Surah Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surah Madaniyah yang kaya akan tuntunan hukum, kisah-kisah para nabi, dan peringatan penting bagi umat Islam. Di antara ayat-ayat penting dalam surah ini, terdapat ayat ke-16 yang memegang peranan sentral dalam menjelaskan status Al-Qur'an sebagai sumber cahaya dan petunjuk ilahi.
"Katakanlah: 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, biarlah ia mengerjakan amal saleh dan jangan ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.'"
Ayat ini dibuka dengan perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menegaskan hakikat dirinya: seorang manusia biasa. Penegasan ini sangat penting untuk memutus potensi kesyirikan atau pemujaan berlebihan terhadap pribadi Rasulullah SAW. Beliau adalah pembawa wahyu, bukan Tuhan itu sendiri. Fokus utama wahyu yang dibawakan adalah tauhid—pengesaan mutlak terhadap Allah SWT sebagai satu-satunya Ilah yang patut disembah.
Penekanan pada "Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa" (Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah) menjadi landasan fundamental ajaran Islam. Ketika dasar tauhid telah ditetapkan, ayat ini kemudian mengarahkan konsekuensi logisnya, yaitu perilaku dan ibadah seorang mukmin.
Ayat 16 merangkum dua prasyarat utama agar amal ibadah diterima dan diridai Allah, yaitu harapan akan perjumpaan (pertemuan) dengan-Nya di akhirat dan penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan.
Frasa "barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya" mengandung motivasi spiritual yang mendalam. Ini merujuk pada keinginan tulus untuk mendapatkan keridhaan dan balasan dari Allah di hari kiamat, yaitu Hari Pembalasan. Harapan ini bukan sekadar keinginan pasif, melainkan dorongan aktif untuk mempersiapkan diri. Motivasi yang bersumber dari rasa harap ini jauh lebih kuat dan berkelanjutan daripada motivasi yang hanya didasari rasa takut semata. Orang yang mengharapkan pertemuan yang baik pasti akan berusaha memastikan bekalnya (amal saleh) telah disiapkan dengan baik.
Syarat kedua dan yang paling krusial adalah: "biarlah ia mengerjakan amal saleh dan jangan ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya." Ini adalah inti dari Laa Ilaaha Illallah. Amal saleh harus dilandasi oleh niat yang murni, yaitu tidak menyekutukan Allah dalam bentuk apapun (syirik). Syirik dapat terjadi dalam bentuk perbuatan (menyembah selain Allah), perkataan (mengagungkan selain Allah melebihi kadar yang semestinya), maupun keyakinan (berdoa atau meminta pertolongan kepada selain-Nya dalam ranah yang khusus milik Allah).
Jika amal saleh dilakukan dengan tujuan mencari pujian manusia (riya') atau dicampuri unsur kesyirikan, maka meskipun terlihat baik di mata manusia, ia menjadi batal di sisi Allah. Oleh karena itu, Al-Ma'idah ayat 16 mengajarkan bahwa kualitas ibadah diukur dari kemurnian niatnya yang terikat erat pada tauhid murni.
Di tengah derasnya arus budaya populer dan godaan materialisme, pengingat dari Al-Ma'idah ayat 16 ini tetap relevan. Tantangan terbesar umat Muslim saat ini seringkali bukan lagi dalam konteks penyembahan berhala secara fisik, melainkan dalam bentuk kesyirikan terselubung, seperti menjadikan popularitas, harta benda, atau kekuasaan sebagai tujuan akhir ibadah dan usaha.
Setiap Muslim diajak untuk secara introspektif menilai motivasi di balik setiap tindakan. Apakah pekerjaan yang kita tekuni, kekayaan yang kita kumpulkan, atau bahkan ibadah yang kita lakukan, semuanya ditujukan murni untuk meraih ridha Allah SWT dan mengharap perjumpaan yang membahagiakan di akhirat? Ayat ini adalah kompas yang memastikan bahwa kapal kehidupan kita berlayar di atas lautan tauhid yang kokoh, menjauh dari badai kesyirikan yang dapat menenggelamkan segala amal kebaikan. Dengan memahami dan mengamalkan ayat ini, seorang mukmin menancapkan fondasi kuat bagi keselamatan spiritualnya.