Jahe (Zingiber officinale) adalah tanaman rimpang yang sangat populer dalam kuliner dan pengobatan tradisional di seluruh dunia. Ketika kita berbicara tentang bagian yang kita panen dari tanaman jahe, kita sebenarnya merujuk pada rizomnya—batang bawah tanah yang termodifikasi. Dalam konteks botani dan pertanian, sering muncul pertanyaan mengenai struktur akar jahe: apakah lebih cenderung memiliki akar serabut atau akar tunggang?
Untuk menjawab ini, kita perlu memahami karakteristik dasar dari sistem perakaran. Dalam botani, akar dibagi menjadi dua tipe utama berdasarkan perkembangannya. Jahe, sebagai anggota famili Zingiberaceae, memiliki pola pertumbuhan yang sangat khas yang secara langsung mempengaruhi bagaimana rimpangnya terbentuk dan apa yang secara teknis kita sebut sebagai struktur pendukungnya.
Secara teknis, bagian jahe yang kita konsumsi dan tanam kembali bukanlah akar primer, melainkan **rimpang (rhizome)**. Rimpang adalah batang termodifikasi yang tumbuh secara horizontal di bawah permukaan tanah. Rimpang ini berfungsi sebagai organ penyimpanan nutrisi dan juga sebagai organ reproduksi vegetatif.
Namun, dari rimpang inilah tumbuh akar-akar kecil yang berfungsi menyerap air dan nutrisi dari tanah. Inilah yang seringkali disalahartikan atau dikategorikan sebagai akar serabut atau tunggang.
Meskipun istilah 'akar tunggang jahe' jarang digunakan secara akurat dalam literatur pertanian, membandingkan karakteristik kedua tipe akar ini membantu menjelaskan struktur akar yang sebenarnya dimiliki jahe.
Sistem akar serabut terdiri dari banyak akar kecil yang bercabang-cabang dan memiliki ukuran yang relatif seragam, tumbuh dari pangkal batang. Tidak ada satu akar utama yang dominan.
Akar tunggang dicirikan oleh adanya satu akar utama yang tebal dan tumbuh lurus ke bawah (akar primer), dari mana akar-akar lateral (sekunder) yang lebih kecil akan tumbuh menyamping.
Fakta bahwa jahe berkembang dengan sistem akar serabut-like yang menyebar dari rimpang sangat penting dalam praktik budidaya.
Karena penyerapan nutrisi terutama terjadi di zona dangkal tempat rimpang berada, petani harus memastikan bahwa pengairan dan pemupukan difokuskan pada kedalaman tanam rimpang. Jika sistem akarnya tunggang, fokus penyerapan akan berada jauh di bawah permukaan.
Selain itu, ketika panen tiba, memudahkan pencabutan atau penggalian rimpang menjadi lebih mudah karena tidak ada akar tunggang yang menancap kuat ke lapisan tanah yang lebih dalam. Rimpang jahe cenderung menyebar horizontal, bukan vertikal menembus lapisan tanah keras.
Meskipun secara botani kita berbicara tentang akar adventif yang berasal dari rimpang (batang), secara morfologis, jaringan akar yang terbentuk dari jahe lebih mirip dengan **sistem akar serabut**. Tidak ada struktur akar tunggang primer yang dominan pada tanaman jahe. Sistem perakaran ini mendukung gaya hidup tanaman yang menyukai tanah gembur, lembab, dan memiliki drainase yang baik, memungkinkan rimpang berkembang secara optimal di dekat permukaan tanah.
Memahami bahwa jahe memiliki pola akar serabut-like membantu petani dalam menentukan metode irigasi yang paling efektif untuk memaksimalkan hasil panen rimpang yang kita kenal dan cintai.