Memahami QS Al-Isra Ayat 111

Pengantar Ayat Agung

Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, membawa banyak pelajaran penting bagi umat Islam. Di antara ayat-ayatnya yang mendalam, ayat ke-111 menempati posisi signifikan sebagai penutup pembahasan mengenai keesaan Allah SWT dan tuntunan hidup. Ayat ini memberikan ringkasan penting tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin bersikap dalam menghadapi Allah, yaitu dengan mengakui kebesaran-Nya dan menjauhi kesyirikan dalam segala bentuknya.

QS Al-Isra ayat 111 merupakan penutup yang kuat, menekankan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan hanya kepada-Nya kita harus kembali memohon pertolongan dan pengakuan atas semua sifat keagungan.

Teks dan Terjemahan QS Al-Isra Ayat 111

وَقُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ وَلِىٌّ مِّنَ ٱلذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
"Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak mempunyai sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, dan Dia tidak memerlukan penolong (untuk memelihara) karena kerendahan-Nya' dan bertasbihlah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya dengan pengagungan yang sebesar-besarnya." (QS. Al-Isra: 111)

Ayat ini mengandung tiga inti perintah utama yang harus diresapi oleh setiap Muslim: mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), penegasan tauhid secara mutlak, dan perintah untuk bertakbir (mengagungkan Allah) dengan takbir yang sempurna.

Analisis Kandungan: Tiga Pilar Ketauhidan

1. Penolakan terhadap Konsep Anak Allah

Bagian pertama ayat ini menegaskan penolakan keras terhadap segala bentuk anggapan bahwa Allah memiliki anak atau keturunan. Dalam konteks sejarah turunnya Al-Qur'an, ini adalah bantahan tegas terhadap anggapan kaum musyrik Mekkah dan juga keyakinan dari beberapa kelompok agama lain yang mengklaim memiliki hubungan khusus dengan Tuhan. Keesaan Allah (Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah) menuntut pemahaman bahwa Allah Maha Esa, tidak beranak, dan tidak diperanakkan.

2. Penegasan Ketiadaan Sekutu dalam Kerajaan-Nya

Frasa "وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ" (dan tidak mempunyai sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya) menekankan bahwa kedaulatan, kekuasaan, penciptaan, dan pengaturan alam semesta sepenuhnya berada di tangan Allah. Tidak ada dewa lain, tidak ada entitas lain yang berhak ikut serta dalam pengelolaan alam semesta. Ini adalah puncak dari penegasan keesaan Allah dalam aspek kekuasaan (Rububiyyah).

3. Penolakan terhadap Ketergantungan Allah (Waliy)

Ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah tidak membutuhkan penolong dari kalangan yang lemah ("وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ وَلِىٌّ مِّنَ ٱلذُّلِّ"). Kata 'dzull' (kerendahan/kelemahan) menunjukkan bahwa Allah tidak bergantung pada siapapun. Berbeda dengan makhluk fana yang mungkin membutuhkan pelindung atau penolong karena kelemahan mereka, Allah adalah Al-Ghani (Maha Kaya) dan Al-Qawiy (Maha Kuat). Ini menegaskan kemandirian-Nya yang sempurna.

Perintah Mengagungkan (Takbir)

Setelah menegaskan keagungan dan keesaan-Nya melalui negasi terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan kesempurnaan-Nya, ayat ini ditutup dengan perintah yang sangat penting: "وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا" (dan bertasbihlah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya dengan pengagungan yang sebesar-besarnya).

Perintah "takbir" di sini berarti membesarkan Allah, mengakui kebesaran-Nya melebihi apapun yang bisa dibayangkan oleh akal manusia. Takbir ini harus dilakukan dengan penuh penghayatan, bukan sekadar ucapan di lisan. Pengagungan ini harus mencakup semua aspek kehidupan, memastikan bahwa setiap pujian dan pemujaan hanya tertuju kepada Zat Yang Maha Agung ini, sesuai dengan pemahaman yang telah dibangun dari tiga poin sebelumnya. Dengan demikian, QS Al-Isra 111 berfungsi sebagai fondasi untuk praktik ibadah yang murni dan tauhid yang kokoh.

Ilustrasi Simbolis Tauhid dan Keagungan Allah الله Puji & Agungkan
🏠 Homepage