Dalam konteks sosial dan moralitas, dua konsep yang sering kali menjadi landasan utama pembentukan karakter individu adalah akhlak dan budi pekerti. Meskipun sering digunakan secara bergantian, keduanya memiliki nuansa makna yang saling melengkapi. Akhlak, yang seringkali bersumber dari nilai-nilai spiritual atau etika mendasar, merujuk pada disposisi batiniah seseorangābagaimana watak dasar dan prinsip moralnya tertanam dalam diri. Ini adalah kompas internal yang mengarahkan tindakan seseorang, bahkan saat tidak ada yang melihat.
Sementara itu, budi pekerti lebih menonjolkan manifestasi lahiriah dari akhlak tersebut dalam interaksi sosial sehari-hari. Budi pekerti adalah cerminan nyata dari kebaikan hati; ia termanifestasi dalam kesopanan, rasa hormat, empati, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Seseorang yang memiliki budi pekerti luhur akan selalu berusaha menjaga perasaan orang lain dan bertindak sesuai norma-norma kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat. Keduanya, akhlak (internal) dan budi pekerti (eksternal), harus berjalan beriringan untuk menciptakan individu yang utuh dan bermartabat.
Di tengah arus modernisasi dan kecepatan informasi, pembentukan karakter melalui penanaman akhlak dan budi pekerti menjadi semakin krusial. Masyarakat yang sehat dibentuk oleh warganya yang berintegritas. Tanpa fondasi moral yang kuat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hanya akan menjadi alat yang kehilangan arah tujuan yang benar. Pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab institusi formal seperti sekolah, tetapi dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Orang tua berperan sebagai model utama, di mana perilaku mereka menjadi acuan utama bagi anak-anak.
Melatih budi pekerti berarti mengajarkan tindakan nyata: cara meminta maaf dengan tulus, cara menghargai perbedaan pendapat, dan pentingnya menepati janji. Ini adalah soft skill yang tak ternilai harganya. Ketika akhlak seseorang ditegakkan, maka otomatis budi pekertinya akan terpancar dalam setiap perbuatannya. Sebagai contoh, kejujuran (akhlak) akan memicu tindakan untuk tidak menyontek saat ujian atau mengembalikan barang yang ditemukan (budi pekerti). Keseimbangan inilah yang melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga bijaksana secara moral.
Pengaruh akhlak dan budi pekerti terasa dalam setiap lapisan masyarakat. Dalam dunia kerja, etos kerja yang didasari integritas (akhlak) akan menghasilkan kinerja yang dapat dipercaya. Di ranah publik, kepemimpinan yang berlandaskan moralitas akan mampu memimpin dengan adil dan melayani, bukan menindas. Ketika terjadi konflik, kemampuan untuk berempati dan mendengarkan (budi pekerti) menjadi kunci penyelesaian yang damai.
Fenomena degradasi moral yang terkadang kita saksikan seringkali berakar pada pengabaian terhadap penanaman nilai-nilai luhur ini sejak dini. Masyarakat perlu terus diingatkan bahwa kekayaan materi tidak akan pernah bisa menggantikan martabat yang dibangun dari akhlak dan budi pekerti yang baik. Investasi terbaik yang dapat dilakukan oleh sebuah bangsa adalah pada pembentukan generasi penerus yang memiliki hati nurani yang tajam dan perilaku yang terpuji. Mempraktikkan nilai-nilai ini bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah seni hidup yang membawa kedamaian bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Hal ini menuntut refleksi diri yang berkelanjutan dan komitmen untuk terus memperbaiki diri setiap hari.
Pada akhirnya, kemajuan sejati sebuah peradaban diukur bukan dari seberapa tinggi gedungnya, melainkan dari seberapa baik moralitas warganya.