Ilustrasi: Kepatuhan dan Batasan
Ayat ke-23 dari Surat Al-Isra (Bani Israil) ini merupakan salah satu pilar utama dalam ajaran etika sosial Islam. Ayat ini memuat dua perintah fundamental yang harus dipatuhi oleh setiap Muslim, yang diletakkan langsung setelah perintah tauhid (mengesakan Allah SWT).
Ayat dimulai dengan penetapan dari Allah SWT, "Wa qadhaa Rabbuka alla ta'budu illaa iyyaah," yang artinya bahwa ketetapan (hukum) Tuhanmu adalah kamu tidak menyembah selain Dia. Penempatan perintah ini secara eksplisit menunjukkan prioritas tertinggi dalam Islam. Hak Allah untuk disembah tidak dapat dinegosiasikan dan merupakan pondasi dari seluruh ajaran Islam. Ini menekankan bahwa semua tindakan baik lainnya harus berakar pada keimanan yang benar.
Setelah menetapkan hak Allah, ayat ini segera beralih pada kewajiban kemanusiaan yang paling mendasar: berbuat baik kepada kedua orang tua ("wa bil-walidayni ihsana"). Kata ihsana (berbuat baik) di sini bersifat mutlak, mencakup segala bentuk perbuatan baik, mulai dari perkataan, perbuatan, hingga pengorbanan materiil dan emosional.
Ayat ini memberikan penekanan khusus ketika orang tua mencapai usia tua (kibara), yaitu usia di mana mereka sering kali menjadi lebih lemah, lebih rentan, dan mungkin memerlukan perhatian ekstra. Pada fase ini, potensi timbulnya gesekan emosional sangat tinggi. Allah SWT memberikan batasan etika yang sangat ketat:
Perintah dalam Al-Isra ayat 23 ini tidak hanya bersifat ritualistik, tetapi sangat mendalam secara psikologis. Islam memahami bahwa merawat orang tua lanjut usia adalah ujian kesabaran yang berat. Dengan melarang ekspresi kejengkelan sekecil apapun, Allah mengajarkan kontrol diri total dalam interaksi dengan figur yang telah berkorban besar bagi kita. Kepatuhan pada ayat ini dianggap sebagai penyeimbang penting bagi keimanan seseorang setelah tauhid. Jika seseorang mampu berbuat ihsan kepada orang tua yang membesarkannya dengan penuh kasih, maka ia diharapkan mampu menerapkan kebaikan yang sama kepada sesama manusia dan makhluk lainnya.
Secara ringkas, Al-Isra ayat 23 mengajarkan bahwa fondasi kehidupan sosial seorang Muslim adalah kesatuan antara penghambaan total kepada Allah dan penghormatan maksimal kepada ibu dan ayah.