Peristiwa Isra dan Mikraj adalah salah satu mukjizat agung yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Perjalanan luar biasa ini adalah sebuah peneguhan iman dan penghormatan tertinggi dari Allah SWT kepada Rasul-Nya. Meskipun kisah ini diceritakan secara rinci dalam berbagai hadis, Al-Qur'an memberikan isyarat penting mengenai peristiwa tersebut, terutama dalam firman Allah SWT di Surat An-Najm.
Simbol perjalanan suci
Surat An-Najm (Bintang), ayat 13 hingga 18, adalah rujukan utama dalam Al-Qur'an yang secara implisit menggambarkan sebagian dari pengalaman visioner Nabi Muhammad SAW terkait perjalanan surgawi. Surat ini dibuka dengan sumpah Allah SWT atas bintang-bintang ketika terbenam, memberikan penekanan pada kebenaran wahyu yang dibawa Nabi.
Ayat kunci yang sering dikaitkan dengan Mikraj adalah firman Allah:
"Dan sungguh, Muhammad telah melihat Jibril pada waktu yang lain, (yaitu) di dekat Sidratul Muntaha, di sisi-Nya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika langit tertutup dengan cahaya yang sangat besar, lalu dia mendekat dan turun lebih dekat lagi, sehingga jaraknya (antara Nabi dan Jibril) seumpama dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu diwahyukan kepada hambanya apa yang telah diwahyukan-Nya." (QS. An-Najm: 13-16)
Para mufassir sepakat bahwa gambaran ini merujuk pada pertemuan Nabi dengan Jibril AS pada derajat yang sangat tinggi di langit, melebihi batas yang telah dicapai sebelumnya. Penglihatan ini merupakan bagian integral dari Mikraj, perjalanan vertikal Nabi ke tingkatan-tingkatan langit.
Surat An-Najm tidak secara eksplisit menceritakan keseluruhan perjalanan Isra (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan Mikraj (dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha). Namun, ayat-ayat tersebut fokus pada puncak pengalaman Mikraj: pertemuan dengan Jibril di Sidratul Muntaha.
Sidratul Muntaha sendiri digambarkan sebagai batas akhir yang hanya bisa dicapai oleh ruh dan malaikat terpilih. Kata Sidrah berarti pohon bidara, dan Muntaha berarti tujuan akhir. Ini adalah pohon sakral yang menjadi penanda batas tertinggi alam semesta yang bisa diakses oleh makhluk biasa.
Kejadian ini menekankan keaslian risalah Nabi. Ketika Nabi kembali membawa wahyu dari tingkatan yang sangat tinggi tersebut, hal itu menjadi bukti nyata kebenaran pengalamannya. Wahyu yang diterima di sana, termasuk perintah shalat lima waktu, merupakan inti dari ajaran Islam yang dibawa kembali kepada umat manusia.
Kisah yang diisyaratkan dalam An-Najm ini berfungsi sebagai penguatan bagi kaum mukminin yang meragukan kebenaran ajaran Nabi. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa wahyu yang diterima Nabi bukan berasal dari khayalan atau perkataan manusia biasa, melainkan diturunkan langsung dari sisi Allah SWT setelah melalui perjalanan spiritual yang agung.
Bagi Nabi Muhammad SAW sendiri, pengalaman ini adalah penyegaran ruhani dan peneguhan posisi beliau sebagai penutup para nabi. Melihat kebesaran ciptaan Allah di tingkatan yang tak terbayangkan oleh manusia biasa memberikan perspektif mendalam tentang kekuasaan dan keagungan Tuhan semesta alam.
Oleh karena itu, ketika membaca Surat An-Najm, umat Islam diajak untuk merenungkan kebenaran dari setiap kata yang diwahyukan, karena mereka tahu bahwa di dalamnya tersimpan kisah perjalanan agung Nabi Muhammad SAW yang menyentuh batas-batas kosmos, sebuah mukjizat yang hanya diizinkan Allah SWT kepada hamba-Nya yang terpilih.