Ilustrasi sederhana mengenai kondisi aliran ejakulasi.
Mengalami kondisi di mana air mani tidak memancar dengan kuat atau bahkan tidak keluar sama sekali saat orgasme bisa menjadi pengalaman yang mengkhawatirkan bagi banyak pria. Meskipun ejakulasi adalah proses refleks yang biasanya berjalan mulus, berbagai faktor dapat mengganggu kekuatan pancaran (volume dan kecepatan). Kondisi ini dikenal sebagai hipospermia (volume rendah) atau, dalam kasus ekstrem, anejakulasi (tidak ada ejakulasi). Memahami akar permasalahannya adalah langkah pertama menuju penanganan yang tepat.
Aliran ejakulasi dipengaruhi oleh kontraksi otot-otot di sepanjang uretra dan dasar panggul. Jika ada gangguan pada jalur atau fungsi otot ini, pancaran bisa melemah. Beberapa penyebab utamanya meliputi:
Stres, kecemasan kinerja (performance anxiety), depresi, atau masalah hubungan seringkali menjadi penghambat terbesar. Pikiran yang terganggu dapat menekan sistem saraf otonom yang mengatur respons seksual, termasuk ejakulasi. Rasa takut atau tekanan untuk "tampil" dapat menyebabkan penundaan atau kegagalan ejakulasi.
Salah satu penyebab medis yang paling umum adalah efek samping dari obat-obatan tertentu, terutama yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi (antihipertensi) dan gangguan kejiwaan. Obat golongan penghambat alfa (alpha-blockers), yang sering diresepkan untuk masalah prostat atau tekanan darah, dapat menyebabkan ejakulasi retrograde, di mana air mani masuk kembali ke kandung kemih, sehingga pancaran luar menjadi lemah atau tidak ada.
Kondisi ini terjadi ketika otot sfingter leher kandung kemih gagal menutup selama orgasme. Akibatnya, semen alih-alih keluar melalui penis, malah mengalir mundur ke dalam kandung kemih. Ini sering dikaitkan dengan diabetes yang tidak terkontrol, operasi prostat (terutama TURP), atau penggunaan obat-obatan tertentu. Meskipun ejakulasi terjadi, volume yang keluar secara eksternal sangat minim atau nihil.
Struktur yang memproduksi cairan semen, yaitu prostat dan vesikula seminalis, bisa mengalami disfungsi karena peradangan (prostatitis) atau pembengkakan. Jika kelenjar ini tidak berfungsi optimal, volume cairan yang diproduksi akan berkurang drastis.
Gangguan saraf yang mempengaruhi area panggul, seperti cedera tulang belakang, multipel sklerosis, atau penyakit Parkinson, dapat mengganggu sinyal saraf yang diperlukan untuk kontraksi otot ejakulasi yang kuat.
Dalam kasus yang jarang terjadi, penyumbatan fisik pada uretra akibat striktur (penyempitan) atau sisa jaringan pasca-operasi dapat menghalangi keluarnya semen.
Jika masalah air mani tidak memancar ini terjadi sesekali, mungkin tidak perlu dikhawatirkan, terutama jika disebabkan oleh stres sementara. Namun, jika kondisi ini terus berlanjut dan mengganggu aktivitas seksual atau menimbulkan kekhawatiran kesuburan, penting untuk berkonsultasi dengan dokter, idealnya spesialis urologi.
Penanganan akan sangat bergantung pada diagnosis penyebab utama:
Jangan biarkan kekhawatiran ini menguasai kualitas hidup seksual Anda. Dengan diagnosis yang tepat dari profesional kesehatan, banyak penyebab air mani yang tidak memancar dapat dikelola atau diatasi secara efektif.