Pertanyaan mengenai berapa jumlah surah atau bab yang terkandung dalam Kitab Suci Al-Quran adalah pertanyaan fundamental yang membawa kita pada pemahaman mendalam tentang struktur wahyu Ilahi. Jawabannya adalah pasti, tidak berubah sejak penyempurnaan wahyu hingga saat ini, dan disepakati oleh seluruh umat Islam di penjuru dunia. Al-Quran, mukjizat abadi bagi Nabi Muhammad ﷺ, tersusun rapi dalam sebuah arsitektur yang sangat spesifik.
Jawaban definitif yang diyakini secara konsensus (Ijma') oleh seluruh ulama dan umat Muslim adalah bahwa Al-Quran terdiri dari 114 (seratus empat belas) surah. Struktur ini, yang dimulai dari Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah An-Nas, merupakan bagian integral dari pemeliharaan Ilahi terhadap Kitab Suci ini.
Kepastian Angka 114 dan Makna Istilah 'Surah'
Angka 114 bukanlah angka yang ditentukan oleh manusia atau hasil dari penyuntingan editorial; melainkan merupakan ketetapan wahyu yang diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama kurang lebih 23 tahun. Penataan dan urutan surah yang kita temukan dalam mushaf standar (Mushaf Utsmani) adalah Tawqifi, artinya penetapannya bersumber langsung dari petunjuk Ilahi melalui Jibril kepada Rasulullah.
Definisi Surah
Secara bahasa, kata "surah" (سورة) dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna, termasuk pagar, kedudukan, atau deretan. Dalam konteks Al-Quran, surah merujuk pada satu kesatuan teks wahyu yang memiliki awal dan akhir yang jelas, dan terdiri dari minimal satu ayat. Surah adalah batas yang memisahkan satu bab Al-Quran dari bab lainnya. Ke-114 surah ini berbeda-beda panjangnya, mulai dari yang terpendek (Al-Kautsar, 3 ayat) hingga yang terpanjang (Al-Baqarah, 286 ayat).
Konsensus Historis
Setelah wafatnya Rasulullah, proses kodifikasi Al-Quran memastikan bahwa tidak ada perselisihan mengenai jumlah surah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan kemudian Utsman bin Affan, penyusunan mushaf standar bertujuan untuk menghilangkan potensi perbedaan bacaan dan urutan. Hasil dari upaya kodifikasi ini menguatkan jumlah 114 surah sebagai jumlah mutlak dan definitif.
Klasifikasi Surah Berdasarkan Masa Penurunan (Makkiyah dan Madaniyah)
Meskipun semua 114 surah memiliki bobot dan otoritas yang sama, para ulama membagi surah-surah ini menjadi dua kategori utama berdasarkan tempat dan waktu penurunannya, yaitu Makkiyah dan Madaniyah. Pembagian ini bukan hanya klasifikasi geografis, tetapi juga kunci untuk memahami konteks hukum, doktrin, dan perkembangan dakwah Islam.
1. Surah Makkiyah (60% dari Jumlah Total)
Surah Makkiyah adalah surah-surah yang diturunkan sebelum peristiwa Hijrah (migrasi) Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah. Meskipun dinamakan Makkiyah, ini mencakup wahyu yang diturunkan di Makkah atau di sekitarnya sebelum Hijrah, seperti di Mina atau Arafah.
Secara umum, terdapat sekitar 86 surah yang tergolong Makkiyah. Surah-surah ini ditandai dengan ciri-ciri utama yang mencerminkan fase awal dakwah yang penuh tantangan:
- Fokus Tauhid: Penekanan kuat pada keesaan Allah (Tauhid), menentang politeisme (Syirik), dan mendidik dasar-dasar akidah yang murni.
- Kisah Umat Terdahulu: Banyak kisah nabi-nabi terdahulu (seperti Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim) sebagai peringatan bagi kaum Quraisy dan penegasan konsistensi risalah.
