Air Raksa (Merkuri): Logam Berbahaya dengan Penggunaan Khusus

Hg

Air raksa, yang juga dikenal dengan nama merkuri (Hg), adalah unsur kimia yang memiliki karakteristik unik. Ia merupakan satu-satunya logam yang berwujud cair pada suhu dan tekanan standar. Penampilan fisiknya yang berkilauan seperti perak menjadikannya menarik perhatian sejak zaman kuno. Namun, di balik penampilannya yang memukau, air raksa menyimpan bahaya laten yang signifikan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Memahami sifat, penggunaan, serta risikonya adalah kunci untuk menanganinya dengan bijak.

Apa itu Air Raksa (Merkuri)?

Merkuri adalah unsur kimia dengan nomor atom 80 dan simbol Hg. Ia termasuk dalam golongan logam transisi dan memiliki sifat-sifat yang berbeda dari kebanyakan logam lainnya. Sifat yang paling menonjol adalah wujudnya yang cair pada suhu kamar, dengan titik lebur -38.83 °C dan titik didih 356.73 °C. Merkuri memiliki kepadatan yang tinggi dan dapat membentuk amalgam, yaitu campuran dengan logam lain, seperti emas, perak, dan timah.

Merkuri secara alami ditemukan di kerak bumi, seringkali dalam bentuk mineral sinabar (mercuric sulfide). Ia dapat dilepaskan ke lingkungan melalui proses geologis alami seperti vulkanisme, maupun melalui aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, penambangan emas, dan proses industri. Bentuk merkuri yang paling beracun adalah metilmerkuri, yang terbentuk ketika merkuri anorganik bersentuhan dengan mikroorganisme di lingkungan perairan.

Penggunaan Air Raksa (Merkuri)

Meskipun berbahaya, air raksa pernah memiliki berbagai aplikasi penting dalam kehidupan sehari-hari dan industri. Beberapa penggunaan historis dan sebagian yang masih ada di wilayah tertentu meliputi:

Bahaya Merkuri bagi Kesehatan

Merkuri dan senyawanya sangat beracun dan dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, terutama jika terpapar dalam jangka waktu lama atau dalam dosis tinggi. Bahaya utamanya terletak pada kemampuannya untuk merusak sistem saraf pusat.

Paparan merkuri dapat terjadi melalui:

Gejala keracunan merkuri bervariasi tergantung pada jenis dan tingkat paparan, namun bisa meliputi:

Dampak Lingkungan

Merkuri yang dilepaskan ke lingkungan dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama. Ia dapat menguap ke atmosfer, kemudian jatuh kembali ke daratan atau perairan melalui presipitasi. Di perairan, merkuri dapat diubah oleh bakteri menjadi metilmerkuri yang sangat beracun dan terakumulasi dalam organisme air. Hal ini menyebabkan bioakumulasi dan biomagnifikasi di sepanjang rantai makanan, mengancam satwa liar dan manusia yang mengonsumsi produk perairan tersebut.

Penanganan dan Penggantian

Menyadari bahaya merkuri, banyak negara telah mengeluarkan peraturan ketat untuk membatasi penggunaannya. Perjanjian internasional seperti Konvensi Minamata tentang Merkuri bertujuan untuk mengurangi dan mengendalikan emisi dan pelepasan merkuri dari berbagai sumber.

Saat ini, banyak produk yang dulunya menggunakan merkuri telah beralih ke alternatif yang lebih aman. Termometer digital atau termometer alkohol menggantikan termometer merkuri. Lampu LED menawarkan efisiensi energi yang lebih baik dan tidak mengandung merkuri. Untuk dental amalgam, berbagai bahan komposit dan keramik kini tersedia sebagai pengganti.

Meskipun begitu, merkuri masih digunakan dalam aplikasi tertentu, terutama di negara-negara berkembang atau dalam skala kecil untuk tujuan penelitian dan industri. Penanganan limbah yang mengandung merkuri harus dilakukan dengan sangat hati-hati sesuai dengan prosedur yang ditetapkan untuk mencegah kontaminasi lebih lanjut. Jika Anda menemukan termometer merkuri pecah, jangan panik, tetapi segera ikuti panduan pembersihan yang aman yang biasanya tersedia dari otoritas kesehatan lingkungan setempat.

🏠 Homepage