Tulisan Jawa Hanacaraka Lengkap

Hanacaraka Ha Na Ca Ra Ka Da

Tulisan Jawa, atau yang lebih dikenal dengan aksara Ngé rangga, adalah sistem penulisan tradisional yang berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Di antara berbagai aksara Nusantara, aksara Jawa memiliki sejarah yang panjang dan kaya, serta masih terus dipelajari dan dilestarikan hingga kini. Inti dari aksara Jawa ini adalah rangkaian huruf yang dikenal sebagai "Hanacaraka". Urutan ini bukan sekadar daftar huruf, tetapi memiliki makna filosofis dan narasi tersendiri yang menceritakan sebuah kisah.

Asal-Usul dan Makna Hanacaraka

Rangkaian Hanacaraka (Ha, Na, Ca, Ra, Ka) diyakini berasal dari sebuah kisah alegoris tentang dua tokoh sakti, Aji Saka dan Dewata Cengkar. Konon, Aji Saka tiba di tanah Medang Kamulan dan diperintah oleh Raja Dewata Cengkar untuk mencari kepala lembu. Dewata Cengkar adalah raja yang lalim, memakan manusia, dan memiliki kesaktian tinggi. Aji Saka yang bijaksana kemudian berhasil mengalahkan Dewata Cengkar dengan menggunakan dua ekor sapinya yang sakti. Cerita ini menjadi landasan filosofis dari setiap aksara yang ada dalam tradisi Jawa.

Urutan Hanacaraka ini kemudian berkembang menjadi aksara-aksara lain yang melengkapi, membentuk sebuah sistem penulisan yang lengkap. Setiap aksara memiliki bentuk, nama, dan nilai bunyi yang spesifik. Keindahan aksara Jawa tidak hanya terletak pada bentuknya yang artistik, tetapi juga pada kekayaan makna yang terkandung di dalamnya. Aksara Jawa ini merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia dan menjadi sumber kebanggaan.

Aksara Dasar Hanacaraka Lengkap

Sistem penulisan Hanacaraka terdiri dari aksara nglegena (dasar), pasangan, sandhangan (tanda baca), dan angka. Berikut adalah 20 aksara nglegena yang menjadi dasar dari tulisan Jawa:

Aksara Nama Aksara Bunyi
𑦀ha Ha /h/, /a/
𑦁na Na /n/, /a/
𑦂ca Ca /c/, /a/
𑦃ra Ra /r/, /a/
𑦄ka Ka /k/, /a/
𑦅da Da /d/, /a/
𑦆ta Ta /t/, /a/
𑦇sa Sa /s/, /a/
𑦈wa Wa /w/, /a/
𑦉la La /l/, /a/
𑦊pa Pa /p/, /a/
𑦋dha Dha /dʰ/, /a/
𑦌ja Ja /ɟ/, /a/
𑦍ya Ya /j/, /a/
𑦎nya Nya /ɲ/, /a/
𑦏ma Ma /m/, /a/
𑦐ga Ga /g/, /a/
𑦑ba Ba /b/, /a/
𑦒ta Ta /ʈ/, /a/
𑦓nga Nga /ŋ/, /a/

Sandhangan dan Pasangan

Aksara nglegena di atas dapat dimodifikasi dengan menambahkan sandhangan untuk mengubah bunyi vokalnya (misalnya menjadi i, u, e, o) atau menambahkan konsonan di akhir suku kata. Selain itu, ada pula aksara pasangan yang digunakan ketika sebuah konsonan bertemu dengan konsonan lain tanpa vokal di antaranya, untuk menghindari pengucapan vokal 'a' yang melekat pada konsonan pertama.

Misalnya, untuk membuat suku kata 'ki' dari aksara 'ka', kita menambahkan sandhangan wulu di atasnya. Untuk membuat suku kata 'kang', kita menambahkan sandhangan cecak di atasnya. Penggunaan pasangan juga krusial. Jika kita ingin menulis kata "karya", aksara 'ka' akan diikuti oleh pasangan 'ra'. Tanpa pasangan, kata tersebut bisa dibaca "karaya".

Pentingnya Pelestarian Hanacaraka

Di era digital ini, pelestarian aksara Jawa menjadi semakin penting. Meskipun banyak orang tidak lagi menggunakan Hanacaraka dalam komunikasi sehari-hari, aksara ini tetap menjadi bagian integral dari identitas budaya Jawa dan Indonesia. Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari pengajaran di sekolah-sekolah, pengembangan aplikasi digital, hingga workshop dan seminar. Mempelajari Hanacaraka bukan hanya tentang mengenali bentuk huruf, tetapi juga mendalami sejarah, sastra, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Memahami tulisan Jawa Hanacaraka lengkap memberikan kita jendela untuk melihat kekayaan peradaban masa lalu. Ini adalah warisan berharga yang patut dijaga dan dihargai agar tidak punah ditelan zaman. Dengan demikian, generasi mendatang dapat terus terhubung dengan akar budaya mereka dan bangga akan kekayaan tradisi lisan dan tulisan Nusantara.

Tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang aksara Jawa?

Jelajahi Wikipedia
🏠 Homepage