Surat Al-Zalzalah Menerangkan Tanda-Tanda Permulaan

Representasi visual gempa dan guncangan bumi

Kengerian Hari Kiamat dalam Surat Al-Zalzalah

Di antara surat-surat pendek dalam Al-Qur'an, Surat Az-Zalzalah (Surat ke-99) memegang peranan penting dalam memberikan gambaran eksplisit mengenai salah satu peristiwa terbesar yang akan melanda alam semesta: Hari Kiamat. Surat ini dibuka dengan deskripsi guncangan bumi yang luar biasa, sebuah sinyal tak terbantahkan bahwa masa penundaan telah berakhir dan penghakiman Ilahi akan segera dimulai.

"Idza zulzilatil ardu zilzaalahaa (1), Wa akhrajatil ardu atsqalahaa (2), Wa qaalal insaanu maalaa haa (3)"
(Apabila bumi diguncangkan dengan goncangan yang dahsyat, dan bumi mengeluarkan isi beratnya, dan manusia berkata: "Kenapa bumi ini?")

Ayat pertama secara tegas menjelaskan peristiwa permulaan. Ini bukanlah gempa bumi biasa yang sering terjadi di masa kehidupan duniawi kita. Guncangan ini bersifat universal, melanda seluruh permukaan bumi, mengguncangnya dengan kekuatan yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Ini adalah tanda pertama, sebuah pembukaan tirai menuju era pertanggungjawaban.

Pengungkapan Rahasia Buminya

Tanda permulaan yang kedua digambarkan dalam ayat kedua, di mana bumi akan "mengeluarkan isi beratnya" (Atsqalaha). Para ulama menafsirkan hal ini dalam beberapa cara, yang semuanya mengarah pada kengerian yang sama. Ada yang berpendapat bahwa bumi akan memuntahkan semua mayat yang pernah dikubur di dalamnya, menghidupkan kembali setiap jiwa untuk proses hisab. Ada pula yang menafsirkannya sebagai keluarnya semua harta terpendam, logam mulia, dan segala sesuatu yang selama ini tersembunyi di perut bumi, sebagai bukti bahwa tidak ada satu pun kekayaan dunia yang akan dibawa mati.

Reaksi manusia ketika menyaksikan fenomena ini digambarkan dengan sangat jelas dalam ayat ketiga: seruan kebingungan dan ketidakpercayaan. "Maa lahaa?" (Mengapa ini terjadi padanya?). Manusia, yang tadinya sibuk dengan urusan duniawi, kini dihadapkan pada realitas kosmik yang melampaui pemahaman mereka. Mereka menyadari bahwa sistem alam yang selama ini mereka anggap stabil telah runtuh.

Penyampaian Laporan Amal

Setelah guncangan dahsyat dan pengungkapan isi bumi, fokus beralih pada peran bumi sebagai saksi atas perbuatan manusia. Allah SWT berfirman dalam ayat berikutnya:

"Yauma idzin tuhaadditsu akhbaarahaa (4), Bi anna rabbaka auhaa lahaa (5)"
(Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan (memerintahkan) kepadanya.)

Bumi, yang selama ini diam dan menjadi alas pijakan, kini diperintahkan oleh Tuhan untuk "berbicara." Ia akan menyampaikan laporan lengkap mengenai semua kejadian yang pernah terjadi di atasnya. Setiap langkah, setiap perbuatan baik (ma’ruf) maupun keburukan (munkar), setiap bisikan dan tindakan tersembunyi akan diungkapkan. Ini adalah sistem pencatatan yang sempurna, tanpa ada ruang untuk penyangkalan atau pembelaan diri yang palsu.

Penyempurnaan Keadilan

Surat Al-Zalzalah ditutup dengan janji tentang keadilan mutlak, yang menegaskan bahwa guncangan dan pengungkapan tersebut bukan tanpa tujuan. Tujuannya adalah agar manusia menerima hasil dari perbuatannya:

"Man 'amila mitsqoola dzarrotin khairan yarooh (7), Wa man 'amila mitsqoola dzarrotin syarran yarooh (8)"
(Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat hasilnya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat hasilnya.)

Konsep "mitsqoola zarrah" (seberat atom atau zarrah terkecil) menekankan prinsip bahwa dalam hisab akhirat, tidak ada perbuatan, sekecil apa pun, yang akan terlewatkan. Guncangan dahsyat yang digambarkan di awal surat ini berfungsi sebagai pemantik, pengingat keras bahwa kehidupan dunia hanyalah ujian singkat sebelum kita berdiri di hadapan bumi yang telah bersaksi, menanti pertanggungjawaban atas setiap detik yang telah kita lalui. Memahami Surat Al-Zalzalah adalah memahami urgensi untuk berbekal amal saleh selagi waktu masih ada.

🏠 Homepage