Ilustrasi visualisasi konsep perjuangan dan keadilan.
Ayat ke-18 dari Surah Al-Anfal merupakan salah satu ayat yang memiliki makna mendalam dan sering menjadi rujukan dalam memahami bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatur jalannya pertempuran dan nasib umat manusia. Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Badar, sebuah momen krusial dalam sejarah Islam yang menandai kemenangan besar pertama bagi kaum Muslimin melawan kaum kafir Quraisy yang jumlahnya jauh lebih banyak.
"Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (kaum musyrikin atau kafilah dagang) itu pasti (menjadi milikmu), dan kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan (yakni kafilah dagang) itulah yang menjadi milikmu, padahal Allah berkehendak merealisasikan kebenaran dengan firman-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya." (QS. Al-Anfal: 7 - Konteks umum, namun ayat 18 yang fokus adalah berikut ini)
Ayat yang sebenarnya kita bahas, yaitu ayat 18, berbunyi:
"Dan (ingatlah), ketika Allah memperlihatkan musuhmu kepadamu dalam jumlah yang sedikit, dan kalau Allah memperlihatkan mereka kepadamu dalam jumlah yang banyak, tentu saja kamu menjadi gentar, dan tentu saja kamu akan berselisih dalam urusan itu. Tetapi Allah menyelamatkannya. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala isi hati."
Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kembali kepada para sahabat mengenai bagaimana Dia mengatur sedemikian rupa agar kaum Muslimin, yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan musuh, tidak merasa gentar atau putus asa. Allah menunjukkan bahwa musuh terlihat sedikit di mata mereka. Ini adalah salah satu bentuk pertolongan dan strategi ilahi yang brilian.
Jika saja Allah memperlihatkan jumlah musuh yang sebenarnya, yang beribu-ribu jumlahnya, tanpa intervensi ilahi, maka wajar saja jika kaum Muslimin akan merasa ketakutan luar biasa. Rasa takut ini bisa berujung pada kegagalan strategi, perselisihan internal, dan bahkan pembelotan. Namun, dengan memperlihatkan musuh dalam jumlah yang terlihat sedikit, Allah memberikan kekuatan mental dan keberanian kepada para pejuang Muslim.
Ini menunjukkan betapa pentingnya cara pandang. Apa yang terlihat oleh mata manusia terkadang berbeda dengan realitas yang lebih besar atau rencana ilahi. Ayat ini mengajarkan bahwa dalam setiap kesulitan, kita perlu mengarahkan pandangan kita kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, dan meyakini bahwa Dia memiliki cara terbaik untuk menguji dan menolong hamba-Nya. Keberanian sejati datang dari keyakinan kepada Allah, bukan dari perhitungan kekuatan fisik semata.
Frasa "وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ سَلَّمَ" (Tetapi Allah menyelamatkannya) mengandung makna yang sangat luas. Keselamatan di sini mencakup berbagai aspek: keselamatan dari ketakutan yang berlebihan, keselamatan dari perselisihan yang dapat memecah belah barisan, dan tentu saja, keselamatan fisik di medan pertempuran. Allah menyelamatkan kaum Muslimin dari kelemahan hati dan keraguan yang bisa meruntuhkan semangat juang mereka.
Hal ini menekankan bahwa kemenangan bukanlah semata-mata hasil dari kekuatan strategi atau jumlah pasukan. Kemenangan adalah anugerah dan ketetapan dari Allah. Keputusan-Nya lah yang menentukan hasil akhir. Ayat ini juga berfungsi sebagai pengingat agar manusia tidak sombong dengan kekuatan yang dimiliki, karena segalanya berada di bawah kendali-Nya.
Bagian akhir ayat, "إِنَّهُۥ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ" (Sungguh Allah Maha Mengetahui segala isi hati), adalah penegasan akan sifat ke Maha-tahuan Allah. Dia mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada, niat yang tulus, keraguan yang terpendam, ketakutan yang dirasakan, maupun keberanian yang dipupuk. Dengan mengetahui ini, Allah dapat memberikan balasan yang setimpal dan memberikan pertolongan yang tepat sasaran.
Pemahaman akan ayat ini memberikan pelajaran penting bagi setiap individu Muslim. Dalam menghadapi berbagai ujian hidup, baik itu ujian dalam skala kecil seperti masalah pribadi maupun ujian dalam skala besar seperti perjuangan dakwah atau membela kebenaran, kita diingatkan untuk selalu bergantung pada Allah. Jangan biarkan keterbatasan pandangan kita membatasi keyakinan kita pada kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya.
Ayat ini mengajarkan beberapa hal penting yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:
Dengan merenungkan Surah Al-Anfal ayat 18, kita diajak untuk selalu melihat segala sesuatu dari perspektif ilahi, meyakini bahwa Allah adalah Sang Pengatur Segala Urusan, dan Dialah sumber kekuatan serta keselamatan yang hakiki.