Ukuran Baik dan Buruk dalam Akhlak Tasawuf

Baik Buruk

Ilustrasi Keseimbangan Batin (Qalb)

Dalam kerangka ajaran Islam, khususnya dalam disiplin ilmu tasawuf, penentuan antara perilaku baik (akhlak Mahmudah) dan perilaku buruk (akhlak Madhmumah) tidak hanya didasarkan pada norma syariat semata, namun juga pada kedalaman spiritual dan dampaknya terhadap kesucian hati (qalb). Tasawuf menawarkan perspektif yang lebih holistik mengenai moralitas, menganggap tindakan lahiriah sebagai cerminan keadaan batin.

Kriteria Penilaian dalam Perspektif Tasawuf

Berbeda dengan fiqh yang fokus pada sah atau tidaknya suatu perbuatan di hadapan hukum, tasawuf menimbang perbuatan berdasarkan niat (niyyah) dan dampaknya terhadap hubungan manusia dengan Tuhan (Allah SWT) serta sesama makhluk. Ukuran baik dan buruk dalam akhlak tasawuf berpusat pada sejauh mana suatu perbuatan mendekatkan atau menjauhkan diri dari sifat-sifat ilahiah.

Inti dari penilaian ini adalah konsep Ikhlas. Sebuah perbuatan yang secara lahiriah terlihat baik (seperti sedekah besar) dapat dianggap kurang baik jika disertai riya' (pamer), sementara amalan kecil yang dilakukan dengan ketulusan penuh dapat memiliki bobot besar di sisi Allah.

Akhlak Baik (Mahmudah): Ciri Kedekatan Spiritual

Akhlak yang baik dalam tasawuf adalah manifestasi dari hati yang telah dimurnikan. Ukuran utamanya adalah kemampuannya untuk menumbuhkan Mahabbah (cinta kepada Allah) dan Khauf (rasa takut yang konstruktif kepada-Nya). Perilaku ini cenderung pasifitas positif, di mana nafsu dikendalikan oleh akal dan ruhani.

Akhlak Buruk (Madhmumah): Penghalang Spiritual

Sebaliknya, akhlak buruk dalam tasawuf adalah penyakit hati yang menghalangi proses penyucian diri (tazkiyatun nafs). Ukuran keburukan diukur dari seberapa besar dorongan ego (nafs al-ammarah) mendominasi akal sehat dan hati nurani. Perilaku ini selalu didasari oleh keterikatan yang berlebihan pada dunia atau citra diri.

Para sufi memandang bahwa keburukan sejati bukanlah sekadar melanggar larangan, tetapi adalah kegagalan menjaga kebersihan hati dari enam sifat utama yang dianggap sebagai "penghalang":

  1. Hasad (Dengki): Keinginan agar nikmat orang lain hilang. Ini menunjukkan kurangnya keyakinan pada pembagian rezeki Ilahi.
  2. Ghibah (Menggunjing): Menyakiti orang lain di belakangnya. Ini merupakan wujud superioritas palsu yang menutupi rasa tidak aman diri sendiri.
  3. Kibir (Kesombongan): Menolak kebenaran dan meremehkan manusia lain. Ini adalah puncak keburukan karena secara implisit menyamai diri dengan kesempurnaan Tuhan.
  4. Hubb ad-Dunya (Cinta Dunia): Keterikatan material yang mengalihkan fokus dari tujuan akhirat.

Peran Mursyid dan Konsistensi Diri

Menentukan ukuran baik dan buruk secara otentik memerlukan mata batin yang telah dilatih. Oleh karena itu, dalam tradisi tasawuf, bimbingan seorang Mursyid (pembimbing spiritual) sangat diperlukan. Mursyid berfungsi sebagai cermin spiritual, membantu murid melihat cacat-cacat batin yang tidak dapat dilihat sendiri. Jika seorang murid merasa tindakannya benar tetapi hatinya gelisah atau kosong, itu adalah indikator bahwa akhlak tersebut belum mencapai standar tasawuf sejati, terlepas dari pujian manusia.

Pada akhirnya, ukuran baik dan buruk dalam tasawuf adalah kompatibilitas total antara pikiran, ucapan, dan perbuatan dengan nilai-nilai universal yang menuntun pada kebenaran hakiki. Suatu akhlak dikatakan baik jika menghasilkan kedamaian batin (sakinah) dan mendekatkan kepada Tuhan, dan buruk jika menimbulkan kegelisahan (waswas) serta menjauhkan dari hadirat-Nya.

Penyucian diri adalah perjalanan yang berkelanjutan, menuntut penimbangan terus-menerus terhadap motif di balik setiap tindakan. Konsistensi dalam mempraktikkan akhlak Mahmudah adalah tolok ukur keberhasilan seorang pejalan spiritual di jalan tasawuf.

🏠 Homepage