Akhlak atau karakter moral merupakan fondasi penting dalam kehidupan seorang Muslim. Akhlak yang baik (mahmudah) akan mendekatkan seseorang kepada Allah SWT dan membawa manfaat bagi sesama. Sebaliknya, akhlak tercela (madzmumah) harus dihindari karena dapat merusak hubungan vertikal (dengan Tuhan) maupun horizontal (dengan sesama manusia).
Memahami apa saja bentuk-bentuk akhlak tercela adalah langkah awal untuk membersihkan jiwa. Berikut adalah lima contoh akhlak tercela yang umum ditemukan dan perlu mendapat perhatian serius untuk diperbaiki.
Ilustrasi: Representasi visual dari kegelapan akhlak.
Hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang darinya, dan berpindah kepada dirinya sendiri. Ini berbeda dengan ghibtah, yaitu keinginan memiliki nikmat yang sama tanpa mengharapkan hilangnya nikmat tersebut dari pemiliknya. Hasad adalah penyakit hati yang sangat berbahaya karena ia menunjukkan ketidakmampuan seseorang menerima kebahagiaan orang lain dan merasa tidak ridha terhadap ketetapan Allah (qada dan qadar) atas rezeki orang lain.
Dampak dari hasad sangat merusak. Pelaku hasad akan terus merasa gelisah, tidak tenang, dan seringkali terdorong untuk melakukan perbuatan buruk lain demi menjatuhkan orang yang didengki. Dalam banyak ajaran agama, hasad disebut sebagai api yang membakar habis amal kebaikan seperti api memakan kayu bakar.
Sombong adalah merasa diri lebih hebat, lebih benar, atau lebih mulia daripada orang lain. Kesombongan seringkali berakar dari kekaguman berlebihan terhadap diri sendiri atas ilmu, harta, atau nasab (keturunan). Sifat ini adalah hal pertama yang menyebabkan Iblis diusir dari surga, karena ia menolak perintah sujud kepada Nabi Adam AS karena merasa lebih unggul.
Seorang yang sombong akan sulit menerima nasihat, meremehkan orang yang dianggap lebih rendah, dan merasa berhak atas perlakuan istimewa. Pada akhirnya, kesombongan menjauhkan manusia dari rahmat Allah dan menutupi pintu kebenaran baginya.
Perilaku ini merusak tatanan sosial. Jika ghibah sudah menjadi budaya, rasa saling percaya akan hilang, permusuhan akan menyebar, dan lingkungan menjadi tidak sehat secara spiritual. Meskipun keburukan yang dibicarakan itu benar, mengatakannya di belakang tetap terlarang karena melanggar kehormatan (izzah) pribadi seseorang.
Ananiyah adalah kecenderungan untuk selalu menempatkan kepentingan diri sendiri di atas segalanya. Sikap ini membuat seseorang tidak peka terhadap kebutuhan dan penderitaan orang lain. Dalam interaksi sosial, penganut ananiyah cenderung hanya mau menerima, namun enggan memberi atau berkorban.
Akhlak ini berlawanan total dengan semangat persaudaraan dan kepedulian sosial yang diajarkan. Dampaknya adalah isolasi sosial; orang lain akan menjauhi karena merasa tidak dihargai atau tidak pernah dilibatkan dalam pertimbangan. Padahal, kebahagiaan sejati sering kali ditemukan dalam memberi dan berbagi.
Meskipun ini adalah masalah internal, putus asa dari rahmat Allah termasuk akhlak yang sangat tercela karena menunjukkan kurangnya keyakinan (iman) terhadap kekuasaan dan kasih sayang Tuhan. Ketika seseorang mengalami kesulitan dan sampai pada titik merasa bahwa tidak ada lagi jalan keluar atau pengampunan, ia telah jatuh ke dalam jurang keputusasaan.
Putus asa seringkali menjadi pintu masuk bagi masalah psikologis dan perilaku destruktif lainnya. Seorang mukmin sejati harus selalu meyakini bahwa selama nyawa masih di kandung badan, pintu taubat dan pertolongan Allah selalu terbuka lebar. Sikap optimis dan tawakkal adalah penangkal utama terhadap penyakit putus asa ini.
Membersihkan diri dari lima akhlak tercela di atas—Hasad, Sombong, Ghibah, Ananiyah, dan Putus Asa—memerlukan introspeksi diri yang jujur dan usaha spiritual yang konsisten. Dengan senantiasa memohon pertolongan Allah dan berusaha keras untuk mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baik (seperti ikhlas, rendah hati, menjaga lisan, peduli sosial, dan selalu berharap), kita dapat mewujudkan pribadi yang lebih mulia dan dicintai.