Pulau Dewata Bali tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga kaya akan warisan budaya dan sejarah yang mendalam. Salah satu aspek yang paling menarik dari kekayaan budaya Bali adalah keberadaan tulisan Bali kuno. Lebih dari sekadar aksara, tulisan Bali kuno merupakan jendela menuju pemahaman mendalam tentang filsafat, ajaran agama, sejarah, serta kehidupan masyarakat Bali di masa lalu. Aksara yang masih lestari ini, seringkali terukir di atas daun lontar, menjadi saksi bisu peradaban yang telah berumur ratusan bahkan ribuan tahun.
Aksara Bali merupakan turunan dari aksara Pallawa India Selatan, yang berkembang dan mengalami adaptasi unik di Nusantara, khususnya di Bali. Bentuknya yang khas, dengan guratan meliuk-liuk dan elegan, memberikan identitas visual yang kuat. Berbeda dengan aksara yang digunakan sehari-hari, tulisan Bali kuno memiliki karakteristik tersendiri dalam penggunaannya, terutama dalam penulisan naskah-naskah keagamaan, sastra, dan lontar-lontar berisi ajaran. Pengetahuan tentang tulisan Bali kuno ini diajarkan secara turun-temurun oleh para sesepuh dan pandita, menjaga agar warisan intelektual ini tidak punah.
Media utama yang digunakan untuk menulis aksara Bali kuno adalah daun lontar. Proses persiapan daun lontar pun tidak sembarangan. Daun dari pohon siwalan (Borassus flabellifer) ini dipilih, dijemur, kemudian direbus dan dihaluskan untuk mendapatkan permukaan yang rata dan kuat. Setelah itu, barulah teks-teks kuno ditulis menggunakan alat khusus yang disebut 'pengerik' atau 'pengutik', yang terbuat dari logam tajam. Proses penulisan ini membutuhkan ketelitian dan keahlian tinggi, mengingat sifat material daun lontar yang rentan. Setelah ditulis, daun lontar ini kemudian diikat menjadi satu kesatuan yang disebut 'lontar' atau 'asta'. Lontar-lontar ini menyimpan khazanah pengetahuan yang sangat berharga.
Isi dari lontar-lontar Bali kuno sangat beragam. Di dalamnya kita dapat menemukan berbagai jenis naskah, antara lain:
Meskipun penting, pelestarian tulisan Bali kuno bukanlah perkara mudah. Tergerusnya waktu, faktor alam, serta perubahan zaman menjadi tantangan tersendiri. Namun, berbagai upaya terus dilakukan untuk melestarikan warisan berharga ini. Para peneliti, akademisi, lembaga kebudayaan, serta masyarakat Bali sendiri aktif dalam melakukan alih aksara (mentransliterasi tulisan kuno ke huruf Latin), konservasi lontar agar tidak rusak, serta pendidikan dan sosialisasi kepada generasi muda. Banyak pula kegiatan pelatihan menulis aksara Bali yang diadakan untuk memastikan kelangsungan tradisi ini.
Memahami tulisan Bali kuno berarti membuka pintu ke dunia leluhur yang penuh kebijaksanaan. Ini bukan hanya tentang mengenali bentuk aksara, tetapi juga tentang mengapresiasi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Melalui tulisan-tulisan ini, kita dapat belajar tentang bagaimana masyarakat Bali terdahulu menjalani hidup, membangun peradaban, serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Warisan ini patut dijaga dan dilestarikan agar terus memberikan inspirasi dan pelajaran bagi generasi kini dan mendatang.