- Sumpah dan Gaya Bahasa Kuat: Penggunaan sumpah (misalnya, demi matahari, demi malam) dan gaya bahasa yang retoris dan mendalam, bertujuan untuk menggugah hati yang keras dan skeptis.
- Pendek dan Ringkas: Mayoritas surah Makkiyah cenderung lebih pendek dan memiliki ayat yang lebih pendek pula (terutama surah-surah dalam kelompok Al-Mufassal).
- Isu Akhirat: Penegasan tentang Hari Kebangkitan, Surga, dan Neraka, karena penolakan terhadap konsep Hari Pembalasan adalah inti dari penentangan musyrikin Makkah.
2. Surah Madaniyah (40% dari Jumlah Total)
Surah Madaniyah adalah surah-surah yang diturunkan setelah Hijrah, terlepas dari lokasi penurunannya (bisa di Madinah, dalam perjalanan, atau bahkan saat perang di Makkah setelah penaklukan). Ada sekitar 28 surah yang tergolong Madaniyah.
Ciri-ciri utama surah Madaniyah mencerminkan fase pembentukan negara dan masyarakat Islam:
- Fokus Hukum dan Legislasi: Pengaturan rinci mengenai hukum keluarga, warisan, perdagangan, jihad, pidana, dan tata cara ibadah (seperti puasa dan haji).
- Interaksi Sosial: Banyak seruan yang ditujukan kepada "Wahai orang-orang yang beriman" (يا أيها الذين آمنوا).
- Diskusi Ahli Kitab: Banyak membahas dan berdebat dengan Yahudi dan Nasrani, serta membahas peran kaum Munafik (hipokrit) yang muncul di Madinah.
- Panjang dan Detail: Surah Madaniyah umumnya lebih panjang dan ayat-ayatnya lebih panjang, memuat detail-detail syariat yang kompleks. Contoh paling nyata adalah Al-Baqarah, surah terpanjang dalam Al-Quran.
Pengelompokan 114 Surah Berdasarkan Panjangnya (Empat Kategori Utama)
Selain pembagian Makkiyah dan Madaniyah, para ulama juga mengelompokkan 114 surah berdasarkan panjang relatifnya, yang sangat membantu dalam penghafalan, pengajaran, dan pemahaman tematik. Pengelompokan ini dikenal sebagai:
1. As-Sab’uth Thiwal (Tujuh Surah yang Panjang)
Ini adalah tujuh surah terpanjang dalam Al-Quran, yang merupakan landasan bagi banyak hukum dan kisah-kisah penting. Tujuh surah ini adalah:
- Al-Baqarah (Sapi Betina): 286 ayat. Surah terpanjang, berisi hukum-hukum fundamental, kisah Bani Israil, dan syariat yang luas.
- Ali 'Imran (Keluarga 'Imran): 200 ayat. Melanjutkan tema hukum dan membahas perdebatan dengan Nasrani.
- An-Nisa' (Wanita): 176 ayat. Fokus pada hukum keluarga, hak wanita, warisan, dan tata kelola sosial.
- Al-Ma'idah (Hidangan): 120 ayat. Menetapkan hukum halal dan haram, serta kritik terhadap penyimpangan Ahli Kitab.
- Al-An'am (Binatang Ternak): 165 ayat. Surah Makkiyah terpanjang, berfokus kuat pada argumentasi tauhid dan menolak syirik.
- Al-A'raf (Tempat Tertinggi): 206 ayat. Menjelaskan kisah para nabi dan perdebatan antara penduduk Surga dan Neraka.
- At-Taubah (Pengampunan): 129 ayat, atau Al-Anfal (Rampasan Perang) 75 ayat, dan At-Taubah. Beberapa ulama menghitung dua surah terakhir (Yunus, Hud) sebagai pelengkap ketujuh, tetapi umumnya, tujuh surah pertama yang panjang inilah yang dimaksud. At-Taubah adalah surah unik karena tidak diawali dengan Basmalah.
