Menggali Hikmah dari Surah Al-Isra

Al-Isra: Cahaya Malam

Ilustrasi simbolis perjalanan Isra' Mi'raj yang menjadi inti penamaan surah ini.

Surah Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu permata dalam Al-Qur'an yang menyimpan segudang hikmah, pelajaran moral, dan mukjizat kenabian. Surah ke-17 ini dibuka dengan sebuah peristiwa monumental yang mengukuhkan kedudukan Nabi Muhammad SAW, yaitu perjalanan malam luar biasa yang dikenal sebagai Isra' (perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa).

Keajaiban Isra' dan Kedudukan Masjid Al-Aqsa

Ayat pembuka Surah Al-Isra (ayat 1) menegaskan kesucian Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari. Peristiwa Isra' ini adalah mukjizat fisik yang menegaskan kebenaran risalah Nabi. Perjalanan ini tidak hanya membawa Nabi secara fisik, tetapi juga memberikan konteks historis dan spiritual mendalam terkait Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa). Surah ini mengingatkan bahwa pusat-pusat ibadah yang diberkahi adalah milik umat Islam, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat selanjutnya mengenai warisan para nabi terdahulu.

Peringatan Terhadap Kehancuran Umat Terdahulu

Sebagian besar isi Surah Al-Isra berfungsi sebagai peringatan keras berdasarkan kisah Bani Israil (Israel). Allah SWT memberikan gambaran detail mengenai bagaimana umat terdahulu jatuh dalam kesesatan setelah menerima nikmat besar. Ayat-ayat ini menyoroti kegagalan mereka dalam menjaga perjanjian ilahi, menyalahgunakan kebebasan yang diberikan, dan sifat pembangkangan mereka terhadap petunjuk para nabi. Kisah kehancuran mereka ini menjadi cermin bagi umat Islam agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, terutama dalam hal syirik, menumpuk harta tanpa berbagi, dan bersikap sombong.

Etika Sosial dan Moralitas

Salah satu inti ajaran Surah Al-Isra terletak pada penekanan etika sosial yang sangat tinggi. Ayat 23 hingga 39 memuat serangkaian perintah dan larangan yang membentuk fondasi akhlak mulia dalam Islam. Di antaranya adalah larangan berkata "ah" kepada orang tua, larangan membunuh anak karena takut kemiskinan (sebuah praktik yang umum di masa Jahiliyah), larangan mendekati zina, serta perintah untuk menunaikan janji dan berlaku adil dalam timbangan.

Perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua diletakkan hampir setara dengan perintah untuk mentauhidkan Allah. Ini menunjukkan betapa pentingnya penghormatan terhadap orang tua dalam struktur sosial Islam. Selain itu, surah ini juga melarang pemborosan (israf) dan mengajarkan sikap moderat dalam membelanjakan harta, mengingatkan bahwa pemboros adalah saudara setan.

Batasan Keilmuan Manusia

Di tengah pembahasan mengenai mukjizat dan hukum, Surah Al-Isra juga memberikan pelajaran filosofis tentang keterbatasan ilmu manusia. Ketika kaum musyrik meminta mukjizat yang lebih besar atau menanyakan tentang ruh, Allah SWT menjawab dengan tegas melalui ayat 85: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit sekali.'"

Ayat ini adalah pengingat abadi bahwa meskipun manusia telah diberi akal dan wahyu, ada dimensi-dimensi alam gaib yang hanya berada dalam genggaman dan pengetahuan mutlak Allah SWT. Kepercayaan dan penyerahan diri adalah jalan terbaik ketika berhadapan dengan misteri yang tidak terjangkau oleh indra dan nalar manusia.

Kesimpulan

Surah Al-Isra adalah kompendium ajaran yang mencakup akidah (tauhid), sejarah kenabian, etika individual, dan prinsip-prinsip tata kelola sosial. Dengan merenungkan kisah-kisah Bani Israil dan mengikuti panduan moral yang disajikan, umat Islam didorong untuk menjaga integritas diri, menghormati hak-hak sesama, dan selalu menyadari bahwa setiap perbuatan, baik besar maupun kecil, dicatat dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Maha Kuasa.

🏠 Homepage