Al-Qur'an Al-Karim adalah sumber hukum dan pedoman hidup bagi umat Islam. Di antara ayat-ayatnya, terdapat ayat-ayat yang secara tegas meluruskan kesalahpahaman mengenai hakikat para nabi dan rasul, serta konsep ketuhanan. Salah satu ayat kunci dalam konteks ini adalah Surat Al-Maidah ayat ke-75. Ayat ini berfungsi sebagai koreksi mendasar terhadap pandangan yang menganggap nabi atau orang saleh memiliki derajat ketuhanan.
مَا ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ ٱلطَّعَامَ ۗ ٱنظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلْءَايَٰتِ ثُمَّ ٱنظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
"Al-Masih, putra Maryam itu, hanyalah seorang rasul, sebagaimana rasul-rasul terdahulu telah berlalu. Dan ibunya seorang yang sangat benar (shiddiqah). Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (daripadanya)."
Ayat 75 dari Surah Al-Maidah ini secara eksplisit berbicara mengenai kedudukan Nabi Isa bin Maryam (Yesus Kristus). Tujuan utama ayat ini adalah untuk menegaskan kembali bahwa Nabi Isa, meskipun memiliki mukjizat luar biasa yang diberikan Allah SWT—seperti terlahir tanpa ayah dan menyembuhkan orang sakit dengan izin Allah—tetaplah seorang manusia dan seorang rasul.
Frasa "hanyalah seorang rasul" (إِلَّا رَسُولٌ) sangatlah penting. Kata "hanyalah" (إِلَّا) berfungsi sebagai pembatasan yang tegas. Ia meniadakan segala bentuk klaim ketuhanan atau keilahian yang mungkin disematkan kepada beliau, baik oleh pengikutnya maupun melalui interpretasi yang keliru. Rasul adalah utusan yang membawa risalah, bukan Tuhan yang disembah.
Lebih lanjut, ayat ini juga memuji ibunda Nabi Isa, yaitu Maryam (Maria). Allah SWT menyebut beliau sebagai "seorang yang sangat benar (shiddiqah)" (وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٌ). Status shiddiqah adalah tingkatan kemuliaan yang tinggi bagi seorang wanita dalam Islam, menunjukkan kejujuran mutlak dan keimanan yang teguh. Namun, kemuliaan Maryam sebagai shiddiqah juga tidak mengangkatnya ke derajat yang menisbahkan unsur ilahi kepadanya. Pujian ini adalah penghargaan atas kesalehan, bukan pengakuan sebagai entitas yang patut disembah.
Salah satu argumen paling logis dan mudah dipahami yang disajikan oleh ayat ini adalah pengingat tentang sifat kemanusiaan kedua tokoh tersebut melalui kebutuhan dasar. Allah berfirman, "Keduanya biasa memakan makanan." Kebutuhan untuk mengonsumsi makanan adalah ciri khas makhluk hidup yang membutuhkan asupan energi dan nutrisi untuk mempertahankan eksistensi jasmaninya.
Ketuhanan, dalam konsep tauhid Islam, mensyaratkan kesempurnaan, kemandirian, dan tidak membutuhkan apa pun. Tuhan tidak lapar, tidak haus, dan tidak perlu makan. Dengan menunjukkan bahwa Nabi Isa dan ibunya membutuhkan makanan, Allah menegaskan batasan eksistensi mereka sebagai ciptaan. Ini adalah metode dakwah yang sangat efektif, menggunakan logika akal sehat untuk membongkar kekeliruan teologis yang kompleks.
Bagian penutup ayat ini, "Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (daripadanya)," mengandung nada keprihatinan mendalam. Allah menunjukkan bahwa penjelasan-Nya sudah gamblang, jelas, dan logis—menggunakan nabi terkemuka dan ibunya sebagai contoh. Namun, meskipun bukti telah disajikan secara terbuka dan berulang kali, masih ada sekelompok manusia yang memilih untuk menolak kebenaran tersebut dan berpaling kepada kesesatan. Fenomena berpaling dari ayat-ayat yang jelas ini adalah cerminan dari pengerasan hati dan kecenderungan hawa nafsu yang mengalahkan akal.
Secara keseluruhan, Al-Maidah ayat 75 adalah pondasi teologis dalam Islam yang menempatkan semua nabi pada posisi yang benar: sebagai utusan Allah yang mulia, namun tetap hamba Allah yang tunduk pada hukum penciptaan-Nya. Ayat ini relevan sepanjang masa sebagai penegasan tauhid yang murni.