2. Al-Mi’un (Surah-Surah yang Berjumlah Sekitar Seratus Ayat)
Kelompok ini terdiri dari surah-surah yang memiliki ayat di sekitar angka 100, atau setidaknya lebih dari 50 ayat, dan panjangnya di bawah kategori Sab'uth Thiwal. Contohnya termasuk Surah Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’d, dan Al-Kahfi. Surah-surah ini sering kali sarat dengan kisah-kisah nabi dan pelajaran sejarah mendalam.
3. Al-Matsani (Surah-Surah yang Diulang-ulang)
Al-Matsani (artinya yang diulang-ulang) adalah kelompok surah yang panjangnya menengah, berada di antara Al-Mi’un dan Al-Mufassal. Dinamakan demikian karena sering dibaca atau diulang-ulang, atau karena isinya merupakan pengulangan atau penyempurnaan dari tema-tema yang sudah dibahas di surah-surah yang lebih panjang. Jumlah surah dalam kelompok ini bervariasi, meliputi sebagian besar surah Makkiyah dengan panjang sedang (misalnya Surah Maryam, Thaha, Al-Anbiya').
4. Al-Mufassal (Surah-Surah yang Pendek dan Terpisah Jelas)
Kelompok Al-Mufassal (artinya yang terperinci/terpisah) dimulai dari Surah Qaf (atau kadang dari Surah Al-Hujurat) hingga Surah An-Nas. Dinamakan demikian karena surah-surah ini pendek-pendek, sehingga sering dipisahkan oleh Basmalah (sehingga banyak 'fashl' atau pemisah). Kelompok ini sendiri dibagi lagi menjadi tiga sub-kategori, yang merupakan bagian terbesar dari keseluruhan 114 surah:
A. Thiwalul Mufassal (Yang Panjang dari Al-Mufassal)
Dimulai dari Surah Qaf (Surah ke-50) hingga Surah An-Naba’ (Surah ke-78). Surah-surah ini masih relatif panjang jika dibandingkan dengan bagian akhir Al-Quran.
B. Awsathul Mufassal (Yang Menengah dari Al-Mufassal)
Dimulai dari Surah An-Naba’ (Surah ke-78) hingga Surah Adh-Dhuha (Surah ke-93). Ditandai dengan gaya bahasa yang cepat dan penekanan kuat pada hari kiamat dan kekuasaan Allah.
C. Qisharul Mufassal (Yang Pendek dari Al-Mufassal)
Dimulai dari Surah Al-Insyirah (Surah ke-94) hingga Surah An-Nas (Surah ke-114). Ini adalah surah-surah yang paling sering dihafal dan dibaca dalam shalat karena pendek dan padat maknanya.
Analisis 114 Surah: Perjalanan Tematik dari Awal Hingga Akhir
Untuk memahami mengapa jumlah 114 ini begitu sempurna, kita perlu melihat bagaimana surah-surah ini disusun dalam Mushaf. Urutan ini—yang berbeda dari urutan kronologis penurunan—memiliki koherensi (disebut *munasabah*) yang luar biasa, di mana setiap surah seolah-olah menyiapkan pembaca untuk surah berikutnya.
Fase I: Fondasi dan Legislasi Agung (Surah 1 - 9)
Periode ini, didominasi oleh *Sab’uth Thiwal*, meletakkan dasar hukum, akidah, dan sejarah kenabian.
1. Al-Fatihah (Pembukaan): Tujuh ayat yang merupakan doa inti dan ringkasan seluruh pesan Al-Quran. Ini adalah wajib bagi setiap shalat.
2. Al-Baqarah (Sapi Betina): Piagam Madinah. Hukum-hukum sosial, ekonomi, ibadah, dan pernikahan.
3. Ali 'Imran (Keluarga 'Imran): Stabilitas komunitas dan pelajaran dari dua kelompok besar: Bani Israil dan pengikut Yesus.
