Di jantung Pulau Sumatera, terbentang sebuah provinsi yang kaya akan tradisi dan budaya: Lampung. Dikenal dengan semboyannya yang agung, "Sai Bumi Ruwa Jurai" (Satu Bumi Dua Jurai), Lampung memadukan dua unsur kebudayaan utama, yaitu masyarakat adat Lampung dan masyarakat pendatang. Kekayaan budaya ini tercermin dalam berbagai aspek, salah satunya adalah aksara Lampung. Aksara ini bukan sekadar alat tulis, melainkan warisan berharga yang merekam sejarah, kearifan lokal, dan identitas masyarakat Lampung selama berabad-abad.
Representasi sederhana simbol aksara Lampung.
Aksara Lampung, yang juga dikenal sebagai Hanacaraka Lampung atau Kaganga, merupakan bagian dari rumpun aksara Brahmi dari India. Sejarahnya diperkirakan telah ada sejak abad ke-13 atau ke-14 Masehi, seiring dengan penyebaran agama Hindu-Buddha dan pengaruh kebudayaan India ke Nusantara. Awalnya, aksara ini digunakan untuk menulis prasasti, lontar, dan naskah-naskah keagamaan serta sastra.
Perkembangan aksara Lampung mengalami beberapa fase. Pada masa lalu, aksara ini ditulis pada daun lontar menggunakan pisau khusus. Seiring waktu, dengan masuknya pengaruh Islam, aksara ini juga digunakan untuk menuliskan teks-teks keagamaan Islam dalam bahasa Melayu Lampung. Pada masa kolonial Belanda, upaya kodifikasi dan standardisasi aksara Lampung mulai dilakukan. Namun, pasca kemerdekaan, penggunaannya perlahan mulai berkurang seiring dominasi aksara Latin.
Aksara Lampung memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dari aksara Nusantara lainnya. Sistem penulisannya adalah abugida, di mana setiap konsonan secara inheren memiliki vokal "a". Vokal lain (i, u, e, o) ditambahkan dengan menggunakan tanda diakritik (sandhangan) yang diletakkan di atas, bawah, depan, atau belakang konsonan.
Terdapat sekitar 20 aksara dasar yang merepresentasikan bunyi konsonan. Sandhangan yang digunakan juga memiliki bentuk yang unik dan bervariasi, memberikan nuansa artistik tersendiri pada setiap tulisan. Selain itu, aksara Lampung juga mengenal gugus konsonan yang disebut "khat" atau "cakra" yang berfungsi untuk menghilangkan vokal inheren "a" pada konsonan tertentu, sehingga konsonan tersebut dibaca mati. Keberadaan gugus konsonan ini sangat penting untuk membentuk kata-kata yang benar dalam bahasa Lampung.
Salah satu keunikan lain dari aksara Lampung adalah adanya aksara khusus yang hanya ada dalam aksara ini, seperti aksara "ng", "ny", "sy", dan "gh". Keberadaan aksara-aksara ini menunjukkan adaptasi dan evolusi aksara ini sesuai dengan fonologi bahasa Lampung.
Dalam konteks "Sai Bumi Ruwa Jurai", aksara Lampung memainkan peran sentral sebagai perekat identitas budaya masyarakat adat Lampung. Aksara ini menjadi simbol kebanggaan dan cerminan dari keberagaman etnis dan budaya yang hidup berdampingan di Lampung. Meskipun masyarakat pendatang memiliki bahasa dan aksara sendiri, keberadaan aksara Lampung tetap dihormati dan dihargai sebagai warisan leluhur provinsi ini.
Upaya pelestarian aksara Lampung terus dilakukan melalui berbagai program edukasi, mulai dari pengenalan di sekolah dasar hingga kursus-kursus bagi masyarakat umum. Materi-materi budaya, sastra lisan, dan sejarah Lampung banyak yang ditulis menggunakan aksara ini untuk menjaga otentisitasnya. Festival budaya dan lomba menulis aksara Lampung juga menjadi sarana untuk mempopulerkannya kembali di kalangan generasi muda.
Meski demikian, pelestarian aksara Lampung tidak lepas dari tantangan. Arus globalisasi dan dominasi teknologi digital yang menggunakan aksara Latin menjadi tantangan terbesar. Generasi muda seringkali lebih akrab dengan teknologi modern daripada dengan aksara leluhurnya. Hal ini menuntut adanya inovasi dalam metode pengajaran dan pemanfaatan teknologi untuk memperkenalkan aksara Lampung secara lebih menarik.
Harapannya, aksara Lampung dapat terus lestari dan berkembang. Dengan kesadaran kolektif dari pemerintah, akademisi, budayawan, dan masyarakat, aksara ini dapat terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas "Sai Bumi Ruwa Jurai". Upaya revitalisasi yang berkelanjutan adalah kunci agar aksara Lampung tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi media komunikasi, ekspresi seni, dan alat pemersatu bangsa di masa kini dan masa mendatang. Melalui aksara inilah, kisah dan kearifan masyarakat Lampung akan terus terwariskan, menjaga keutuhan "Sai Bumi Ruwa Jurai" untuk generasi yang akan datang.