Surat Al-Isra (Bani Israil) ayat 9 hingga 15 adalah rangkaian ayat yang sangat penting dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai janji manis bagi mereka yang teguh dalam ketaatan dan peringatan keras bagi mereka yang berpaling dari kebenaran. Inti dari bagian ini adalah penegasan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk jalan yang paling lurus, membawa kabar gembira bagi orang-orang mukmin dan ancaman bagi mereka yang menolak iman.
Ayat-ayat ini menegaskan peran Al-Qur'an sebagai 'sabil' (jalan) yang paling benar, membedakannya dari jalan-jalan lain yang menyesatkan. Pembahasan ini akan mengupas makna inti dari ayat 9 hingga 15.
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih benar dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (QS. Al-Isra: 9)
Ayat 9 adalah fondasi dari bagian ini. Ia menetapkan dua fungsi utama Al-Qur'an: hidayah (petunjuk) menuju jalan yang paling lurus, dan busra (kabar gembira) bagi mereka yang melaksanakan ajaran tersebut dalam bentuk amal saleh. Pahala yang dijanjikan di sini bersifat 'besar', mengindikasikan kemuliaan yang tidak terhingga di sisi Allah SWT. Ini adalah motivasi utama bagi seorang Muslim untuk senantiasa membaca, memahami, dan mengamalkan isinya.
"Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhir, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih. Dan manusia memohon kebaikan sebagaimana (ia memohon) keburukan. Dan manusia itu memang cepat sekali (dalam permintaannya)." (QS. Al-Isra: 10-11)
Ayat 10 melanjutkan dengan kontras yang jelas. Jika orang beriman dijanjikan pahala besar, maka orang yang mengingkari Hari Akhir akan menghadapi azab yang pedih. Ayat 11 memberikan gambaran psikologis manusia. Manusia cenderung tergesa-gesa dalam meminta hal yang cepat tampak (seperti kesenangan duniawi/keburukan), namun lalai dalam meminta hal yang kekal (kebaikan akhirat). Sifat tergesa-gesa ini sering kali menjerumuskan mereka pada pilihan yang keliru.
Refleksi:
Ayat ini mengingatkan kita agar dalam berdoa dan bertindak, kita harus menimbang antara kepentingan sesaat (dunia) dan kepentingan abadi (akhirat). Kecepatan keinginan duniawi sering menutupi kebijaksanaan jangka panjang.
"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu dapat mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Dan segala sesuatu telah Kami jelaskan dengan sejelas-jelasnya." (QS. Al-Isra: 12)
"Dan setiap manusia telah Kami kalungkan nasibnya (catatan amal perbuatannya) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka." (QS. Al-Isra: 13)
Ayat 12 membahas keteraturan alam semesta sebagai manifestasi kekuasaan dan rahmat Allah. Pergantian siang dan malam bukan hanya fenomena fisik, tetapi juga alat ukur waktu bagi manusia untuk beribadah dan mencari rezeki. Keteraturan ini memastikan adanya kepastian waktu, yang kemudian dilanjutkan dengan kepastian perhitungan amal di ayat 13.
Ayat 13 adalah pengingat kuat tentang tanggung jawab individu. 'Kalungan nasib' (atau catatan amal) menunjukkan bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, tercatat dan akan dipertanggungjawabkan secara pribadi. Tidak ada yang terlewat. Kitab yang terbuka di Hari Kiamat adalah bukti nyata pertanggungjawaban tersebut.
"(Dikatakan kepada orang tersebut): 'Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai seorang yang memperhitungkan dosamu sendiri.' (QS. Al-Isra: 14)"
"Barangsiapa mendapat petunjuk, maka (petunjuk) itu untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tersesat, maka (kesesatan) itu atas dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan mengazab sesuatu kaum sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isra: 15)
Ayat 14 menggambarkan momen puncak akuntabilitas. Ketika kitab amal diserahkan, manusia tidak bisa lagi berdalih. Ia harus membacanya sendiri; cukup ia menjadi saksi atas perbuatannya sendiri. Ini menegaskan prinsip keadilan mutlak dalam Islam.
Puncak dari bagian ini adalah ayat 15, yang menetapkan dua prinsip fundamental: 1) Prinsip Otonomi Pertanggungjawaban Individu: Setiap orang memetik buah dari pilihannya sendiri, baik hidayah maupun kesesatan. 2) Prinsip Keadilan Sebelum Hukuman: Allah tidak pernah menghukum suatu kaum tanpa terlebih dahulu mengirimkan peringatan melalui rasul atau utusan-Nya. Ini menghilangkan alasan bagi mereka yang menolak kebenaran setelah petunjuk disampaikan dengan jelas.
Rangkaian Al-Isra ayat 9 hingga 15 menyajikan sebuah peta jalan spiritual yang lengkap. Dimulai dengan janji bagi yang taat (Ayat 9), dilanjutkan dengan peringatan bagi yang lalai dan sifat tergesa-gesa manusia (Ayat 10-11). Kemudian, Allah mengingatkan tentang keteraturan alam sebagai sarana ibadah dan perhitungan (Ayat 12), menegaskan bahwa setiap amal dicatat (Ayat 13), dan diakhiri dengan ketetapan bahwa perhitungan amal adalah urusan pribadi yang adil dan berdasarkan bukti risalah (Ayat 14-15). Memahami ayat-ayat ini mendorong seorang mukmin untuk hidup dengan kesadaran penuh akan konsekuensi setiap tindakan.