Berapa Surah Dalam Al-Quran? Menjelajahi Struktur 114 Bab Suci

Struktur 114 Surah ١١٤ Seratus Empat Belas Surah

Struktur Ilahi Al-Quran: 114 Surah yang Tersusun Sempurna

Pertanyaan mengenai berapa jumlah surah atau bab yang terkandung dalam Kitab Suci Al-Quran adalah pertanyaan fundamental yang membawa kita pada pemahaman mendalam tentang struktur wahyu Ilahi. Jawabannya adalah pasti, tidak berubah sejak penyempurnaan wahyu hingga saat ini, dan disepakati oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia. Al-Quran, mukjizat abadi bagi Nabi Muhammad ﷺ, tersusun rapi dalam sebuah arsitektur yang sangat spesifik.

Jawaban definitif yang diyakini secara konsensus (Ijma') oleh seluruh ulama dan umat Muslim adalah bahwa Al-Quran terdiri dari 114 (seratus empat belas) surah. Struktur ini, yang dimulai dari Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah An-Nas, merupakan bagian integral dari pemeliharaan Ilahi terhadap Kitab Suci ini.

Kepastian Angka 114 dan Makna Istilah 'Surah'

Angka 114 bukanlah angka yang ditentukan oleh manusia atau hasil dari penyuntingan editorial; melainkan merupakan ketetapan wahyu yang diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama kurang lebih 23 tahun. Penataan dan urutan surah yang kita temukan dalam mushaf standar (Mushaf Utsmani) adalah Tawqifi, artinya penetapannya bersumber langsung dari petunjuk Ilahi melalui Jibril kepada Rasulullah.

Definisi Surah

Secara bahasa, kata "surah" (سورة) dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna, termasuk pagar, kedudukan, atau deretan. Dalam konteks Al-Quran, surah merujuk pada satu kesatuan teks wahyu yang memiliki awal dan akhir yang jelas, dan terdiri dari minimal satu ayat. Surah adalah batas yang memisahkan satu bab Al-Quran dari bab lainnya. Ke-114 surah ini berbeda-beda panjangnya, mulai dari yang terpendek (Al-Kautsar, 3 ayat) hingga yang terpanjang (Al-Baqarah, 286 ayat).

Konsensus Historis

Setelah wafatnya Rasulullah, proses kodifikasi Al-Quran memastikan bahwa tidak ada perselisihan mengenai jumlah surah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan kemudian Utsman bin Affan, penyusunan mushaf standar bertujuan untuk menghilangkan potensi perbedaan bacaan dan urutan. Hasil dari upaya kodifikasi ini menguatkan jumlah 114 surah sebagai jumlah mutlak dan definitif.

Klasifikasi Surah Berdasarkan Masa Penurunan (Makkiyah dan Madaniyah)

Meskipun semua 114 surah memiliki bobot dan otoritas yang sama, para ulama membagi surah-surah ini menjadi dua kategori utama berdasarkan tempat dan waktu penurunannya, yaitu Makkiyah dan Madaniyah. Pembagian ini bukan hanya klasifikasi geografis, tetapi juga kunci untuk memahami konteks hukum, doktrin, dan perkembangan dakwah Islam.

1. Surah Makkiyah (60% dari Jumlah Total)

Surah Makkiyah adalah surah-surah yang diturunkan sebelum peristiwa Hijrah (migrasi) Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah. Meskipun dinamakan Makkiyah, ini mencakup wahyu yang diturunkan di Makkah atau di sekitarnya sebelum Hijrah, seperti di Mina atau Arafah.

Secara umum, terdapat sekitar 86 surah yang tergolong Makkiyah. Surah-surah ini ditandai dengan ciri-ciri utama yang mencerminkan fase awal dakwah yang penuh tantangan:

2. Surah Madaniyah (40% dari Jumlah Total)

Surah Madaniyah adalah surah-surah yang diturunkan setelah Hijrah, terlepas dari lokasi penurunannya (bisa di Madinah, dalam perjalanan, atau bahkan saat perang di Makkah setelah penaklukan). Ada sekitar 28 surah yang tergolong Madaniyah.

