Ilustrasi sederhana dari akar ubi yang bernutrisi.
Ketika berbicara tentang umbi-umbian, singkong atau ubi jalar sering kali mendominasi percakapan kuliner dan pertanian. Namun, seringkali kita melupakan bagian penting dari tanaman tersebut yang menyimpan potensi nutrisi luar biasa: **akar ubi**. Akar ubi, terutama dari varietas tertentu, bukan hanya sekadar jangkar tanaman di dalam tanah, melainkan juga sumber karbohidrat kompleks, serat pangan, dan berbagai mikronutrien yang esensial bagi tubuh manusia.
Di berbagai belahan dunia, akar ubi telah lama menjadi bahan pokok, dihargai karena kemampuannya memberikan energi berkelanjutan. Berbeda dengan umbi yang lebih populer, penyiapan akar ubi memerlukan pemrosesan yang tepat untuk menghilangkan senyawa alami yang mungkin kurang baik jika dikonsumsi mentah. Namun, setelah diolah dengan benar—baik direbus, dikukus, atau difermentasi—akar ubi bertransformasi menjadi makanan yang aman, lezat, dan sangat bermanfaat.
Mengapa akar ubi layak mendapatkan perhatian lebih? Jawabannya terletak pada profil nutrisinya yang mengesankan. Akar ini kaya akan pati resisten, sejenis karbohidrat yang berfungsi mirip serat larut. Pati resisten ini sangat penting karena dapat melewati lambung dan usus kecil tanpa dicerna sepenuhnya, langsung menuju usus besar di mana ia menjadi makanan bagi bakteri baik.
Peningkatan kesehatan mikrobiota usus adalah manfaat utama yang didapat dari konsumsi akar ubi secara teratur. Usus yang sehat berkorelasi langsung dengan peningkatan sistem kekebalan tubuh, penyerapan nutrisi yang lebih baik, bahkan dapat memengaruhi suasana hati. Selain itu, kandungan serat yang tinggi membantu mengatur kadar gula darah, menjadikannya pilihan yang lebih stabil dibandingkan karbohidrat sederhana.
Penggunaan akar ubi melampaui sekadar sumber kalori. Dalam masakan tradisional, akar ubi sering diolah menjadi tepung atau digunakan sebagai bahan pengental alami. Tepung akar ubi, misalnya, digunakan untuk membuat kue-kue tradisional yang memiliki tekstur kenyal yang unik—sesuatu yang sulit dicapai hanya dengan tepung terigu. Tekstur ini disebabkan oleh struktur pati yang berbeda, memberikan sensasi 'chewy' yang sangat disukai dalam banyak hidangan Asia Tenggara.
Proses pengolahan menjadi kunci. Beberapa jenis akar ubi harus melalui proses perendaman atau fermentasi untuk menghilangkan sianida atau senyawa antinutrisi lainnya. Setelah proses pembersihan ini selesai, akar ubi siap untuk dimasak. Direbus hingga empuk, kemudian disajikan dengan sedikit garam dan taburan kelapa parut, akar ubi menjadi camilan sederhana namun memuaskan. Bahkan, ada inovasi modern yang mengolah akar ubi menjadi keripik atau bahan baku alternatif dalam pembuatan bir karena kandungan gulanya yang spesifik setelah melalui proses hidrolisis.
Meskipun potensinya besar, budidaya akar ubi seringkali terpinggirkan karena umbi utamanya (singkong atau ubi jalar) dianggap lebih ekonomis dan mudah dipanen. Tantangan utama adalah standardisasi pengolahan. Tanpa prosedur yang baku untuk menghilangkan toksin alami, konsumen mungkin enggan mengadopsinya secara massal.
Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan pangan fungsional, permintaan untuk akar ubi sebagai sumber prebiotik alami terus meningkat. Inovasi dalam teknologi pengeringan dan penggilingan membuka peluang untuk menciptakan produk turunan bernilai tambah tinggi, seperti bubuk protein nabati atau suplemen serat alami. Mengintegrasikan akar ubi ke dalam rantai pasok pangan modern tidak hanya meningkatkan diversifikasi tanaman pangan tetapi juga menawarkan alternatif sehat bagi mereka yang mencari sumber karbohidrat dengan indeks glikemik yang lebih terkontrol. Dengan penelitian lebih lanjut dan edukasi yang tepat kepada masyarakat, akar ubi dapat segera naik kelas dari sekadar produk sampingan menjadi bintang di meja makan.