Akhlak Mahmudah dan Mazmumah: Panduan Berdasarkan Dalil
Pengantar Akhlak dalam Islam
Akhlak adalah inti dari ajaran Islam yang membedakan seorang Muslim sejati. Secara etimologis, akhlak (أخلاق) adalah bentuk jamak dari kata khuluq (خلق) yang berarti watak, tabiat, atau perangai. Dalam konteks Islam, akhlak merujuk pada perilaku, sikap, dan karakter seseorang yang termanifestasi dalam interaksi dengan Allah SWT, sesama manusia, dan alam semesta.
Pembahasan mengenai akhlak terbagi menjadi dua kategori besar: Akhlak Mahmudah (akhlak terpuji) dan Akhlak Mazmumah (akhlak tercela). Kualitas akhlak seseorang akan menentukan derajat keimanannya di hadapan Allah. Rasulullah SAW bersabda bahwa misi utama beliau diutus ke dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.
Menjauhi yang tercela dan mendekati yang terpuji adalah upaya spiritual berkelanjutan yang memerlukan mujahadah (perjuangan) dan muhasabah (introspeksi) diri.
I. Akhlak Mahmudah (Akhlak Terpuji)
Akhlak Mahmudah adalah sifat-sifat mulia yang dianjurkan oleh syariat Islam karena membawa kebaikan dunia dan akhirat. Kualitas ini merupakan buah dari keimanan yang kokoh.
Contoh Akhlak Mahmudah dan Dalilnya:
Shiddiq (Jujur): Selalu berkata benar dalam setiap keadaan, baik ucapan maupun perbuatan.
Dalil Al-Qur'an: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkatalah perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzab: 70)
Amanah (Dapat Dipercaya): Menjaga titipan, menunaikan janji, dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipercayakan kepadanya.
Dalil Hadis: "Tidak ada iman bagi orang yang tidak memegang amanah." (HR. Ahmad)
Sabar (Kesabaran): Mampu menahan diri dari keluh kesah saat menghadapi cobaan dan melaksanakan ketaatan.
Dalil Al-Qur'an: "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)
Syukur (Rasa Terima Kasih): Mengakui nikmat Allah dan menampakkannya melalui lisan, hati, dan perbuatan.
Dalil Al-Qur'an: "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ibrahim: 34)
Tawadhu' (Rendah Hati): Bersikap rendah diri di hadapan Allah dan tidak menyombongkan diri di hadapan manusia.
Dalil Hadis: "Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan meninggikannya." (HR. Muslim)
II. Akhlak Mazmumah (Akhlak Tercela)
Akhlak Mazmumah adalah sifat-sifat buruk yang harus dihindari dan diberantas dari diri karena dapat merusak hubungan dengan Tuhan dan sesama, serta mendatangkan kerugian spiritual.
Contoh Akhlak Mazmumah dan Dalilnya:
Kibr (Sombong): Merasa lebih tinggi dan memandang rendah orang lain, serta menolak kebenaran.
Dalil Hadis: "Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim)
Hasad (Dengki): Iri hati terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain dan mengharapkan hilangnya nikmat tersebut.
Dalil Hadis: "Jauhilah hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)
Ghibah (Membicarakan Kejelekan Orang Lain): Menyebutkan hal-hal yang tidak disukai tentang seseorang di belakangnya, meskipun itu benar.
Dalil Al-Qur'an: "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik..." (QS. Al-Hujurat: 12)
Tamak (Serakah): Keinginan berlebihan untuk memiliki harta dunia tanpa rasa puas.
Dalil Hadis: "Seandainya anak Adam memiliki dua lembah penuh harta, ia pasti menginginkan lembah yang ketiga." (HR. Bukhari dan Muslim)
Riya' (Pamer): Melakukan amal ibadah dengan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan karena mencari ridha Allah.
Dalil Hadis Qudsi: Allah berfirman, "Aku adalah yang paling kaya dan tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan dengan menyekutukan-Ku bersama selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan perbuatannya itu." (HR. Muslim)
Penutup: Pentingnya Istiqamah
Membedakan dan mengamalkan akhlak mahmudah serta menjauhi akhlak mazmumah bukanlah sekadar teori, melainkan sebuah proses pembiasaan diri (riyadhah an-nafs). Islam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.
Rasulullah SAW telah menjadi uswatun hasanah (teladan yang baik). Kunci untuk mencapai kesempurnaan akhlak adalah dengan senantiasa memohon pertolongan Allah melalui doa agar hati kita ditetapkan di atas kebaikan, sebagaimana doa yang sering beliau panjatkan: "Ya Muqallibal Qulub, Tsabbit Qalbi 'ala Dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu). Upaya pembersihan jiwa ini harus dilakukan secara konsisten hingga akhir hayat.