Simbol Kehalalan dan Kesempurnaan SVG yang menunjukkan kombinasi simbol keseimbangan (timbangan) dan lingkaran sempurna.

Terjemahan Surah Al-Maidah Ayat 3 dan Penjelasannya

Teks Arab Surah Al-Maidah Ayat 3

الْيَوْمَ أُكْمِلَ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Terjemahan Bahasa Indonesia

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu sebagai agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan dan bukan karena ingin membuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Makna dan Kedudukan Ayat

Ayat ketiga dari Surah Al-Maidah ini merupakan salah satu ayat yang paling monumental dalam sejarah Islam. Ayat ini secara eksplisit menyatakan bahwa agama Islam, dalam segala aspek ajarannya—akidah, syariah, dan akhlak—telah paripurna (sempurna) di hadapan Allah SWT. Redaksi "Pada hari ini telah Aku sempurnakan" seringkali dihubungkan dengan peristiwa penting, yaitu saat Rasulullah SAW menyelesaikan Haji Wada' (Haji perpisahan), meskipun sebagian ulama menafsirkannya sebagai kesempurnaan hukum syariat secara bertahap.

Penyempurnaan ini meliputi semua prinsip dasar yang dibutuhkan umat manusia untuk menjalani kehidupan yang diridai Allah, mulai dari tata cara ibadah hingga muamalah (interaksi sosial dan ekonomi). Ketika agama sudah sempurna, berarti tidak ada lagi ruang untuk penambahan atau pengurangan ajaran fundamental, karena semuanya telah ditetapkan oleh wahyu.

Selain penyempurnaan agama, ayat ini juga menegaskan bahwa nikmat Allah telah dicurahkan secara penuh kepada umat Islam. Nikmat terbesar yang dimaksud di sini adalah nikmat iman dan nikmat kesempurnaan syariat itu sendiri. Allah juga menegaskan keridhaan-Nya terhadap Islam sebagai satu-satunya jalan hidup bagi hamba-Nya. Ini adalah penegasan tertinggi atas status eksklusif dan finalitas Islam.

Pengecualian dan Rahmat (Prinsip Darurat)

Bagian kedua dari terjemahan Surah Al-Maidah ayat 3 memberikan jaminan rahmat yang luar biasa melalui prinsip kemudahan (taysir). Ayat ini menyatakan: "Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan dan bukan karena ingin membuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang fleksibel dan menghargai nilai kehidupan (dharuriyyat). Dalam kondisi darurat ekstrem, seperti kelaparan yang mengancam jiwa, syariat memberikan keringanan untuk melanggar larangan tertentu, asalkan niatnya murni untuk menyelamatkan diri dari bahaya (bukan untuk melanggar secara sengaja atau mencari kesenangan).

Kondisi "terpaksa karena kelaparan" menjadi batasan utama. Jika seseorang terpaksa memakan bangkai atau daging babi demi bertahan hidup, Allah tidak akan menghukumnya, karena sifat Allah adalah Ghafur (Maha Pengampun) dan Rahim (Maha Penyayang). Ayat ini menegaskan bahwa rahmat dan pengampunan Allah selalu mendahului penghukuman, terutama ketika manusia berada dalam posisi terdesak.

Poin Penting dari Ayat 3 Al-Maidah:

Ayat ini adalah pilar penting dalam memahami kedudukan agama Islam yang utuh dan komprehensif, serta bagaimana rahmat Ilahi diterapkan dalam kehidupan nyata.

🏠 Homepage