Memahami Penyakit HIV/AIDS

Pengenalan Penyakit HIV/AIDS

Penyakit HIV AIDS yakni penyakit menular yang disebabkan oleh Virus Imunodefisiensi Manusia (HIV). HIV adalah retrovirus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4 atau sel T helper. Sel-sel ini sangat penting dalam membantu tubuh melawan infeksi dan penyakit. Ketika sistem kekebalan tubuh rusak secara progresif, tubuh menjadi rentan terhadap berbagai infeksi oportunistik dan jenis kanker tertentu. Tahap akhir dari infeksi HIV yang tidak diobati adalah Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

Penting untuk membedakan antara HIV dan AIDS. HIV adalah virusnya, sedangkan AIDS adalah sindrom (kumpulan gejala penyakit) yang muncul setelah infeksi HIV berkembang tanpa penanganan yang memadai selama bertahun-tahun. Meskipun belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, pengobatan antiretroviral (ARV) yang tersedia saat ini sangat efektif dalam mengendalikan replikasi virus, memungkinkan orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) untuk memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan populasi umum dan mencegah perkembangan menjadi AIDS.

Ilustrasi skematis virus HIV

Bagaimana Penularan HIV Terjadi?

Penularan penyakit HIV AIDS yakni penyakit menular yang disebabkan oleh kontak dengan cairan tubuh tertentu yang terinfeksi virus. Cairan-cairan tersebut meliputi darah, air mani (sperma), cairan pra-ejakulasi, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Penting untuk dicatat bahwa HIV tidak menular melalui udara, air, sentuhan biasa, gigitan nyamuk, atau berbagi makanan dan minuman.

Tiga jalur utama penularan HIV adalah:

  1. Hubungan Seksual: Melakukan hubungan seksual tanpa kondom (anal, vaginal, atau oral) dengan seseorang yang status HIV-nya positif.
  2. Berbagi Penggunaan Jarum Suntik:** Umumnya terjadi pada pengguna narkoba suntik yang berbagi jarum, atau melalui prosedur medis yang tidak steril (meskipun risiko ini sangat rendah di fasilitas kesehatan modern yang patuh standar).
  3. Transmisi Vertikal (Ibu ke Anak): Seorang ibu yang hidup dengan HIV dapat menularkan virus kepada bayinya selama kehamilan, saat proses persalinan, atau melalui menyusui. Namun, dengan terapi ARV yang tepat selama kehamilan dan persalinan, risiko penularan ini bisa ditekan hingga kurang dari 1%.

HIV juga bisa ditularkan melalui transfusi darah yang terkontaminasi, namun prosedur skrining darah yang ketat saat ini telah hampir menghilangkan risiko penularan melalui jalur ini di banyak negara.

Tahapan Infeksi dan Pentingnya Pengobatan

Infeksi HIV melalui beberapa tahapan jika tidak diobati. Tahap pertama adalah infeksi akut, di mana virus bereplikasi dengan cepat dan gejala seperti flu mungkin muncul. Tahap kedua adalah periode laten klinis, di mana virus tetap aktif tetapi bereplikasi pada tingkat yang lebih rendah, dan penderita mungkin tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Tanpa pengobatan, virus akan terus merusak sel CD4.

Ketika jumlah sel CD4 turun di bawah ambang batas tertentu (biasanya kurang dari 200 sel per milimeter kubik darah), atau ketika muncul infeksi oportunistik tertentu (seperti Pneumocystis pneumonia atau sarkoma Kaposi), status seseorang dinyatakan telah berkembang menjadi AIDS. Pada tahap ini, sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah, dan risiko kematian akibat penyakit penyerta sangat tinggi.

Pengobatan ARV modern memungkinkan ODHIV untuk mencapai status 'Tidak Terdeteksi = Tidak Menular' (Undetectable = Untransmittable/U=U). Ini berarti jika seseorang mengonsumsi obat ARV secara teratur dan viral load-nya tidak terdeteksi dalam darah, mereka tidak akan menularkan virus melalui hubungan seksual. Oleh karena itu, diagnosis dini dan kepatuhan terhadap pengobatan adalah kunci untuk menjaga kesehatan individu dan mencegah penularan lebih lanjut.

🏠 Homepage