4. An-Nisa' (Wanita): Keadilan sosial, hak-hak perempuan dan anak yatim, serta hukum perang.
5. Al-Ma'idah (Hidangan): Penyempurnaan syariat, hukum-hukum makanan, dan kewajiban menunaikan janji.
6. Al-An'am (Binatang Ternak): Penegasan tauhid dan penghancuran syirik. Fokus pada kebenaran kenabian.
7. Al-A'raf (Tempat Tertinggi): Konflik abadi antara kebenaran dan kebatilan, ditinjau melalui sejarah nabi-nabi (Nuh, Hud, Syu'aib, Musa).
8. Al-Anfal (Rampasan Perang): Pelajaran dari Perang Badar dan etika perang.
9. At-Taubah (Pengampunan): Deklarasi lepas dari perjanjian dengan kaum musyrikin dan hukum jihad. Menutup Basmalah.
Fase II: Kisah Para Nabi dan Peringatan (Surah 10 - 36)
Fase ini didominasi oleh surah-surah Mi’un dan Matsani yang Makkiyah, berfokus pada kekuatan janji Allah dan bukti-bukti kenabian.
10. Yunus: Tantangan bagi mereka yang meragukan wahyu.
11. Hud: Peringatan keras bagi kaum yang menolak nabi mereka.
12. Yusuf: Narasi lengkap dan kohesif tentang kisah Nabi Yusuf, pelajaran kesabaran dan takdir Ilahi.
13. Ar-Ra'd (Guruh): Kekuatan alam sebagai bukti kekuasaan Allah.
14. Ibrahim: Doa dan perjuangan Nabi Ibrahim dalam mendirikan tauhid.
15. Al-Hijr: Penghancuran kaum yang mencemooh nabi mereka.
16. An-Nahl (Lebah): Menggambarkan nikmat Allah di alam semesta.
17. Al-Isra' (Perjalanan Malam): Peristiwa Isra' Mi’raj dan prinsip-prinsip moral utama.
18. Al-Kahfi (Gua): Empat kisah besar (Ashabul Kahfi, dua kebun, Musa dan Khidir, Dzulqarnain) sebagai perlindungan dari fitnah akhir zaman.
... hingga 36. Ya Sin: Jantung Al-Quran, berfokus pada Hari Kebangkitan.
Fase III: Kekuatan dan Kekuasaan (Surah 37 - 49)
Melanjutkan tema Makkiyah dengan penekanan pada kebesaran Allah (Rububiyah) dan perdebatan tentang penciptaan.
37. As-Saffat (Barisan-Barisan): Menolak klaim syirik terhadap malaikat dan menegaskan kesatuan malaikat.
38. Shad: Kisah Nabi Daud dan Sulaiman serta pentingnya bertobat.
39. Az-Zumar (Rombongan-Rombongan): Menggambarkan perbedaan nasib rombongan orang beriman dan kafir di hari kiamat.
... hingga 49. Al-Hujurat (Kamar-Kamar): Fokus pada etika sosial, menghormati Nabi, dan persaudaraan. Ini adalah surah Madaniyah penting.
Fase IV: Al-Hawamim (Surah Berawalan Ha Mim) dan Pertempuran Hukum (Surah 40 - 58)
Sebagian besar surah ini adalah Makkiyah dan disebut "Al-Hawamim" karena diawali dengan huruf *Ha Mim*. Mereka berfokus pada kekuasaan Allah dan konsekuensi menolak kebenaran.
Empat surah terakhir dari kelompok ini kembali ke Madaniyah, menetapkan hukum dan tatanan masyarakat Islam secara lebih terperinci.
40. Ghafir (Maha Pengampun): Tentang kekuasaan Allah yang Maha Pengampun dan kisah pembela Musa.
41. Fussilat (Dijelaskan): Kemukjizatan Al-Quran.
42. Asy-Syura (Musyawarah): Pentingnya musyawarah dalam penetapan hukum.
... hingga 58. Al-Mujadilah (Gugatan): Surah Madaniyah pertama yang diawali dengan nama Allah (Qad sami'a...), fokus pada adab dalam berdebat dan konspirasi munafik.
