Memahami Surat Al-Isra Melalui Tafsir Ibnu Katsir

الْإِسْرَاء

Tafsir Ibnu Katsir adalah salah satu karya tafsir klasik yang paling dihormati dan banyak dirujuk dalam dunia Islam. Imam Al-Hafizh Imaduddin Abul Fida' Ismail bin Katsir (Ibnu Katsir) menyusun karyanya ini dengan metodologi yang kuat, mengandalkan pendekatan tafsir bil-ma’thur, yaitu penafsiran Al-Qur'an dengan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan atsar para sahabat. Salah satu surat yang kaya akan kisah dan pelajaran mendalam adalah Surat Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Bani Israil), yang menjadi sorotan penting dalam kajian tafsir ini.

Surat Al-Isra, yang merupakan surat ke-17 dalam mushaf Al-Qur'an, dibuka dengan ayat yang sangat monumental, yaitu kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir memberikan penjelasan rinci mengenai perjalanan agung ini. Beliau mengutip berbagai hadis sahih dan riwayat yang mendukung keabsahan peristiwa tersebut, membedah maknanya, serta menempatkannya dalam konteks kenabian dan keesaan Allah SWT. Bagi Ibnu Katsir, Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga manifestasi kekuasaan Allah dan penguatan status kenabian Rasulullah di hadapan umat manusia.

Kisah Bani Israil dan Peringatan Sejarah

Pelajaran dari Kehancuran Umat Terdahulu

Setelah membahas Isra Mi'raj, fokus surat beralih pada sejarah Bani Israil. Ibnu Katsir secara cermat memaparkan ayat-ayat yang menceritakan tentang nikmat yang diberikan Allah kepada mereka, sifat-sifat mereka yang ingkar setelah mendapatkan kemuliaan, serta kehancuran yang menimpa mereka akibat pelanggaran batas (tafwit). Tafsir ini sangat menekankan pelajaran moral dan historis: bahwa nikmat Allah akan dicabut jika hamba-Nya melupakan syukur dan tenggelam dalam kedurhakaan.

Salah satu poin penting yang disorot dalam Tafsir Ibnu Katsir terkait Surat Al-Isra adalah ayat tentang larangan berbuat kerusakan di muka bumi. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kerusakan ini mencakup segala bentuk kezaliman, kesyirikan, penumpahan darah tanpa hak, dan kerusakan moral lainnya. Peringatan ini relevan bagi setiap generasi umat Islam, termasuk umat Nabi Muhammad SAW, sebagai pengingat akan pentingnya menjaga ketertiban sosial dan spiritual.

Etika Sosial dan Akhlak Mulia

Panduan Interaksi dalam Kehidupan

Surat Al-Isra juga memuat serangkaian perintah dan larangan yang membentuk etika sosial Islam. Ayat-ayat mengenai birrul walidain (berbakti kepada orang tua) mendapatkan porsi pembahasan mendalam dari Ibnu Katsir. Beliau menekankan bahwa berbakti kepada kedua orang tua harus dilakukan dengan penuh penghormatan, bahkan ketika mereka telah lanjut usia dan mungkin bersikap menyusahkan. Larangan berkata "ah" atau membentak menjadi landasan utama dalam adab pergaulan orang tua dan anak.

Selain itu, surat ini membahas tentang keadilan dalam bermuamalah. Ayat yang melarang mendekati zina, perintah menunaikan janji, dan menjaga timbangan dagangan merupakan pilar-pilar pondasi masyarakat yang saleh. Ketika menafsirkan bagian ini, Ibnu Katsir sering mengaitkannya dengan hadis-hadis Nabi yang memperkuat perintah tersebut, menunjukkan betapa integralnya ajaran moral Al-Qur'an dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Kedudukan Al-Qur'an dan Kedekatan dengan Allah

Ajaran Tentang Tauhid dan Wahyu

Ibnu Katsir juga menyoroti ayat-ayat yang menegaskan kemahaesaan Allah dan kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu terakhir. Pembahasan mengenai sifat-sifat Allah dan bantahan terhadap klaim-klaim kesyirikan menjadi bagian tak terpisahkan. Ketika membahas ayat yang menjelaskan tentang penciptaan, Ibnu Katsir kembali merujuk pada ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai kekuasaan Sang Pencipta.

Secara keseluruhan, Tafsir Ibnu Katsir terhadap Surat Al-Isra memberikan wawasan yang kaya, menggabungkan narasi historis yang kuat, prinsip-prinsip akidah yang teguh, serta pedoman akhlak yang praktis. Pembaca diajak untuk merenungkan perjalanan spiritual Nabi, mengambil ibrah dari kisah umat terdahulu, dan mengaplikasikan etika mulia dalam interaksi sosial mereka. Ini menjadikan tafsir surat ini sebuah bacaan esensial bagi siapa pun yang ingin mendalami makna tersembunyi dari ayat-ayat Al-Isra.

🏠 Homepage