Benalu, seringkali dipandang sebelah mata sebagai parasit pengganggu di alam, menyimpan kompleksitas biologis yang luar biasa. Tumbuhan ini (dari famili Santalaceae, seperti Viscum atau Loranthus) tidak memiliki akar sejati yang menancap di tanah. Sebaliknya, seluruh eksistensinya bergantung pada inangnya, sebuah hubungan yang diikat oleh struktur khusus yang disebut haustorium—akar modifikasi yang menjadi kunci dari kehidupan benalu. Memahami akar benalu berarti memahami strategi bertahan hidup yang ekstrem di dunia tumbuhan.
Konsep "akar benalu" sebenarnya mengacu pada haustorium. Haustorium adalah organ penyerap yang dibentuk oleh tunas benalu setelah berkecambah pada permukaan kulit batang pohon inang. Fase awal ini sangat kritis. Setelah menempel, benalu mengeluarkan enzim untuk melunakkan jaringan korteks inang, memungkinkan haustorium menembus masuk.
Setelah menembus, ujung haustorium akan menyebar dan bersambung dengan sistem vaskular (pembuluh xilem dan floem) pohon inang. Inilah inti dari parasitasi: benalu secara paksa menyerap air, mineral, dan terutama nutrisi organik (gula) yang telah diproduksi oleh inang melalui fotosintesis. Benalu adalah tumbuhan autotrof parsial—ia bisa berfotosintesis, tetapi kebutuhannya akan air dan nutrisi esensial dipenuhi dari 'pencurian' langsung dari inangnya.
Dampak keberadaan benalu bervariasi, tergantung pada jenis benalu, jumlah infestasi, dan kondisi kesehatan inang. Pada tingkat ringan, pohon mungkin hanya mengalami penurunan sedikit pada laju pertumbuhan. Namun, infestasi parah membawa konsekuensi serius.
Secara visual, cabang yang ditumbuhi benalu akan tampak bengkak atau mengalami pertumbuhan abnormal (disebut 'witch's broom'). Secara fisiologis, penyerapan air dan nutrisi secara masif dapat menyebabkan stres dehidrasi kronis dan kekurangan energi pada inang, membuatnya lebih rentan terhadap penyakit lain, serangan serangga, atau bahkan kegagalan struktural. Batang yang terinfeksi parah juga memiliki titik lemah yang mudah patah saat terjadi angin kencang.
Terlepas dari sifat parasitnya, akar dan bagian lain dari benalu (terutama spesies tertentu seperti Mistletoe Eropa, Viscum album) telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai budaya. Di beberapa tradisi Asia, ekstrak benalu dipercaya memiliki khasiat diuretik, penurun tekanan darah, dan bahkan sifat anti-tumor.
Penelitian modern telah mulai menyelidiki senyawa bioaktif dalam benalu, seperti flavonoid dan alkaloid. Beberapa studi menunjukkan potensi aktivitas antioksidan dan imunomodulator. Namun, penting untuk diingat bahwa konsumsi benalu liar tanpa pengawasan profesional sangat berbahaya, karena banyak spesies benalu yang beracun bagi manusia.
Karena benalu tidak memiliki akar di tanah, metode pengendalian konvensional (seperti mencabut atau menyiram herbisida ke pangkal) tidak efektif. Pengendalian yang paling efektif adalah melalui pemangkasan mekanis. Pemangkasan harus dilakukan sedekat mungkin dengan titik masuk haustorium ke batang inang. Jika potongan dilakukan terlalu jauh dari inang, benalu dapat beregenerasi dari sisa haustorium yang tertanam.
Dalam kasus pohon besar atau pohon bernilai ekologis tinggi, terkadang diperlukan pemantauan rutin. Tujuan manajemen bukanlah menghilangkan semua benalu secara total—yang mungkin mustahil—melainkan menjaga populasinya pada tingkat yang tidak mengancam viabilitas dan kesehatan struktural pohon inang. Strategi pencegahan juga melibatkan pemangkasan pohon inang secara teratur untuk meningkatkan sirkulasi udara dan mengurangi stres, sehingga pohon lebih kuat melawan serangan awal benalu.
Pada akhirnya, akar benalu adalah studi kasus luar biasa tentang adaptasi dalam ekologi. Ia adalah pengingat bahwa di alam, garis antara simbiosis mutualisme dan parasitisme seringkali sangat tipis, bergantung pada seberapa seimbang pertukaran sumber daya terjadi antara dua organisme yang hidup berdampingan.