Struktur Terakhir: Al-Mufassal (Surah 50 - 114)
Surah-surah Al-Mufassal mencakup lebih dari separuh jumlah surah dalam Al-Quran (sekitar 65 surah), meskipun hanya menempati porsi kecil dari volume ayat keseluruhan. Surah-surah ini sangat penting karena diturunkan di saat-saat kritis dakwah dan berfungsi sebagai ringkasan peringatan, ancaman, dan harapan.
Thiwalul Mufassal (Surah 50 - 78)
Fokus pada penggambaran detail Hari Kiamat dan kebangkitan kembali setelah kematian. Contoh Surah:
50. Qaf: Pembelaan terhadap konsep kebangkitan.
51. Adz-Dzariyat (Angin yang Menerbangkan): Bukti kekuasaan Allah melalui angin dan alam.
55. Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih): Surah yang indah dengan pengulangan "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
56. Al-Waqi'ah (Hari Kiamat): Penggambaran tiga golongan manusia saat Kiamat.
67. Al-Mulk (Kerajaan): Kekuatan Allah atas seluruh ciptaan.
Pada fase ini, surah-surah Madaniyah yang singkat (seperti Al-Muthaffifin) disisipkan untuk memperkuat aturan bisnis yang adil.
Awsathul Mufassal dan Qisharul Mufassal (Surah 79 - 114)
Ini adalah bagian terakhir dan terpadat dari Al-Quran, yang sering dijuluki "surah-surah peringatan". Kebanyakan surah di sini sangat pendek, tajam, dan sarat dengan sumpah alam (bersumpah demi waktu, demi matahari terbit) untuk menarik perhatian pendengar Makkah yang skeptis.
Setiap surah di bagian ini berfungsi sebagai palu godam akidah, menegaskan satu atau dua tema sentral:
- Ancaman Kiamat: Al-Infitar, At-Takwir, Al-Qari'ah.
- Moralitas dan Akhlak: Al-Ma'un (kikir), Al-Humazah (pengumpat), Al-Muthaffifin (curang timbangan).
- Sejarah Khusus: Al-Fil (tentang Tentara Gajah).
- Penghiburan Nabi: Adh-Dhuha (janji pertolongan), Al-Insyirah (lapang dada).
- Penyucian Tauhid: Al-Ikhlas (keesaan murni).
Penghujung Al-Quran: Surah-Surah Perlindungan (Tiga Qul)
Tiga surah terakhir dari 114 surah ini memiliki fungsi yang sangat spesifik dan fundamental dalam praktik keagamaan sehari-hari, sering disebut sebagai *Al-Mu’awwidzat* (surah-surah pelindung).
112. Al-Ikhlas (Memurnikan Keesaan): Empat ayat yang merupakan definisi singkat dan sempurna tentang keesaan Allah, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Membaca surah ini setara dengan sepertiga Al-Quran dalam bobot pahalanya.
113. Al-Falaq (Waktu Subuh): Permintaan perlindungan kepada Allah dari kejahatan makhluk, dari kegelapan malam, dari tukang sihir, dan dari orang-orang yang dengki.
114. An-Nas (Manusia): Permintaan perlindungan kepada Allah, Raja Manusia, Ilah Manusia, dari bisikan (waswas) setan yang bersembunyi di dalam hati manusia.
Ke-114 surah ini, dengan penutup yang fokus pada perlindungan spiritual, menegaskan bahwa struktur Al-Quran bukan sekadar kumpulan teks, tetapi sebuah kurikulum spiritual yang terstruktur, mengajarkan doktrin, hukum, dan cara untuk bertahan dari godaan hingga akhir hayat.
Detail-Detail Lain Tentang Jumlah Surah
Walaupun jumlah 114 surah adalah mutlak, ada beberapa detail tambahan yang memperkaya pemahaman kita tentang struktur Al-Quran, terutama terkait dengan ayat dan penamaan.
