Ilustrasi simbolis dari perjalanan suci yang diceritakan.
Surat Al-Isra', yang juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, adalah salah satu bab dalam Al-Qur'an yang menyimpan kisah monumental dalam sejarah Islam. Nama surat ini diambil dari ayat pembukanya yang secara gamblang mengisahkan perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini merupakan mukjizat besar yang menegaskan kedudukan kenabian dan memberikan penghiburan signifikan bagi Rasulullah di tengah kesulitan dakwahnya.
Secara harfiah, 'Isra' berarti perjalanan di malam hari. Ayat pertama surat ini mengabadikan momen ketika Allah SWT memperjalankan hamba-Nya dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Perjalanan ini, yang terjadi dalam satu malam, merupakan pemenuhan janji ilahi dan penegasan spiritual yang mendalam. Masjidil Aqsa memiliki kedudukan historis yang sangat penting; ia adalah kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya dipindahkan ke Ka'bah di Mekkah.
Kisah dalam Al-Isra' menyoroti signifikansi Masjidil Aqsa, tempat tujuan perjalanan malam tersebut. Di sana, Nabi Muhammad SAW bertemu dan salat bersama para nabi terdahulu, sebuah penegasan bahwa risalah yang dibawanya adalah kelanjutan dari ajaran para rasul sebelum beliau. Keberadaan masjid ini sebagai titik akhir Isra' menegaskan bahwa Islam adalah agama universal yang mewarisi dan menyempurnakan tradisi kenabian sebelumnya.
Setelah Isra', barulah dilanjutkan dengan Mi'raj, kenaikan Nabi ke tingkatan langit tertinggi. Meskipun Mi'raj sering dibahas bersamaan, Surat Al-Isra' secara spesifik berfokus pada aspek perjalanan darat malam hari (Isra'). Peristiwa ini memberikan landasan teologis bahwa Allah Maha Kuasa atas ruang dan waktu, mampu melakukan apa pun yang Ia kehendaki bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih.
Lebih dari sekadar kisah perjalanan, Surat Al-Isra' sarat dengan petunjuk moral dan etika yang relevan hingga kini. Setelah mengisahkan perjalanan agung tersebut, Allah SWT segera memberikan serangkaian perintah dan larangan yang membentuk fondasi akhlak seorang Muslim. Di antaranya adalah perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua dengan penuh kasih sayang dan kerendahan hati. Ayat-ayat ini menekankan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan, yang merupakan pilar utama dalam masyarakat yang sehat.
Surat ini juga secara tegas melarang perbuatan keji seperti membunuh anak karena kemiskinanāsebuah praktik yang terjadi pada masa Jahiliyah. Selain itu, Al-Isra' melarang perbuatan zina, berbohong, dan memakan harta anak yatim secara tidak benar. Instruksi-instruksi ini menunjukkan bahwa wahyu bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga tentang keadilan sosial dan integritas pribadi.
Salah satu pesan kunci lainnya yang terkandung di dalamnya adalah ajakan untuk menyeimbangkan kehidupan duniawi dengan persiapan akhirat. Allah SWT mengingatkan bahwa dunia hanyalah sarana dan bukan tujuan akhir. Setiap perbuatan yang dilakukan di dunia akan dicatat dan dipertanggungjawabkan. Pesan ini berfungsi sebagai pengingat terus-menerus bagi umat Islam untuk tidak terbuai oleh kemewahan atau kesenangan duniawi yang fana, melainkan senantiasa mengingat tujuan utama penciptaan mereka.
Kisah 1732 Al-Isra', meskipun diidentikkan dengan peristiwa malam hari yang menakjubkan, pada dasarnya adalah sebuah deklarasi tentang keagungan Allah dan tuntunan hidup yang komprehensif. Ia adalah jaminan bahwa di tengah kesulitan (seperti yang dialami Nabi setelah kehilangan pendukung utama dan menghadapi penolakan), pertolongan ilahi pasti datang dalam bentuk yang paling tidak terduga, sekaligus sebagai cetak biru etika sosial bagi umat manusia.