebaikan sekecil apa pun, dan menjauhi segala bentuk keburukan, karena bumi dan alam semesta adalah saksi sejati atas setiap langkah hidup kita di hadapan Sang Pencipta.