Perbedaan Jumlah Ayat
Meskipun jumlah surah disepakati 114, jumlah ayat dalam Al-Quran sedikit berbeda antara satu mazhab qira’ah (bacaan) dengan yang lain. Perbedaan ini bukan karena ada ayat yang hilang, melainkan karena perbedaan cara menghitung *fawasil* (pemisah ayat), terutama terkait apakah Basmalah dihitung sebagai ayat pertama di setiap surah (kecuali At-Taubah) atau tidak, dan bagaimana memisahkan ayat-ayat yang panjang. Namun, perbedaan hitungan ayat ini tidak memengaruhi jumlah surah yang tetap 114.
Surah yang Memiliki Banyak Nama
Beberapa surah, terutama yang penting dan sering dibaca, memiliki beberapa nama. Ini menunjukkan kedalaman maknanya. Contoh paling terkenal adalah Surah Al-Fatihah, yang memiliki lebih dari sepuluh nama, antara lain:
- *Ummul Kitab* (Induk Kitab)
- *As-Sab’ul Matsani* (Tujuh yang Diulang-ulang)
- *Al-Kanz* (Harta Karun)
- *Asy-Syifa'* (Penyembuh)
- *As-Shalah* (Shalat)
Surah lain seperti At-Taubah juga dikenal sebagai *Al-Bara’ah* (Pemutusan Hubungan). Namun, terlepas dari banyaknya nama panggilan, surah-surah ini tetap dihitung sebagai satu unit dalam struktur 114 surah.
Pentingnya Basmalah sebagai Pemisah Surah
Setiap surah, kecuali Surah At-Taubah (Surah ke-9), diawali dengan بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang). Keberadaan Basmalah sebanyak 113 kali ini menegaskan batas antara surah-surah dan berfungsi sebagai kunci pembuka rahmat. Ketiadaan Basmalah pada Surah At-Taubah diyakini karena surah tersebut memuat deklarasi perang dan pemutusan hubungan, yang tidak sesuai dengan makna Rahmat Allah yang diusung Basmalah.
Peran dan Hikmah Jumlah 114
Angka 114 melambangkan kelengkapan dan keutuhan risalah. Setiap surah, walaupun berdiri sendiri, terjalin erat dengan surah sebelum dan sesudahnya melalui konsep *munasabah* (koherensi tematik). Susunan ini adalah bukti nyata bahwa Al-Quran adalah firman yang teratur dan terencana, bukan sekadar kompilasi acak dari wahyu-wahyu yang diturunkan selama 23 tahun.
Sebagai contoh koherensi 114 surah:
Surah Al-Baqarah banyak berbicara tentang komunitas Madinah, ujian, dan syariat yang harus dijalankan. Ia diakhiri dengan doa memohon pertolongan agar tidak dibebani melebihi kemampuan. Langsung setelahnya, Surah Ali 'Imran dimulai dengan menekankan bahwa Allah tidak akan membiarkan kebenaran runtuh dan mengajarkan umat untuk bersabar dalam menghadapi ujian, seolah-olah menjawab doa yang diucapkan di akhir surah sebelumnya.
Demikian pula, transisi dari Surah Adh-Dhuha ke Al-Insyirah (dari kelompok Qisharul Mufassal) menunjukkan kesinambungan penghiburan Nabi. Adh-Dhuha meyakinkan Nabi bahwa Allah tidak meninggalkannya, sementara Al-Insyirah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan yang dialami, menggarisbawahi bahwa setiap bab dalam 114 surah berfungsi sebagai bagian dari narasi tunggal dan kohesif.