Ciri-ciri utama surah Madaniyah mencerminkan fase pembentukan negara dan masyarakat Islam:

Pengelompokan 114 Surah Berdasarkan Panjangnya (Empat Kategori Utama)

Selain pembagian Makkiyah dan Madaniyah, para ulama juga mengelompokkan 114 surah berdasarkan panjang relatifnya, yang sangat membantu dalam penghafalan, pengajaran, dan pemahaman tematik. Pengelompokan ini dikenal sebagai:

1. As-Sab’uth Thiwal (Tujuh Surah yang Panjang)

Ini adalah tujuh surah terpanjang dalam Al-Quran, yang merupakan landasan bagi banyak hukum dan kisah-kisah penting. Tujuh surah ini adalah:

  1. Al-Baqarah (Sapi Betina): 286 ayat. Surah terpanjang, berisi hukum-hukum fundamental, kisah Bani Israil, dan syariat yang luas.
  2. Ali 'Imran (Keluarga 'Imran): 200 ayat. Melanjutkan tema hukum dan membahas perdebatan dengan Nasrani.
  3. An-Nisa' (Wanita): 176 ayat. Fokus pada hukum keluarga, hak wanita, warisan, dan tata kelola sosial.
  4. Al-Ma'idah (Hidangan): 120 ayat. Menetapkan hukum halal dan haram, serta kritik terhadap penyimpangan Ahli Kitab.
  5. Al-An'am (Binatang Ternak): 165 ayat. Surah Makkiyah terpanjang, berfokus kuat pada argumentasi tauhid dan menolak syirik.
  6. Al-A'raf (Tempat Tertinggi): 206 ayat. Menjelaskan kisah para nabi dan perdebatan antara penduduk Surga dan Neraka.
  7. At-Taubah (Pengampunan): 129 ayat, atau Al-Anfal (Rampasan Perang) 75 ayat, dan At-Taubah. Beberapa ulama menghitung dua surah terakhir (Yunus, Hud) sebagai pelengkap ketujuh, tetapi umumnya, tujuh surah pertama yang panjang inilah yang dimaksud. At-Taubah adalah surah unik karena tidak diawali dengan Basmalah.

2. Al-Mi’un (Surah-Surah yang Berjumlah Sekitar Seratus Ayat)

Kelompok ini terdiri dari surah-surah yang memiliki ayat di sekitar angka 100, atau setidaknya lebih dari 50 ayat, dan panjangnya di bawah kategori Sab'uth Thiwal. Contohnya termasuk Surah Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’d, dan Al-Kahfi. Surah-surah ini sering kali sarat dengan kisah-kisah nabi dan pelajaran sejarah mendalam.

3. Al-Matsani (Surah-Surah yang Diulang-ulang)

Al-Matsani (artinya yang diulang-ulang) adalah kelompok surah yang panjangnya menengah, berada di antara Al-Mi’un dan Al-Mufassal. Dinamakan demikian karena sering dibaca atau diulang-ulang, atau karena isinya merupakan pengulangan atau penyempurnaan dari tema-tema yang sudah dibahas di surah-surah yang lebih panjang. Jumlah surah dalam kelompok ini bervariasi, meliputi sebagian besar surah Makkiyah dengan panjang sedang (misalnya Surah Maryam, Thaha, Al-Anbiya').

4. Al-Mufassal (Surah-Surah yang Pendek dan Terpisah Jelas)

Kelompok Al-Mufassal (artinya yang terperinci/terpisah) dimulai dari Surah Qaf (atau kadang dari Surah Al-Hujurat) hingga Surah An-Nas. Dinamakan demikian karena surah-surah ini pendek-pendek, sehingga sering dipisahkan oleh Basmalah (sehingga banyak 'fashl' atau pemisah). Kelompok ini sendiri dibagi lagi menjadi tiga sub-kategori, yang merupakan bagian terbesar dari keseluruhan 114 surah:

A. Thiwalul Mufassal (Yang Panjang dari Al-Mufassal)

Dimulai dari Surah Qaf (Surah ke-50) hingga Surah An-Naba’ (Surah ke-78). Surah-surah ini masih relatif panjang jika dibandingkan dengan bagian akhir Al-Quran.

B. Awsathul Mufassal (Yang Menengah dari Al-Mufassal)

Dimulai dari Surah An-Naba’ (Surah ke-78) hingga Surah Adh-Dhuha (Surah ke-93). Ditandai dengan gaya bahasa yang cepat dan penekanan kuat pada hari kiamat dan kekuasaan Allah.

