Visualisasi Simbolis Pemberian Karunia
كُلًّا نُّمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
Kepada masing-masing di antara mereka (orang-orang yang meminta dan yang tidak meminta), Kami berikan pertolongan dari kemurahan Tuhanmu. Dan karunia Tuhanmu tidak terhalang. (QS. Al-Isra: 20)
Al-Isra Ayat 20 adalah salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang menyingkapkan keagungan sifat *Ar-Razzaq* (Pemberi Rezeki) dan *Al-Wahhab* (Maha Pemberi) dari Allah SWT. Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa meskipun manusia memiliki tingkat keimanan dan ketaatan yang berbeda, rezeki dan pertolongan Allah SWT tetap mengalir kepada semua golongan.
Lafaz "كُلًّا نُّمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ" (Kepada masing-masing di antara mereka kami berikan pertolongan) seringkali diinterpretasikan mencakup dua kelompok besar: pertama, mereka yang meminta pertolongan secara lahiriah, dan kedua, mereka yang hidup dalam kesempitan namun memilih untuk bersabar tanpa meminta (mampu menahan diri). Allah memberikan rezeki kepada keduanya, namun dengan tujuan yang berbeda. Bagi yang beriman dan bersyukur, rezeki itu menjadi sarana ibadah dan peningkatan derajat. Bagi yang kufur, rezeki itu bisa menjadi istidraj (kenikmatan yang menyesatkan).
Puncak penekanan ayat ini terdapat pada frasa "وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا" (Dan karunia Tuhanmu tidak terhalang). Kata "mahzhur" secara harfiah berarti tertahan, terlarang, atau terhalang. Implikasi mendalam dari kalimat ini adalah bahwa kedermawanan Allah tidak dibatasi oleh kesalahan atau dosa yang dilakukan hamba-Nya di masa lalu, tidak pula dibatasi oleh status sosial, kekayaan, atau bahkan permintaan mereka.
Ini mengajarkan prinsip tauhid yang kokoh bahwa semua sumber daya di alam semesta ini berada di bawah kendali tunggal-Nya. Jika manusia melihat seseorang diberi kemudahan dalam hidupnya, hal itu bukan karena kehebatan orang tersebut semata, melainkan karena kemurahan Ilahi yang meliputi seluruh ciptaan. Ayat ini menghilangkan pandangan bahwa rezeki hanya diberikan kepada orang-orang yang paling taat secara sempurna, sebab kesempurnaan hanya milik Allah.
Secara spiritual, ayat ini mendorong umat Islam untuk selalu berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah, bahkan ketika menghadapi kesulitan ekonomi atau masalah duniawi. Kesulitan tersebut mungkin adalah ujian, bukan berarti Allah telah menutup pintu rezeki-Nya. Sebaliknya, karunia Allah hadir dalam berbagai bentuk: kesehatan, akal, kesempatan bertaubat, hingga sekadar nikmat nafas.
Secara sosial, ayat ini menjadi landasan kuat untuk menumbuhkan sikap tidak menghakimi kondisi ekonomi orang lain. Karena rezeki adalah karunia yang tidak terhalang, kita tidak boleh beranggapan bahwa orang miskin adalah orang yang paling dibenci Allah, atau sebaliknya. Seseorang yang tampak sukses duniawi mungkin sedang diuji dengan kesombongan, sementara seseorang yang hidup sederhana mungkin sedang dikaruniai ketenangan hati yang tak ternilai harganya.
Keberlangsungan pemberian pertolongan (imdad) dari Allah memastikan bahwa kehidupan dunia terus berjalan sesuai skema-Nya, memberikan kesempatan tanpa henti bagi setiap individu untuk kembali kepada jalan yang benar. Kedermawanan-Nya adalah abadi, luas, dan selalu tersedia bagi mereka yang mau menyadari dan mengupayakan jalan menuju sumber karunia tersebut. Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satupun makhluk di bumi ini yang luput dari jangkauan rezeki dan rahmat-Nya, meskipun cara dan tujuannya bervariasi sesuai hikmah yang Maha Agung.