Daftar Ke-114 Surah Al-Quran (Ringkasan Komprehensif)
Memahami 114 surah memerlukan peninjauan sekilas terhadap setiap unit, melihat bagaimana struktur panjang dan pendek ini menghasilkan komposisi yang seimbang, meliputi teologi, hukum, sejarah, dan moralitas:
- Al-Fatihah (Pembukaan) - Makkiyah
- Al-Baqarah (Sapi Betina) - Madaniyah
- Ali 'Imran (Keluarga 'Imran) - Madaniyah
- An-Nisa' (Wanita) - Madaniyah
- Al-Ma'idah (Hidangan) - Madaniyah
- Al-An'am (Binatang Ternak) - Makkiyah
- Al-A'raf (Tempat Tertinggi) - Makkiyah
- Al-Anfal (Rampasan Perang) - Madaniyah
- At-Taubah (Pengampunan) - Madaniyah (Tanpa Basmalah)
- Yunus - Makkiyah
- Hud - Makkiyah
- Yusuf - Makkiyah
- Ar-Ra'd (Guruh) - Madaniyah
- Ibrahim - Makkiyah
- Al-Hijr (Hijr) - Makkiyah
- An-Nahl (Lebah) - Makkiyah
- Al-Isra' (Perjalanan Malam) - Makkiyah
- Al-Kahfi (Gua) - Makkiyah
- Maryam - Makkiyah
- Thaha - Makkiyah
- Al-Anbiya' (Para Nabi) - Makkiyah
- Al-Hajj (Haji) - Madaniyah
- Al-Mu'minun (Orang-orang Mukmin) - Makkiyah
- An-Nur (Cahaya) - Madaniyah
- Al-Furqan (Pembeda) - Makkiyah
- Asy-Syu'ara' (Para Penyair) - Makkiyah
- An-Naml (Semut) - Makkiyah
- Al-Qashash (Kisah-kisah) - Makkiyah
- Al-'Ankabut (Laba-laba) - Makkiyah
- Ar-Rum (Bangsa Romawi) - Makkiyah
- Luqman - Makkiyah
- As-Sajdah (Sujud) - Makkiyah
- Al-Ahzab (Golongan-golongan yang Bersekutu) - Madaniyah
- Saba' (Kaum Saba') - Makkiyah
- Fathir (Pencipta) - Makkiyah
- Ya Sin - Makkiyah
- As-Saffat (Barisan-barisan) - Makkiyah
- Shad - Makkiyah
- Az-Zumar (Rombongan-rombongan) - Makkiyah
- Ghafir (Maha Pengampun) - Makkiyah
- Fussilat (Dijelaskan) - Makkiyah
- Asy-Syura (Musyawarah) - Makkiyah
- Az-Zukhruf (Perhiasan) - Makkiyah
- Ad-Dukhan (Kabut) - Makkiyah
- Al-Jatsiyah (Yang Berlutut) - Makkiyah
- Al-Ahqaf (Bukit Pasir) - Makkiyah
- Muhammad - Madaniyah
- Al-Fath (Kemenangan) - Madaniyah
- Al-Hujurat (Kamar-kamar) - Madaniyah
- Qaf - Makkiyah (Awal dari Thiwalul Mufassal)
- Adz-Dzariyat (Angin yang Menerbangkan) - Makkiyah
- Ath-Thur (Bukit) - Makkiyah
- An-Najm (Bintang) - Makkiyah
- Al-Qamar (Bulan) - Makkiyah
- Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) - Makkiyah
- Al-Waqi'ah (Hari Kiamat) - Makkiyah
- Al-Hadid (Besi) - Madaniyah
- Al-Mujadilah (Gugatan) - Madaniyah
- Al-Hasyr (Pengusiran) - Madaniyah
- Al-Mumtahanah (Wanita yang Diuji) - Madaniyah
- As-Shaff (Barisan) - Madaniyah
- Al-Jumu'ah (Jumat) - Madaniyah
- Al-Munafiqun (Kaum Munafik) - Madaniyah
- At-Taghabun (Kerugian) - Madaniyah
- Ath-Thalaq (Perceraian) - Madaniyah
- At-Tahrim (Pengharaman) - Madaniyah
- Al-Mulk (Kerajaan) - Makkiyah
- Al-Qalam (Pena) - Makkiyah
