Representasi visual dari pohon beringin dan akarnya.
Pohon beringin (Ficus benghalensis) lebih dari sekadar spesies tanaman; ia adalah simbol keteduhan, keabadian, dan seringkali pusat spiritualitas dalam banyak budaya, terutama di Asia. Keunikan utama yang membedakannya dari pohon lain adalah sistem akarnya yang luar biasa: akar gantung atau yang dikenal sebagai akar udara. Fenomena alam ini tidak hanya mempesona secara visual tetapi juga memiliki peran ekologis dan bahkan mitologis yang mendalam.
Akar beringin yang paling terkenal adalah akar udara yang menjulur dari cabang-cabang horizontal pohon. Awalnya, akar-akar ini terlihat seperti sulur tipis yang menggantung di udara. Namun, ketika akar-akar ini berhasil mencapai tanah, mereka akan mengeras, menebal, dan tumbuh menjadi batang sekunder yang kokoh. Proses ini memungkinkan pohon beringin untuk menyebar secara lateral, menciptakan hutan kecil dari satu individu pohon induk. Dalam beberapa kasus, satu pohon beringin dapat menaungi area seluas beberapa hektar, didukung oleh ribuan akar yang telah menjadi tiang penyangga.
Secara biologi, akar udara berfungsi ganda. Fungsi utamanya adalah untuk memberikan dukungan struktural tambahan. Seiring bertambahnya usia pohon beringin, cabang-cabangnya memanjang dan menjadi berat. Akar udara ini bertindak sebagai penopang alami, mencegah cabang patah akibat beban atau angin kencang. Selain itu, akar ini juga berperan dalam penyerapan nutrisi dan air dari tanah setelah mereka menancap, memperkuat sistem perakaran keseluruhan pohon.
Dalam ekosistem hutan, akar beringin memainkan peran vital. Pohon yang didukung oleh jaringan akar udara yang padat menciptakan habitat mikro yang unik. Area di bawah kanopi beringin yang luas seringkali menjadi tempat berlindung bagi berbagai jenis fauna, mulai dari serangga hingga mamalia kecil. Jaringan akar yang tersebar luas membantu menstabilkan tanah, mengurangi erosi, terutama di daerah yang rentan terhadap limpasan air hujan. Selain itu, struktur akar yang rumit menyediakan tempat berlindung dan berkembang biak bagi banyak organisme tanah.
Pertumbuhan akar yang agresif ini juga memiliki sisi lain. Ketika akar-akar tersebut menembus struktur buatan manusia—seperti fondasi bangunan, jalan, atau pipa air—mereka dapat menyebabkan kerusakan signifikan. Oleh karena itu, penempatan pohon beringin di area urban harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati untuk menghindari konflik antara kekuatan alam dan infrastruktur buatan manusia.
Di banyak tradisi, beringin sering dikaitkan dengan pengetahuan dan umur panjang. Di India, pohon ini dianggap suci dan merupakan tempat meditasi bagi banyak pertapa dan filosof. Konon, Siddhartha Gautama mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi, yang merupakan spesies kerabat dekat beringin. Kehadiran akar-akar yang turun dan seolah-olah menyatu kembali dengan bumi memberikan simbolisme siklus kehidupan, regenerasi, dan hubungan yang tak terputus antara langit dan bumi.
Di Indonesia, pohon beringin sering ditanam di dekat alun-alun alun atau tempat pemujaan tradisional. Akar gantungnya dipercaya menjadi tempat bersemayamnya roh leluhur atau entitas gaib lainnya. Kesejukan dan keagungan pohon ini secara alami menarik rasa hormat, menjadikannya titik fokus komunitas dan tempat pertemuan sosial. Cerita rakyat seringkali mengaitkan kekuatan mistis pada inti batang atau akar tertua pohon beringin.
Daya tahan akar beringin terhadap kondisi lingkungan yang keras adalah salah satu alasan utama mengapa pohon ini bisa hidup hingga ratusan tahun. Mereka dapat beradaptasi dengan berbagai jenis tanah dan iklim. Namun, untuk memastikan pohon tetap sehat dan akarnya berfungsi optimal—baik sebagai penopang maupun sebagai penyerap—perawatan yang tepat tetap diperlukan. Pemantauan rutin terhadap pertumbuhan akar yang terlalu dekat dengan bangunan vital adalah langkah pencegahan yang krusial. Melalui pemahaman yang lebih baik tentang biologi dan peran budaya akar beringin, kita dapat menghargai warisan alam yang luar biasa ini.