C. Qisharul Mufassal (Yang Pendek dari Al-Mufassal)

Dimulai dari Surah Al-Insyirah (Surah ke-94) hingga Surah An-Nas (Surah ke-114). Ini adalah surah-surah yang paling sering dihafal dan dibaca dalam shalat karena pendek dan padat maknanya.

Analisis 114 Surah: Perjalanan Tematik dari Awal Hingga Akhir

Untuk memahami mengapa jumlah 114 ini begitu sempurna, kita perlu melihat bagaimana surah-surah ini disusun dalam Mushaf. Urutan ini—yang berbeda dari urutan kronologis penurunan—memiliki koherensi (disebut *munasabah*) yang luar biasa, di mana setiap surah seolah-olah menyiapkan pembaca untuk surah berikutnya.

Fase I: Fondasi dan Legislasi Agung (Surah 1 - 9)

Periode ini, didominasi oleh *Sab’uth Thiwal*, meletakkan dasar hukum, akidah, dan sejarah kenabian.

1. Al-Fatihah (Pembukaan): Tujuh ayat yang merupakan doa inti dan ringkasan seluruh pesan Al-Quran. Ini adalah wajib bagi setiap shalat.
2. Al-Baqarah (Sapi Betina): Piagam Madinah. Hukum-hukum sosial, ekonomi, ibadah, dan pernikahan.
3. Ali 'Imran (Keluarga 'Imran): Stabilitas komunitas dan pelajaran dari dua kelompok besar: Bani Israil dan pengikut Yesus.
4. An-Nisa' (Wanita): Keadilan sosial, hak-hak perempuan dan anak yatim, serta hukum perang.
5. Al-Ma'idah (Hidangan): Penyempurnaan syariat, hukum-hukum makanan, dan kewajiban menunaikan janji.
6. Al-An'am (Binatang Ternak): Penegasan tauhid dan penghancuran syirik. Fokus pada kebenaran kenabian.
7. Al-A'raf (Tempat Tertinggi): Konflik abadi antara kebenaran dan kebatilan, ditinjau melalui sejarah nabi-nabi (Nuh, Hud, Syu'aib, Musa).
8. Al-Anfal (Rampasan Perang): Pelajaran dari Perang Badar dan etika perang.
9. At-Taubah (Pengampunan): Deklarasi lepas dari perjanjian dengan kaum musyrikin dan hukum jihad. Menutup Basmalah.

Fase II: Kisah Para Nabi dan Peringatan (Surah 10 - 36)

Fase ini didominasi oleh surah-surah Mi’un dan Matsani yang Makkiyah, berfokus pada kekuatan janji Allah dan bukti-bukti kenabian.

10. Yunus: Tantangan bagi mereka yang meragukan wahyu.
11. Hud: Peringatan keras bagi kaum yang menolak nabi mereka.
12. Yusuf: Narasi lengkap dan kohesif tentang kisah Nabi Yusuf, pelajaran kesabaran dan takdir Ilahi.
13. Ar-Ra'd (Guruh): Kekuatan alam sebagai bukti kekuasaan Allah.
14. Ibrahim: Doa dan perjuangan Nabi Ibrahim dalam mendirikan tauhid.
15. Al-Hijr: Penghancuran kaum yang mencemooh nabi mereka.
16. An-Nahl (Lebah): Menggambarkan nikmat Allah di alam semesta.
17. Al-Isra' (Perjalanan Malam): Peristiwa Isra' Mi’raj dan prinsip-prinsip moral utama.
18. Al-Kahfi (Gua): Empat kisah besar (Ashabul Kahfi, dua kebun, Musa dan Khidir, Dzulqarnain) sebagai perlindungan dari fitnah akhir zaman.
... hingga 36. Ya Sin: Jantung Al-Quran, berfokus pada Hari Kebangkitan.

Fase III: Kekuatan dan Kekuasaan (Surah 37 - 49)

Melanjutkan tema Makkiyah dengan penekanan pada kebesaran Allah (Rububiyah) dan perdebatan tentang penciptaan.

