Ilustrasi Dua Jalan Kehidupan Gambar abstrak menunjukkan dua jalur; satu terang (melambangkan ketaatan) dan satu gelap (melambangkan kesyirikan). Ketaatan Kesyirikan Pilihlah Jalanmu

Memahami Larangan Syirik dalam Surat Al-Isra Ayat 22

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan hikmah dan tuntunan moral. Salah satu ayat yang paling fundamental dalam menetapkan prinsip keimanan adalah ayat ke-22. Ayat ini secara tegas melarang praktik syirik (menyekutukan Allah SWT) dan menekankan pentingnya tauhid murni sebagai landasan utama hubungan seorang hamba dengan Penciptanya.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 22

لَّا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولًا

"Janganlah kamu jadikan bersama Allah tuhan yang lain, maka kamu akan menjadi tercela dan terhina." (QS. Al-Isra: 22)

Peringatan Keras Tentang Tauhid

Ayat ini dimulai dengan larangan yang sangat lugas dan tegas: "Janganlah kamu jadikan bersama Allah tuhan yang lain." Dalam ajaran Islam, tauhid (mengesakan Allah) adalah pondasi segala amalan. Syirik adalah dosa yang tidak terampuni jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan melakukannya tanpa sempat bertaubat. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa segala bentuk pemujaan, permohonan pertolongan, ketergantungan, atau penyerahan diri harus ditujukan hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

Ketika seseorang melakukan perbuatan syirik—misalnya, meminta keberuntungan kepada selain Allah, menyandarkan nasib kepada benda-benda mati, atau meyakini bahwa ada entitas lain yang memiliki kuasa setara dengan Allah dalam penciptaan atau pengaturan alam—maka konsekuensi langsungnya dijelaskan dalam kelanjutan ayat tersebut.

Konsekuensi Dunia dan Akhirat: Tercela dan Terhina

Allah SWT tidak hanya menyebutkan ancaman di akhirat, tetapi juga dampak negatif yang segera terasa di dunia: "maka kamu akan menjadi tercela dan terhina." Kata "tercela" (مَذْمُومًا / madzmūman) merujuk pada kondisi dicela, dikutuk, atau dinilai buruk oleh Allah dan para malaikat-Nya, serta kehilangan keberkahan. Sementara itu, kata "terhina" (مَّخْذُولًا / makhdhūlan) berarti ditinggalkan, ditelantarkan, dan tidak mendapatkan pertolongan.

Secara psikologis, orang yang menyekutukan Allah sering kali hidup dalam kegelisahan. Ketergantungan mereka terpecah-pecah pada banyak sumber yang pada hakikatnya lemah dan tidak berdaya. Mereka sibuk mengejar bayangan ilah-ilah palsu yang tidak akan pernah bisa memberikan kepastian atau ketenangan sejati. Sebaliknya, orang yang bertauhid hanya bergantung pada Zat Yang Maha Kuat dan Maha Mengetahui, sehingga hati mereka menjadi tenang dan terhormat di hadapan-Nya.

Keutamaan Hidup dalam Ketaatan Penuh

Memahami ayat ini secara mendalam mendorong kita untuk segera introspeksi. Jika larangan syirik membawa pada kehinaan, maka ketaatan penuh pada tauhid akan membawa pada keagungan.

Keagungan yang dijanjikan bukanlah kemuliaan duniawi semata, melainkan kemuliaan hakiki. Dengan hanya menjadikan Allah sebagai Ilah satu-satunya, seorang Muslim mendapatkan hak istimewa untuk didukung dan ditolong oleh Allah dalam setiap urusannya. Hidup yang didasari tauhid akan terasa ringan, karena segala kesulitan diserahkan kepada Pemilik Segala Kekuatan. Rasa aman yang muncul dari keyakinan bahwa tidak ada yang bisa menolak ketetapan-Nya, dan tidak ada yang bisa menolong jika Ia telah memutuskan untuk menelantarkan, adalah kedamaian spiritual tertinggi.

Oleh karena itu, Al-Isra ayat 22 bukan sekadar larangan ibadah, tetapi sebuah cetak biru untuk mencapai martabat tertinggi seorang manusia. Ia mengingatkan kita bahwa jalan kemuliaan adalah jalan yang murni, bebas dari kontaminasi penyekutuan sekecil apa pun, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun keyakinan hati. Kita diajak untuk memilih jalur yang tegak lurus, yang hanya menuju kepada satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Ini adalah panggilan untuk menjaga kemurnian iman agar kita tidak menjadi tercela dan terhina di hadapan Allah SWT.

🏠 Homepage