Perjalanan Agung Isra Mi'raj

Isra Mi'raj adalah salah satu peristiwa paling monumental dan penuh keajaiban dalam sejarah Islam. Perjalanan spiritual dan fisik yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ini merupakan bukti keagungan Allah SWT dan penguatan iman bagi umat Muslim di seluruh dunia. Peristiwa ini terbagi menjadi dua bagian utama: Isra, perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Mi'raj, kenaikan Nabi dari Yerusalem menuju langit ketujuh, bahkan hingga ke Sidratul Muntaha.

Perjalanan Surgawi

Ilustrasi simbolis perjalanan Isra Mi'raj.

Makna Perjalanan Isra

Isra dimulai ketika Nabi Muhammad SAW tengah beristirahat di rumah Ummu Hani. Beliau didatangi oleh Malaikat Jibril, dibedah dadanya, dibersihkan hatinya, lalu dibawalah Buraq, makhluk putih cepat seperti kilat. Perjalanan dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Al-Aqsa) ditempuh dalam waktu yang sangat singkat, sebuah mukjizat yang menentang hukum fisika waktu itu. Setibanya di Al-Aqsa, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi terdahulu dan mengimami mereka dalam salat. Ini menunjukkan kesinambungan risalah kenabian dan posisi mulia Islam sebagai penyempurna ajaran sebelumnya.

Puncak Kenabian: Mi'raj

Setelah Isra, tibalah fase Mi'raj. Nabi Muhammad SAW diangkat naik melalui tujuh lapisan langit. Di setiap lapisan langit, beliau bertemu dengan rasul-rasul agung lainnya. Di langit pertama, beliau bertemu Nabi Adam AS. Di lapisan-lapisan berikutnya, beliau bertemu Nabi Idris AS, Nabi Musa AS, Nabi Ibrahim AS, dan seterusnya. Pertemuan ini bukan sekadar penyambutan, melainkan pengakuan universal atas kedudukan beliau sebagai penutup para nabi.

Sidratul Muntaha dan Perintah Salat

Puncak perjalanan Mi'raj adalah ketika Nabi mencapai Sidratul Muntaha, batas tertinggi yang dapat dijangkau oleh makhluk ciptaan Allah. Di sana, beliau menerima perintah langsung dari Allah SWT mengenai kewajiban salat lima waktu sehari semalam. Jika pada awalnya salat diwajibkan lima puluh kali, melalui perantaraan Nabi Musa AS, Allah meringankannya menjadi lima waktu. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya salat sebagai tiang agama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Penciptanya.

Dampak dan Hikmah di Balik Kisah

Kembali ke Mekkah, Nabi Muhammad SAW menceritakan keajaiban yang beliau alami. Awalnya, banyak orang Quraisy yang meragukan, bahkan mengejek. Namun, bagi orang-orang beriman, terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq, peristiwa ini justru semakin menguatkan keyakinan mereka. Abu Bakar langsung membenarkan kisah tersebut tanpa keraguan, sehingga beliau mendapatkan gelar Ash-Shiddiq (Yang Membenarkan).

Hikmah utama dari Isra Mi'raj sangat mendalam. Pertama, ini adalah penghiburan ilahi bagi Nabi setelah tahun-tahun yang penuh kesulitan, khususnya setelah ditinggal wafat oleh istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib (disebut 'Amul Huzn' atau Tahun Kesedihan). Kedua, ini menegaskan universalitas Islam, di mana Baitul Maqdis (Al-Aqsa) ditetapkan sebagai kiblat pertama dan simbol persatuan umat. Ketiga, perintah salat lima waktu adalah hadiah terindah, sebuah kesempatan abadi bagi setiap Muslim untuk 'bertemu' dengan Allah SWT secara rutin, di mana pun mereka berada.

Peristiwa Isra Mi'raj bukan sekadar catatan sejarah masa lalu, melainkan energi spiritual yang terus mendorong umat Islam untuk menjaga kualitas ibadah, meningkatkan keteguhan hati dalam menghadapi ujian, dan meyakini bahwa di balik kesulitan pasti ada pertolongan dan kemuliaan dari Allah SWT. Perjalanan ini adalah manifestasi nyata bahwa bagi orang yang bertawakal penuh, tidak ada batasan fisik maupun spiritual yang mustahil di hadapan kehendak Ilahi.

🏠 Homepage