Ilustrasi: Membangun citra diri yang positif.
Dalam ajaran moral dan etika, kita seringkali disorot tentang pentingnya memiliki akhlak mahmudah (akhlak terpuji) dalam berinteraksi dengan orang lain, seperti jujur, sabar, dan dermawan. Namun, fondasi dari semua kebaikan luar adalah bagaimana kita memperlakukan dan membangun diri kita sendiri. Inilah yang disebut dengan akhlak mahmudah kepada diri sendiri.
Memiliki akhlak terpuji terhadap diri sendiri berarti menempatkan diri pada posisi yang layak dihargai, dirawat, dan dikembangkan secara spiritual, mental, maupun fisik. Ini bukanlah bentuk egoisme, melainkan prasyarat agar kita mampu memberikan manfaat optimal kepada lingkungan sekitar. Tanpa fondasi diri yang kuat dan terpuji, upaya berbuat baik kepada orang lain seringkali rapuh atau tidak berkelanjutan.
Akhlak mahmudah kepada diri sendiri mencakup berbagai aspek perilaku dan cara pandang. Berikut adalah beberapa pilar utama yang perlu kita perhatikan:
Harga diri adalah kesadaran intrinsik bahwa kita diciptakan dengan tujuan mulia. Seseorang dengan akhlak mahmudah terhadap dirinya tidak akan merendahkan dirinya dengan melakukan hal-hal yang merusak kehormatan atau menjerumuskan diri pada kehinaan. Ini melibatkan penolakan terhadap perilaku yang merugikan, meski dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Menjaga akhlak mahmudah kepada diri sendiri dimulai dari menolak godaan untuk berbuat maksiat, bahkan saat tidak ada pengawasan manusia.
Alih-alih bersikap stagnan, akhlak terpuji menuntut kita untuk terus berkembang. Ini mencakup upaya keras dalam menuntut ilmu, meningkatkan keterampilan, dan memperbaiki kualitas ibadah. Kegagalan tidak dilihat sebagai akhir, tetapi sebagai kesempatan untuk belajar dan bangkit kembali. Sikap ini menumbuhkan mentalitas pejuang yang tidak mudah menyerah pada tantangan hidup.
Tubuh dan pikiran adalah amanah. Memelihara kesehatan fisik dengan pola makan seimbang, istirahat yang cukup, dan olahraga merupakan bagian integral dari akhlak terpuji terhadap diri sendiri. Sama pentingnya adalah menjaga kesehatan mental. Ini berarti kita harus mampu mengelola stres, menghindari kecemasan berlebihan, dan membangun ketenangan batin melalui refleksi dan syukur.
Bagaimana kita bisa jujur pada orang lain jika kita tidak jujur pada diri sendiri? Kejujuran pada diri sendiri berarti mengakui kelemahan, kesalahan, dan batasan tanpa mencari pembenaran atau menyalahkan pihak luar. Setelah mengakui, langkah selanjutnya adalah mengambil tanggung jawab penuh (akuntabilitas) untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Ini adalah wujud integritas yang paling mendasar.
Ketika seseorang berhasil menerapkan akhlak mahmudah kepada diri sendiri, dampaknya akan meluas ke segala lini kehidupan. Pertama, tercipta ketenangan batin. Diri yang terawat secara moral cenderung lebih damai karena tidak dibebani oleh rasa bersalah atau penyesalan yang tidak diatasi.
Kedua, peningkatan kepercayaan diri yang sehat. Kepercayaan diri ini bukan muncul dari kesombongan, melainkan dari kesadaran bahwa kita sedang berusaha keras untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Ketiga, hubungan sosial menjadi lebih harmonis. Orang yang menghargai dirinya sendiri akan lebih mampu menghargai orang lain, sehingga interaksi yang terjadi didasari oleh rasa hormat, bukan oleh kebutuhan untuk validasi eksternal.
Intinya, membangun akhlak terpuji terhadap diri sendiri adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan terlihat dalam bentuk karakter yang kuat, hidup yang bermakna, dan kontribusi positif bagi masyarakat. Ini adalah fondasi spiritual yang harus diletakkan sebelum kita berani mengklaim telah memiliki akhlak yang luhur secara menyeluruh.