Al-Qur'an Al-Karim adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam, dan setiap ayatnya menyimpan hikmah serta pelajaran hidup yang mendalam. Salah satu ayat yang seringkali menjadi perenungan adalah firman Allah SWT yang terdapat dalam Surat Al-Isra' (atau dikenal juga sebagai Bani Israil), yaitu ayat ke-7.
Surat Al-Isra' terdiri dari 111 ayat dan merupakan surat Makkiyah (diturunkan sebelum Hijrah), meskipun ada beberapa pengecualian. Ayat ke-7 dari surat ini berbicara tentang konsekuensi perbuatan manusia, baik itu kebaikan maupun keburukan, yang akan mendapatkan balasan setimpal dari Allah SWT.
Teks Arab dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 7
Konteks Ayat dan Pelajaran Penting
Ayat ini mengandung prinsip universal tentang akuntabilitas dan konsekuensi perbuatan. Kalimat pembuka, "Jika kamu berbuat baik, (kebaikan itu) untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, kejahatan itu akan kembali (merugikan) dirimu sendiri," adalah sebuah penegasan bahwa amal perbuatan manusia tidak pernah sia-sia di mata Allah SWT.
Ini bukan sekadar ancaman atau janji, melainkan penjelasan kausalitas yang tegas. Kebaikan yang dilakukan akan membuahkan hasil positif bagi pelakunya di dunia maupun akhirat, memberikan ketenangan jiwa, dan mendekatkannya pada rahmat Allah. Sebaliknya, kejahatan yang dilakukan akan merusak diri sendiri, baik secara spiritual maupun sosial.
Peringatan tentang Siklus Sejarah
Bagian kedua dari ayat ini memberikan konteks historis yang spesifik, merujuk pada pengalaman Bani Israil (Bangsa Israel) terkait penghancuran Baitul Maqdis (Al-Aqsa di Yerusalem).
Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini merujuk pada dua peristiwa besar kehancuran yang dialami oleh Bani Israil akibat pembangkangan dan kerusakan yang mereka lakukan:
- Penghancuran Pertama: Yang terjadi ketika tentara Nebukadnezar (Raja Babil) menyerbu dan menghancurkan Baitul Maqdis serta menawan banyak dari mereka.
- Janji yang Terakhir (وَعْدُ الْآخِرَةِ): Ini merujuk pada janji kedua kehancuran yang kemudian terjadi, sering diidentikkan dengan penaklukan oleh bangsa Romawi di bawah pimpinan Titus, yang menyebabkan kehancuran total Baitul Maqdis dan pengusiran massal.
Allah mengingatkan mereka bahwa kehancuran itu bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari perbuatan mereka sendiri yang melampaui batas ("membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai"). Janji yang terakhir ini datang sebagai konsekuensi logis dari kegagalan mereka untuk belajar dari peringatan pertama.
Relevansi Universal Ayat 7 Al-Isra
Meskipun konteks awalnya sangat spesifik bagi Bani Israil, pesan utama ayat ini bersifat universal dan abadi bagi seluruh umat manusia. Ayat ini mengajarkan tentang sunnatullah (hukum alamiah) yang ditetapkan Allah dalam urusan moral dan sosial:
- Tanggung Jawab Diri Sendiri: Tidak ada pihak lain yang menanggung dosa atau pahala kita. Setiap individu bertanggung jawab penuh atas jejak digital spiritualnya.
- Keadilan yang Tegas: Allah menjamin bahwa setiap tindakan akan diperhitungkan. Jika kebaikan dilakukan, hasilnya akan kembali kepada pelaku dalam bentuk balasan yang baik.
- Peringatan dari Kehancuran: Sejarah menjadi cermin. Kegagalan untuk memperbaiki diri setelah peringatan akan membawa pada konsekuensi yang lebih berat, yang seringkali digambarkan sebagai "wajah yang disuramkan" (kehinaan dan kesedihan).
Oleh karena itu, Surat Al-Isra ayat 7 berfungsi sebagai pengingat kuat agar seorang Muslim senantiasa menjaga niat dan perbuatannya. Fokus pada kebaikan adalah investasi terbaik, karena hasil akhirnya adalah kemaslahatan bagi diri sendiri, baik di hadapan Allah maupun dalam menjalani kehidupan duniawi.
Memahami ayat ini mendorong introspeksi mendalam: apakah tindakan kita hari ini sedang membangun kebaikan untuk diri kita, atau justru sedang menabur benih kehancuran yang kelak akan kita tuai sendiri?