37. As-Saffat (Barisan-Barisan): Menolak klaim syirik terhadap malaikat dan menegaskan kesatuan malaikat.
38. Shad: Kisah Nabi Daud dan Sulaiman serta pentingnya bertobat.
39. Az-Zumar (Rombongan-Rombongan): Menggambarkan perbedaan nasib rombongan orang beriman dan kafir di hari kiamat.
... hingga 49. Al-Hujurat (Kamar-Kamar): Fokus pada etika sosial, menghormati Nabi, dan persaudaraan. Ini adalah surah Madaniyah penting.

Fase IV: Al-Hawamim (Surah Berawalan Ha Mim) dan Pertempuran Hukum (Surah 40 - 58)

Sebagian besar surah ini adalah Makkiyah dan disebut "Al-Hawamim" karena diawali dengan huruf *Ha Mim*. Mereka berfokus pada kekuasaan Allah dan konsekuensi menolak kebenaran.

Empat surah terakhir dari kelompok ini kembali ke Madaniyah, menetapkan hukum dan tatanan masyarakat Islam secara lebih terperinci.

40. Ghafir (Maha Pengampun): Tentang kekuasaan Allah yang Maha Pengampun dan kisah pembela Musa.
41. Fussilat (Dijelaskan): Kemukjizatan Al-Quran.
42. Asy-Syura (Musyawarah): Pentingnya musyawarah dalam penetapan hukum.
... hingga 58. Al-Mujadilah (Gugatan): Surah Madaniyah pertama yang diawali dengan nama Allah (Qad sami'a...), fokus pada adab dalam berdebat dan konspirasi munafik.

Struktur Terakhir: Al-Mufassal (Surah 50 - 114)

Surah-surah Al-Mufassal mencakup lebih dari separuh jumlah surah dalam Al-Quran (sekitar 65 surah), meskipun hanya menempati porsi kecil dari volume ayat keseluruhan. Surah-surah ini sangat penting karena diturunkan di saat-saat kritis dakwah dan berfungsi sebagai ringkasan peringatan, ancaman, dan harapan.

Thiwalul Mufassal (Surah 50 - 78)

Fokus pada penggambaran detail Hari Kiamat dan kebangkitan kembali setelah kematian. Contoh Surah:

50. Qaf: Pembelaan terhadap konsep kebangkitan.
51. Adz-Dzariyat (Angin yang Menerbangkan): Bukti kekuasaan Allah melalui angin dan alam.
55. Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih): Surah yang indah dengan pengulangan "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
56. Al-Waqi'ah (Hari Kiamat): Penggambaran tiga golongan manusia saat Kiamat.
67. Al-Mulk (Kerajaan): Kekuatan Allah atas seluruh ciptaan.

Pada fase ini, surah-surah Madaniyah yang singkat (seperti Al-Muthaffifin) disisipkan untuk memperkuat aturan bisnis yang adil.

Awsathul Mufassal dan Qisharul Mufassal (Surah 79 - 114)

Ini adalah bagian terakhir dan terpadat dari Al-Quran, yang sering dijuluki "surah-surah peringatan". Kebanyakan surah di sini sangat pendek, tajam, dan sarat dengan sumpah alam (bersumpah demi waktu, demi matahari terbit) untuk menarik perhatian pendengar Makkah yang skeptis.

Setiap surah di bagian ini berfungsi sebagai palu godam akidah, menegaskan satu atau dua tema sentral:

Penghujung Al-Quran: Surah-Surah Perlindungan (Tiga Qul)

Tiga surah terakhir dari 114 surah ini memiliki fungsi yang sangat spesifik dan fundamental dalam praktik keagamaan sehari-hari, sering disebut sebagai *Al-Mu’awwidzat* (surah-surah pelindung).

112. Al-Ikhlas (Memurnikan Keesaan): Empat ayat yang merupakan definisi singkat dan sempurna tentang keesaan Allah, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Membaca surah ini setara dengan sepertiga Al-Quran dalam bobot pahalanya.
113. Al-Falaq (Waktu Subuh): Permintaan perlindungan kepada Allah dari kejahatan makhluk, dari kegelapan malam, dari tukang sihir, dan dari orang-orang yang dengki.
114. An-Nas (Manusia): Permintaan perlindungan kepada Allah, Raja Manusia, Ilah Manusia, dari bisikan (waswas) setan yang bersembunyi di dalam hati manusia.

