Kata "akhlak" merupakan salah satu konsep fundamental dalam ajaran Islam yang memiliki cakupan makna sangat luas, seringkali diterjemahkan sebagai moral, etika, atau budi pekerti. Namun, untuk memahami kedalaman maknanya, penting untuk menelusuri akar katanya melalui kajian etimologi, yaitu ilmu yang mempelajari asal usul kata. Memahami etimologi akhlak membantu kita mengurai makna dasarnya sebelum masuk ke dalam definisi teologis atau filosofisnya yang lebih kompleks.
Secara etimologis, kata akhlak (الْأَخْلَاق) merupakan bentuk jamak (plural) dari kata benda tunggal dalam bahasa Arab, yaitu khuluq (الْخُلُق). Kata khuluq sendiri berasal dari akar kata triliteral خ ل ق (Kh-L-Q). Akar kata ini sangat kaya makna dalam bahasa Arab, di mana makna dasarnya secara umum berkisar pada sesuatu yang diciptakan, dibentuk, atau dijadikan.
Beberapa turunan lain dari akar kata yang sama termasuk khalq (خَلْق) yang berarti 'ciptaan' atau 'penciptaan' (seperti dalam konteks penciptaan alam semesta), dan khaliq (خَالِق) yang berarti 'Pencipta' (Allah SWT). Ketika akar kata ini digunakan dalam konteks khuluq atau akhlak, ia merujuk pada 'bentuk' atau 'rupa' yang melekat pada sesuatu atau seseorang.
Menurut pakar bahasa Arab klasik, makna literal dari khuluq adalah:
Perbedaan penting antara akhlak dan khalq terletak pada fokusnya. Khalq cenderung merujuk pada aspek fisik atau penciptaan yang kasat mata. Sementara itu, akhlak (bentuk jamak dari khuluq) secara progresif dalam penggunaan bahasa dan kemudian dalam terminologi Islam, beralih makna untuk lebih menekankan pada dimensi karakter internal, sifat batiniah, dan perilaku yang termanifestasi dari sifat tersebut.
Para ulama sepakat bahwa ketika kata ini digunakan dalam pembahasan moral, akhlak merujuk pada keadaan jiwa yang menetap dalam diri seseorang, yang darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan tanpa perlu dipikirkan secara mendalam terlebih dahulu. Jika keadaan jiwa tersebut menghasilkan perbuatan baik, maka ia disebut akhlak mahmudah (akhlak terpuji). Sebaliknya, jika menghasilkan perbuatan buruk, disebut akhlak madzmumah (akhlak tercela).
Meskipun akhlak sering diterjemahkan sebagai etika atau moralitas, pemahaman etimologis menunjukkan adanya nuansa perbedaan. Etika (dari bahasa Yunani ethos yang juga berarti watak atau kebiasaan) dan moralitas lebih sering merujuk pada seperangkat prinsip atau standar perilaku yang diterima oleh masyarakat atau filsafat tertentu.
Namun, akhlak, berakar pada kata Arab yang terkait dengan 'penciptaan', menyiratkan bahwa karakter tersebut adalah hasil dari proses pembentukan dan penataan—baik melalui fitrah bawaan maupun melalui proses tarbiyah (pendidikan) dan mujahadah (perjuangan melawan hawa nafsu). Ini menekankan bahwa akhlak bukanlah sekadar kepatuhan terhadap aturan eksternal, melainkan pembentukan kualitas internal yang kemudian memancar keluar menjadi tindakan. Jadi, akhlak secara etimologis menyoroti aspek kualitas diri yang dibentuk, bukan sekadar aturan perilaku yang diikuti. Ini menegaskan bahwa akhlak adalah identitas yang terwujud.
Menggali akhlak secara etimologi dari akar kata khuluq (bentuk jamak: akhlak) membawa kita pada pemahaman bahwa ia bermakna 'sifat bawaan' atau 'bentuk yang telah terbentuk'. Hal ini sangat selaras dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan makarimul akhlaq (kemuliaan akhlak). Penyempurnaan ini berarti memoles bentuk karakter yang sudah ada, membentuknya dari keadaan mentah menjadi keadaan yang paling mulia dan terpuji. Dengan demikian, akhlak adalah fondasi karakter sejati yang tertanam dalam diri seseorang.