- Al-Haqqah (Hari Kebenaran) - Makkiyah
- Al-Ma'arij (Tempat Naik) - Makkiyah
- Nuh - Makkiyah
- Al-Jinn (Jin) - Makkiyah
- Al-Muzzammil (Orang yang Berselimut) - Makkiyah
- Al-Muddatsir (Orang yang Berkemul) - Makkiyah
- Al-Qiyamah (Kiamat) - Makkiyah
- Al-Insan (Manusia) - Madaniyah
- Al-Mursalat (Malaikat yang Diutus) - Makkiyah
- An-Naba' (Berita Besar) - Makkiyah (Awal dari Awsathul Mufassal)
- An-Nazi'at (Malaikat Pencabut) - Makkiyah
- 'Abasa (Dia Bermuka Masam) - Makkiyah
- At-Takwir (Menggulung) - Makkiyah
- Al-Infithar (Terbelah) - Makkiyah
- Al-Muthaffifin (Orang-orang yang Curang) - Makkiyah
- Al-Insyiqaq (Terbelah) - Makkiyah
- Al-Buruj (Gugusan Bintang) - Makkiyah
- Ath-Thariq (Yang Datang di Malam Hari) - Makkiyah
- Al-A'la (Yang Paling Tinggi) - Makkiyah
- Al-Ghasyiyah (Hari Pembalasan) - Makkiyah
- Al-Fajr (Fajar) - Makkiyah
- Al-Balad (Negeri) - Makkiyah
- Asy-Syams (Matahari) - Makkiyah
- Al-Lail (Malam) - Makkiyah
- Adh-Dhuha (Waktu Dhuha) - Makkiyah
- Al-Insyirah (Melapangkan) - Makkiyah (Awal dari Qisharul Mufassal)
- At-Tin (Buah Tin) - Makkiyah
- Al-'Alaq (Segumpal Darah) - Makkiyah
- Al-Qadr (Kemuliaan) - Makkiyah
- Al-Bayyinah (Bukti Nyata) - Madaniyah
- Az-Zalzalah (Goncangan) - Makkiyah
- Al-'Adiyat (Kuda Perang) - Makkiyah
- Al-Qari'ah (Hari Kiamat) - Makkiyah
- At-Takatsur (Bermegah-megahan) - Makkiyah
- Al-'Ashr (Masa) - Makkiyah
- Al-Humazah (Pengumpat) - Makkiyah
- Al-Fil (Gajah) - Makkiyah
- Quraisy - Makkiyah
- Al-Ma'un (Barang yang Berguna) - Makkiyah
- Al-Kautsar (Nikmat yang Banyak) - Makkiyah
- Al-Kafirun (Orang-orang Kafir) - Makkiyah
- An-Nashr (Pertolongan) - Madaniyah
- Al-Lahab (Gejolak Api) - Makkiyah
- Al-Ikhlas (Memurnikan Keesaan) - Makkiyah
- Al-Falaq (Waktu Subuh) - Makkiyah
- An-Nas (Manusia) - Makkiyah
Kesempurnaan dari ke-114 surah ini, mulai dari pengajaran fundamental di Makkah (Tauhid, Kiamat) hingga panduan hukum di Madinah (Syariat, Tatanan Sosial), menunjukkan bahwa Al-Quran adalah panduan hidup yang komprehensif, ditutup dengan permohonan perlindungan total kepada Allah melalui tiga surah terakhir.
Penutup
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan berapa surah dalam Al-Quran adalah seratus empat belas surah (114). Angka ini adalah salah satu pilar keotentikan dan keteraturan Kitab Suci ini. Struktur 114 surah, dengan pembagian Makkiyah dan Madaniyah, serta pengelompokan berdasarkan panjangnya, menawarkan bukti yang tak terbantahkan mengenai asal-usul Ilahi dan pemeliharaannya yang sempurna. Mempelajari dan merenungkan koherensi antara 114 surah adalah jalan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang pesan universal Islam.