Ke-114 surah ini, dengan penutup yang fokus pada perlindungan spiritual, menegaskan bahwa struktur Al-Quran bukan sekadar kumpulan teks, tetapi sebuah kurikulum spiritual yang terstruktur, mengajarkan doktrin, hukum, dan cara untuk bertahan dari godaan hingga akhir hayat.

Detail-Detail Lain Tentang Jumlah Surah

Walaupun jumlah 114 surah adalah mutlak, ada beberapa detail tambahan yang memperkaya pemahaman kita tentang struktur Al-Quran, terutama terkait dengan ayat dan penamaan.

Perbedaan Jumlah Ayat

Meskipun jumlah surah disepakati 114, jumlah ayat dalam Al-Quran sedikit berbeda antara satu mazhab qira’ah (bacaan) dengan yang lain. Perbedaan ini bukan karena ada ayat yang hilang, melainkan karena perbedaan cara menghitung *fawasil* (pemisah ayat), terutama terkait apakah Basmalah dihitung sebagai ayat pertama di setiap surah (kecuali At-Taubah) atau tidak, dan bagaimana memisahkan ayat-ayat yang panjang. Namun, perbedaan hitungan ayat ini tidak memengaruhi jumlah surah yang tetap 114.

Surah yang Memiliki Banyak Nama

Beberapa surah, terutama yang penting dan sering dibaca, memiliki beberapa nama. Ini menunjukkan kedalaman maknanya. Contoh paling terkenal adalah Surah Al-Fatihah, yang memiliki lebih dari sepuluh nama, antara lain:

Surah lain seperti At-Taubah juga dikenal sebagai *Al-Bara’ah* (Pemutusan Hubungan). Namun, terlepas dari banyaknya nama panggilan, surah-surah ini tetap dihitung sebagai satu unit dalam struktur 114 surah.

Pentingnya Basmalah sebagai Pemisah Surah

Setiap surah, kecuali Surah At-Taubah (Surah ke-9), diawali dengan بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang). Keberadaan Basmalah sebanyak 113 kali ini menegaskan batas antara surah-surah dan berfungsi sebagai kunci pembuka rahmat. Ketiadaan Basmalah pada Surah At-Taubah diyakini karena surah tersebut memuat deklarasi perang dan pemutusan hubungan, yang tidak sesuai dengan makna Rahmat Allah yang diusung Basmalah.

Peran dan Hikmah Jumlah 114

Angka 114 melambangkan kelengkapan dan keutuhan risalah. Setiap surah, walaupun berdiri sendiri, terjalin erat dengan surah sebelum dan sesudahnya melalui konsep *munasabah* (koherensi tematik). Susunan ini adalah bukti nyata bahwa Al-Quran adalah firman yang teratur dan terencana, bukan sekadar kompilasi acak dari wahyu-wahyu yang diturunkan selama 23 tahun.

Sebagai contoh koherensi 114 surah:

Surah Al-Baqarah banyak berbicara tentang komunitas Madinah, ujian, dan syariat yang harus dijalankan. Ia diakhiri dengan doa memohon pertolongan agar tidak dibebani melebihi kemampuan. Langsung setelahnya, Surah Ali 'Imran dimulai dengan menekankan bahwa Allah tidak akan membiarkan kebenaran runtuh dan mengajarkan umat untuk bersabar dalam menghadapi ujian, seolah-olah menjawab doa yang diucapkan di akhir surah sebelumnya.

Demikian pula, transisi dari Surah Adh-Dhuha ke Al-Insyirah (dari kelompok Qisharul Mufassal) menunjukkan kesinambungan penghiburan Nabi. Adh-Dhuha meyakinkan Nabi bahwa Allah tidak meninggalkannya, sementara Al-Insyirah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan yang dialami, menggarisbawahi bahwa setiap bab dalam 114 surah berfungsi sebagai bagian dari narasi tunggal dan kohesif.

