Ilustrasi: Rasa hormat seorang murid kepada gurunya.
Dalam lintasan peradaban manusia, peran guru senantiasa berada di garis depan sebagai pilar utama transmisi ilmu pengetahuan, etika, dan karakter. Seorang guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran; mereka adalah teladan hidup yang membentuk cara pandang dan masa depan didiknya. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya **akhlak kepada guru** sebagai cerminan dari kualitas keimanan dan pemahaman seseorang terhadap ilmu yang diterimanya.
Menghormati guru adalah bagian integral dari proses mencari ilmu yang berkah. Tanpa adab yang baik, ilmu yang diperoleh seringkali sulit meresap, atau bahkan hilang seiring waktu. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang disertai dengan adab. Adab dalam konteks ini mencakup segala bentuk perilaku baik yang ditujukan kepada sosok pendidik.
Guru sering disamakan kedudukannya dengan orang tua karena mereka berperan dalam "melahirkan" kecerdasan dan kesadaran spiritual murid. Orang tua melahirkan secara fisik, sementara guru melahirkan potensi intelektual dan spiritual. Dalam ajaran Islam, menghormati orang tua adalah perintah wajib, dan menghormati guru berada dalam spektrum penghormatan yang hampir setara, terutama karena guru adalah wasilah (perantara) datangnya ilmu dari Allah SWT melalui perantara manusia.
Kewajiban ini mencakup pengakuan tulus atas jasa-jasa mereka. Mereka telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mencerdaskan kita. Mengingat pengorbanan ini secara otomatis menumbuhkan rasa rendah hati dan rasa terima kasih, yang merupakan akar dari segala akhlak yang baik.
Bagaimana seharusnya akhlak kepada guru itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Penerapannya sangat luas, melampaui sekadar ucapan "assalamu'alaikum" atau "terima kasih." Berikut adalah beberapa manifestasi penting dari akhlak yang baik terhadap guru:
Ketika seorang pencari ilmu berhasil memadukan antara ketekunan belajar dan adab yang tinggi kepada gurunya, hasilnya akan sangat signifikan. Ilmu tersebut akan menjadi ilmu yang barakah. Keberkahan ini termanifestasi dalam berbagai cara: kemudahan dalam memahami materi sulit, daya ingat yang kuat, dan yang terpenting, kemampuan untuk memanfaatkan ilmu tersebut demi kemaslahatan umat.
Sebaliknya, ilmu yang diperoleh dengan cara meremehkan atau menyakiti hati guru, meskipun mungkin secara akademis tinggi, berpotensi menjadi ilmu yang menyusahkan. Ilmu tanpa adab seringkali membawa kesombongan intelektual, yang justru menjadi penghalang utama menuju kebenaran hakiki. Oleh karena itu, nasihat bijak mengatakan: "Hormati gurumu, agar ilmumu dihormati oleh Allah."
Kesimpulannya, membangun akhlak mulia kepada guru bukanlah sekadar formalitas sosial, melainkan sebuah kewajiban spiritual dan prasyarat mutlak untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah. Menghormati mereka adalah menghormati sumber cahaya yang telah menerangi jalan kita menuju masa depan yang lebih baik.