Daftar Ke-114 Surah Al-Quran (Ringkasan Komprehensif)

Memahami 114 surah memerlukan peninjauan sekilas terhadap setiap unit, melihat bagaimana struktur panjang dan pendek ini menghasilkan komposisi yang seimbang, meliputi teologi, hukum, sejarah, dan moralitas:

  1. Al-Fatihah (Pembukaan) - Makkiyah
  2. Al-Baqarah (Sapi Betina) - Madaniyah
  3. Ali 'Imran (Keluarga 'Imran) - Madaniyah
  4. An-Nisa' (Wanita) - Madaniyah
  5. Al-Ma'idah (Hidangan) - Madaniyah
  6. Al-An'am (Binatang Ternak) - Makkiyah
  7. Al-A'raf (Tempat Tertinggi) - Makkiyah
  8. Al-Anfal (Rampasan Perang) - Madaniyah
  9. At-Taubah (Pengampunan) - Madaniyah (Tanpa Basmalah)
  10. Yunus - Makkiyah
  11. Hud - Makkiyah
  12. Yusuf - Makkiyah
  13. Ar-Ra'd (Guruh) - Madaniyah
  14. Ibrahim - Makkiyah
  15. Al-Hijr (Hijr) - Makkiyah
  16. An-Nahl (Lebah) - Makkiyah
  17. Al-Isra' (Perjalanan Malam) - Makkiyah
  18. Al-Kahfi (Gua) - Makkiyah
  19. Maryam - Makkiyah
  20. Thaha - Makkiyah
  21. Al-Anbiya' (Para Nabi) - Makkiyah
  22. Al-Hajj (Haji) - Madaniyah
  23. Al-Mu'minun (Orang-orang Mukmin) - Makkiyah
  24. An-Nur (Cahaya) - Madaniyah
  25. Al-Furqan (Pembeda) - Makkiyah
  26. Asy-Syu'ara' (Para Penyair) - Makkiyah
  27. An-Naml (Semut) - Makkiyah
  28. Al-Qashash (Kisah-kisah) - Makkiyah
  29. Al-'Ankabut (Laba-laba) - Makkiyah
  30. Ar-Rum (Bangsa Romawi) - Makkiyah
  31. Luqman - Makkiyah
  32. As-Sajdah (Sujud) - Makkiyah
  33. Al-Ahzab (Golongan-golongan yang Bersekutu) - Madaniyah
  34. Saba' (Kaum Saba') - Makkiyah
  35. Fathir (Pencipta) - Makkiyah
  36. Ya Sin - Makkiyah
  37. As-Saffat (Barisan-barisan) - Makkiyah
  38. Shad - Makkiyah
  39. Az-Zumar (Rombongan-rombongan) - Makkiyah
  40. Ghafir (Maha Pengampun) - Makkiyah
  41. Fussilat (Dijelaskan) - Makkiyah
  42. Asy-Syura (Musyawarah) - Makkiyah
  43. Az-Zukhruf (Perhiasan) - Makkiyah
  44. Ad-Dukhan (Kabut) - Makkiyah
  45. Al-Jatsiyah (Yang Berlutut) - Makkiyah
  46. Al-Ahqaf (Bukit Pasir) - Makkiyah
  47. Muhammad - Madaniyah
  48. Al-Fath (Kemenangan) - Madaniyah
  49. Al-Hujurat (Kamar-kamar) - Madaniyah
  50. Qaf - Makkiyah (Awal dari Thiwalul Mufassal)
  51. Adz-Dzariyat (Angin yang Menerbangkan) - Makkiyah
  52. Ath-Thur (Bukit) - Makkiyah
  53. An-Najm (Bintang) - Makkiyah
  54. Al-Qamar (Bulan) - Makkiyah
  55. Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) - Makkiyah
  56. Al-Waqi'ah (Hari Kiamat) - Makkiyah
  57. Al-Hadid (Besi) - Madaniyah
  58. Al-Mujadilah (Gugatan) - Madaniyah
  59. Al-Hasyr (Pengusiran) - Madaniyah
  60. Al-Mumtahanah (Wanita yang Diuji) - Madaniyah
  61. As-Shaff (Barisan) - Madaniyah
  62. Al-Jumu'ah (Jumat) - Madaniyah
  63. Al-Munafiqun (Kaum Munafik) - Madaniyah
  64. At-Taghabun (Kerugian) - Madaniyah
  65. Ath-Thalaq (Perceraian) - Madaniyah
  66. At-Tahrim (Pengharaman) - Madaniyah
  67. Al-Mulk (Kerajaan) - Makkiyah
  68. Al-Qalam (Pena) - Makkiyah
  69. Al-Haqqah (Hari Kebenaran) - Makkiyah
  70. Al-Ma'arij (Tempat Naik) - Makkiyah
  71. Nuh - Makkiyah
  72. Al-Jinn (Jin) - Makkiyah
  73. Al-Muzzammil (Orang yang Berselimut) - Makkiyah
  74. Al-Muddatsir (Orang yang Berkemul) - Makkiyah
  75. Al-Qiyamah (Kiamat) - Makkiyah
  76. Al-Insan (Manusia) - Madaniyah
  77. Al-Mursalat (Malaikat yang Diutus) - Makkiyah
  78. An-Naba' (Berita Besar) - Makkiyah (Awal dari Awsathul Mufassal)
  79. An-Nazi'at (Malaikat Pencabut) - Makkiyah
  80. 'Abasa (Dia Bermuka Masam) - Makkiyah
  81. At-Takwir (Menggulung) - Makkiyah
  82. Al-Infithar (Terbelah) - Makkiyah
  83. Al-Muthaffifin (Orang-orang yang Curang) - Makkiyah
  84. Al-Insyiqaq (Terbelah) - Makkiyah
  85. Al-Buruj (Gugusan Bintang) - Makkiyah
  86. Ath-Thariq (Yang Datang di Malam Hari) - Makkiyah
  87. Al-A'la (Yang Paling Tinggi) - Makkiyah
  88. Al-Ghasyiyah (Hari Pembalasan) - Makkiyah
  89. Al-Fajr (Fajar) - Makkiyah
  90. Al-Balad (Negeri) - Makkiyah
  91. Asy-Syams (Matahari) - Makkiyah
  92. Al-Lail (Malam) - Makkiyah
  93. Adh-Dhuha (Waktu Dhuha) - Makkiyah
  94. Al-Insyirah (Melapangkan) - Makkiyah (Awal dari Qisharul Mufassal)
  95. At-Tin (Buah Tin) - Makkiyah
  96. Al-'Alaq (Segumpal Darah) - Makkiyah
  97. Al-Qadr (Kemuliaan) - Makkiyah
  98. Al-Bayyinah (Bukti Nyata) - Madaniyah
  99. Az-Zalzalah (Goncangan) - Makkiyah
  100. Al-'Adiyat (Kuda Perang) - Makkiyah
  101. Al-Qari'ah (Hari Kiamat) - Makkiyah
  102. At-Takatsur (Bermegah-megahan) - Makkiyah
  103. Al-'Ashr (Masa) - Makkiyah
  104. Al-Humazah (Pengumpat) - Makkiyah
  105. Al-Fil (Gajah) - Makkiyah
  106. Quraisy - Makkiyah
  107. Al-Ma'un (Barang yang Berguna) - Makkiyah
  108. Al-Kautsar (Nikmat yang Banyak) - Makkiyah
  109. Al-Kafirun (Orang-orang Kafir) - Makkiyah
  110. An-Nashr (Pertolongan) - Madaniyah
  111. Al-Lahab (Gejolak Api) - Makkiyah
  112. Al-Ikhlas (Memurnikan Keesaan) - Makkiyah
  113. Al-Falaq (Waktu Subuh) - Makkiyah
  114. An-Nas (Manusia) - Makkiyah

Kesempurnaan dari ke-114 surah ini, mulai dari pengajaran fundamental di Makkah (Tauhid, Kiamat) hingga panduan hukum di Madinah (Syariat, Tatanan Sosial), menunjukkan bahwa Al-Quran adalah panduan hidup yang komprehensif, ditutup dengan permohonan perlindungan total kepada Allah melalui tiga surah terakhir.

Penutup

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan berapa surah dalam Al-Quran adalah seratus empat belas surah (114). Angka ini adalah salah satu pilar keotentikan dan keteraturan Kitab Suci ini. Struktur 114 surah, dengan pembagian Makkiyah dan Madaniyah, serta pengelompokan berdasarkan panjangnya, menawarkan bukti yang tak terbantahkan mengenai asal-usul Ilahi dan pemeliharaannya yang sempurna. Mempelajari dan merenungkan koherensi antara 114 surah adalah jalan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang pesan universal Islam.

🏠 Homepage